Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN RINITIS ALERGI DENGAN OTITIS MEDIA EFUSI Ghutama, Bio Swadi; Maharani, Iriana; Wirattami, Ayunita Tri
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rinitis alergi (RA) adalah masalah kesehatan global yang memengaruhi 10-25% populasi dunia, menyebabkan morbiditas signifikan. Gejala umum meliputi bersin, hidung tersumbat, dan rinorea. RA sering dikaitkan dengan otitis media efusi (OME), kondisi cairan di telinga tengah tanpa infeksi akut, yang merupakan penyebab umum gangguan pendengaran pada anak. Deteksi dini gangguan telinga tengah terkait RA penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang. Tujuan: Makalah ini bertujuan memahami hubungan kausal antara rinitis alergi dan otitis media efusi, serta meninjau strategi penatalaksanaan kedua kondisi tersebut. Diskusi: RA adalah penyakit inflamasi yang dimediasi IgE, dengan prevalensi meningkat secara global. Patofisiologinya melibatkan reaksi alergi fase cepat dan lambat. Penatalaksanaan RA meliputi penghindaran alergen, farmakoterapi (antihistamin, kortikosteroid intranasal), dan imunoterapi. OME bersifat multifaktorial, dengan faktor risiko seperti disfungsi tuba Eustachius, rinitis kronis, dan alergi. Reaksi alergi dapat memicu OME melalui edema tuba Eustachius dan peningkatan sekresi mukosa telinga tengah. Penanganan RA yang efektif krusial untuk mencegah OME. Kesimpulan: RA dan OME adalah kondisi umum dengan hubungan kompleks. Pemahaman lebih lanjut tentang hubungan kausal dan strategi pengobatan optimal sangat penting untuk meningkatkan hasil pasien, terutama pada populasi anak.
Laporan Kasus Neuroma Akustik Ghutama, Bio Swadi; Putri, Meyrna Heryaning
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 5 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Neuroma akustik (vestibular schwannoma) adalah tumor jinak yang berkembang pada sudut cerebellopontin (CPA) dari sel schwann, sering menyebabkan gangguan pendengaran, tinitus, dan vertigo. Tumor ini dapat menekan batang otak dan saraf kranial, mengakibatkan gangguan neurologis. Penanganan melibatkan observasi, pembedahan, atau radioterapi. Tujuan: Penulisan ini bertujuan melaporkan kasus neuroma akustik dengan gejala pendengaran progresif, vertigo, dan tinitus, serta menilai terapi yang diberikan, termasuk penggunaan MRI sebagai alat diagnostik utama. Laporan Kasus: Seorang wanita 42 tahun mengeluh gangguan pendengaran progresif di telinga kiri selama enam bulan, disertai pusing berputar dan tinitus. Pemeriksaan MRI menunjukkan massa padat di CPA kiri yang dicurigai sebagai neuroma akustik. Audiometri dan ABR mengonfirmasi gangguan pendengaran sensorineural berat di telinga kiri. Pasien diberi pengobatan dengan betahistine dan obat-obatan pendukung. Meskipun pendengaran menurun, terapi efektif mengontrol gejala vertigo dan tinitus. Telaah Pustaka: Berdasarkan literatur, diagnosis neuroma akustik umumnya menggunakan MRI dengan gadolinium sebagai standar emas, sementara audiometri membantu menilai fungsi pendengaran. Literatur menunjukkan bahwa pengobatan konservatif lebih disarankan pada neuroma kecil, sedangkan tumor yang lebih besar memerlukan tindakan pembedahan atau radioterapi. Hasil: Neuroma akustik dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan cepat. Pengobatan yang tepat dapat mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Pemantauan berkala dengan MRI penting untuk mengawasi perkembangan tumor. Kesimpulan: Neuroma akustik memerlukan diagnosis dini dan penanganan yang cermat untuk mencegah komplikasi serius. MRI dan audiometri adalah kunci dalam diagnosis dan pemantauan.