Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Cholesterol Granuloma Sinus Etmoid Wirattami, Ayunita Tri; Suheryanto, Rus
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 1: March 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Cholesterol Granuloma biasanya dikaitkan dengan penyakit telinga tengah kronis dan sering terjadi pada sel mastoid dan kavum timpani. Cholesterol Granuloma adalah reaksi benda asing yang terjadi di jaringan mukosa diakibatkan oleh pengendapan kristal kolesterol, dan ditandai dengan giant cell, makrofag, dan hemosiderin dalam histologinya. Tujuan: menganalisa faktor-faktor yang turut berperan dalam pembentukan Cholesterol Granuloma dan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk menyingkirkan diagnosis banding, serta tatalaksana yang dapat dilakukan. Kasus: Perempuan usia 63 tahun, datang dengan keluhan mata kanan kabur. Pasien mengeluh mata kanan kabur sejak kurang lebih 1 tahun lalu. Tidak didapatkan keluhan THT CT Scan dan MRI tampak adanya lesi pada sinus etmoid kanan yang meluas hingga kavum orbita kanan. Diskusi: Kasus ini didapatkan hasil histopatologi yang sesuai dengan gambaran Cholesterol Granuloma yaitu didapatkan potongan jaringan ikat dengan sebaran sel-sel radang limfosit, histiosit. Tampak fokusfokus kartilago dan trabekula tulang, yang kemungkinan adalah bagian dari pengambilan jaringan saat operasi. Tampak pula cholesterol cleft, dengan hemosiderin, makrofag dan pembuluh-pembuluh limfatik dilatasi. Tatalaksana untuk Cholesterol Granuloma adalah bedah reseksi. Endoscopy sinus surgery telah menggantikan tindakan yang tradisional menggunakan pendekatan eksternal dengan keberhasilan yang sebanding.
HUBUNGAN RINITIS ALERGI DENGAN OTITIS MEDIA EFUSI Ghutama, Bio Swadi; Maharani, Iriana; Wirattami, Ayunita Tri
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rinitis alergi (RA) adalah masalah kesehatan global yang memengaruhi 10-25% populasi dunia, menyebabkan morbiditas signifikan. Gejala umum meliputi bersin, hidung tersumbat, dan rinorea. RA sering dikaitkan dengan otitis media efusi (OME), kondisi cairan di telinga tengah tanpa infeksi akut, yang merupakan penyebab umum gangguan pendengaran pada anak. Deteksi dini gangguan telinga tengah terkait RA penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang. Tujuan: Makalah ini bertujuan memahami hubungan kausal antara rinitis alergi dan otitis media efusi, serta meninjau strategi penatalaksanaan kedua kondisi tersebut. Diskusi: RA adalah penyakit inflamasi yang dimediasi IgE, dengan prevalensi meningkat secara global. Patofisiologinya melibatkan reaksi alergi fase cepat dan lambat. Penatalaksanaan RA meliputi penghindaran alergen, farmakoterapi (antihistamin, kortikosteroid intranasal), dan imunoterapi. OME bersifat multifaktorial, dengan faktor risiko seperti disfungsi tuba Eustachius, rinitis kronis, dan alergi. Reaksi alergi dapat memicu OME melalui edema tuba Eustachius dan peningkatan sekresi mukosa telinga tengah. Penanganan RA yang efektif krusial untuk mencegah OME. Kesimpulan: RA dan OME adalah kondisi umum dengan hubungan kompleks. Pemahaman lebih lanjut tentang hubungan kausal dan strategi pengobatan optimal sangat penting untuk meningkatkan hasil pasien, terutama pada populasi anak.
Upaya Pencegahan bagi Pasien dengan Rinitis Alergi: A Systematic Review Djatioetomo, Yudha Adi Pradana; Maharani, Iriana; Wirattami, Ayunita Tri
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 5 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis pada mukosa hidung yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE) dan ditandai dengan gejala rinore, bersin, pruritus, dan obstruksi hidung. Penyakit ini memiliki prevalensi tinggi secara global dan dapat menurunkan kualitas hidup serta berhubungan dengan penyakit saluran napas lain seperti asma. Upaya pencegahan menjadi penting untuk mengurangi morbiditas dan mencegah progresivitas penyakit, namun efektivitas berbagai strategi pencegahan masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Tujuan: Meninjau secara sistematis bukti ilmiah mengenai berbagai strategi pencegahan pada pasien dengan rinitis alergi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain systematic review dengan pendekatan PRISMA. Pencarian literatur dilakukan pada beberapa basis data ilmiah menggunakan kata kunci terkait rinitis alergi dan pencegahan. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan menggunakan kerangka PICO. Kualitas metodologis studi dinilai menggunakan Newcastle-Ottawa Scale, kemudian data diekstraksi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil: Berbagai strategi pencegahan rinitis alergi yang ditemukan meliputi pengendalian alergen lingkungan, penggunaan penjernih udara, intervensi nutrisi seperti probiotik dan pola diet tertentu, praktik menyusui dan pengenalan makanan pada anak, serta allergen immunotherapy (AIT). Dari berbagai intervensi tersebut, imunoterapi alergen menunjukkan potensi paling kuat dalam memodifikasi perjalanan alami penyakit, sementara intervensi lain seperti kontrol lingkungan dan suplementasi nutrisi menunjukkan hasil yang bervariasi antar penelitian. Kesimpulan: Upaya pencegahan rinitis alergi melibatkan pendekatan multifaktorial yang mencakup pengendalian lingkungan, intervensi nutrisi, serta imunoterapi alergen. Imunoterapi alergen merupakan strategi yang paling konsisten menunjukkan manfaat dalam memodifikasi perjalanan penyakit, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memperkuat bukti terkait strategi pencegahan lainnya.