Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFEKTIVITAS PEMBERIAN TERAPI OKUPASI: MEMAKAI SEPATU TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK AUTIS DI SLB KARYA ILAHI MAUMERE AHAD, FEBRIYANTI; LADAPASE, EPIFANIA MARGARETA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4444

Abstract

Wearing shoes is a simple activity for children, but for children with autism, the activity of wearing shoes becomes a difficult challenge because it requires good motor coordination and understanding of instructions. This study aims to assess the effectiveness of occupational therapy to wear shoes independently, with a focus on independent ability in SLB Karya Ilahi Maumere. The subject in this study was a child with autism who showed difficulty in performing the activity of wearing shoes before intervention. The research method used is an experiment with a single subject or Single Subject Research (SSR). The research design pattern used in this study is A-B-A Design. The instrument in this study is an observation sheet that has been modified in accordance with the components of shoe-wearing skills that are in accordance with the abilities to be measured. The results showed that occupational therapy was effective in increasing children's independence, where before the intervention obtained 7 scores which meant that the child's independence was very low and after the intervention obtained 22 scores which meant that the child had high independence. This shows that occupational therapy as an intervention can support the development of autistic children's life skills, especially in the activity of wearing shoes independently. ABSTRAKMemakai sepatu merupakan aktivitas yang  sederhana bagi anak-anak, namun bagi anak yang mengalami autis, aktivitas memakai sepatu menjadi tantangan sulit karena membutuhkan koordinasi motorik maupun pemahaman instruksi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas terapi okupasi memakai sepatu secara mandiri, dengan fokus pada kemampuan secara mandiri di SLB Karya Ilahi Maumere. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang anak autis yang menunjukkan kesulitan dalam melakukan aktivitas memakai sepatu sebelum intervensi. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan subjek tunggal atau Single Subject Research (SSR). Adapun pola desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Desain A-B-A. Instrument dalam penelitian ini berupa lembar obsrevasi yang telah dimodifikasi sesuai dengan komponen keterampilan memakai sepatu yang sesuai dengan kemampuan yang akan diukur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi okupasi efektif dalam meningkatkan kemandirian anak, dimana sebelum diintervensi memperoleh 7 skor yang artinya kemandirian anak sangat rendah dan setelah diberikan intervensi memperoleh 22 skor yang berarti anak memiliki kemandirian tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa terapi okupasi sebagai intervensi dapat mendukung perkembangan keterampilan hidup anak autis, khususnya dalam kegiatan memakai sepatu secara mandiri.
PEMBERIAN KONSELING DENGAN PENDEKATAN CLIENT CENTERED THERAPY PADA KASUS PERNIKAHAN USIA DINI DI UNIT PELAKSANA TEKNIS DAERAH PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DI KABUPATEN SIKKA Shanputra, Gusti Agustinus Ama; Ladapase, Epifania Margareta; Gaharpung, Maria M.H.
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v5i1.6206

Abstract

Complex marital problems require interventions that focus on individual empowerment. This study aims to evaluate in depth the effectiveness of counseling with the Client-Centered Therapy (CCT) approach in handling marital cases at the Regional Technical Implementation Unit for the Protection of Women and Children (UPTD PPA) of Sikka Regency. This approach is based on the core principles of empathy, unconditional acceptance, and deep understanding, which view clients as whole individuals with the capacity to grow and make the best decisions for themselves. The counseling process focuses on building a safe and non-judgmental therapeutic relationship, so that clients can freely explore various complex feelings related to their marriage, such as inner conflict, disappointment in the relationship, or pressure from the environment. The results of the study indicate that the CCT approach is significantly effective in helping clients articulate their problems and find authentic solutions according to their values ??and needs. This contributes directly to improving emotional well-being, reducing stress levels, and strengthening clients' capacity to make wiser and more constructive decisions about the future of their relationship. ABSTRAKPermasalahan pernikahan yang kompleks menuntut intervensi yang berfokus pada pemberdayaan individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara mendalam efektivitas konseling dengan pendekatan Client-Centered Therapy (CCT) dalam menangani kasus-kasus pernikahan di Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Sikka. Pendekatan ini berlandaskan pada prinsip inti yaitu empati, penerimaan tanpa syarat, dan pemahaman mendalam, yang memandang klien sebagai individu utuh dengan kapasitas untuk bertumbuh dan mengambil keputusan terbaik bagi dirinya. Proses konseling difokuskan untuk membangun hubungan terapeutik yang aman dan non-judgmental, sehingga klien dapat secara bebas mengeksplorasi berbagai perasaan yang kompleks terkait pernikahannya, seperti konflik batin, kekecewaan dalam hubungan, atau tekanan dari lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan CCT secara signifikan efektif dalam membantu klien mengartikulasikan masalahnya dan menemukan solusi yang otentik sesuai dengan nilai serta kebutuhannya. Hal ini berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan emosional, penurunan tingkat stres, dan penguatan kapasitas klien untuk mengambil keputusan yang lebih bijak dan konstruktif mengenai masa depan hubungannya.