Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI AKTIVITAS DITIZON SEBAGAI PENGOMPLEKS ION Pb2+ MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis DAN SEMI EMPIRIS AM1 Palupi, Endah Sekar; Sulistyarti, Hermin; Abdjan, Muhammad Ikhlas; Putra, Chairil Anjasmara Robo
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v4i2.8647

Abstract

Environmental pollution is an influx of energy substances, living creatures, or other components into the environment so that the quality of the One type of pollutant is heavy metals lead (Pb). Pb of metal in irrigation found in the form of PbOH+, Pb2+, PBSO4, PbCO+, and PbHCO3. Lead can be analyzed using a UV-Vis spectrophotometer and test kit (colorimetry). The Test kit is created by adding a reagent to the sample so that there is a complex bond that occurs between the reagent and lead. The reagent often used in determining lead analysis is dithizone. Has been conducted to determine the activity of dithizone as a metal ion complex Pb+2 using spectrophotometry UV-Vis. Determination of the activity of dithizone in monomers and after forming complex indicates the concentration optimum of reagent dithizone in solvent 2-propanol is 60 ppm. Time measurement and optimum pH of Pb (II)-dithizone complex is 10 minutes in pH 4 for achieved complex stability. Geometry modeling and electronic transitions monomer Dithizone and Pb (II)-dithizone complex are performed in computing using semi-empirical AM1/SCF (ground state) and AM1/TD-SCF (excited state) methods. The results showed the total energy modeling dithizone: 0266 a.u and Pb (II)-dithizone: 1,125 a.u the ground state. The transition type in each molecule indicates the type of transition n → π ⃰ Orbital molecules involved in the excitation of the electron dithizone are HOMO-6/39, HOMO-2/43, HOMO/45, and LUMO/46. Meanwhile, the Pb (II)-Ditizon complex has 3 orbitals are HOMO-4/85, HOMO/89, and LUMO/90 involved.Keywords: Austin Model 1; Modeling; Pb (II)-Dithizone; UV-Vis Spectrophotometry ABSTRAK Pencemaran lingkungan merupakan masuknya zat, energi, makhluk hidup, atau komponen lain ke dalam lingkungan sehingga kualitas lingkungan turun hingga yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Salah satu jenis polutan adalah logam berat Timbal (Pb). Logam Pb diperairan ditemukan dalam bentuk PbOH+, Pb2+, PbSO4, PbCO+, dan PbHCO3. Timbal dapat dianalisis langsung menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan tes kit larutan (kolorimetri). Tes kit larutan dibuat dengan cara menambahkan suatu pereaksi pada sampel sehingga terbentuk adanya ikatan kompleks yang terjadi antara pereaksi dengan timbal. Pereaksi yang sering digunakan dalam penentuan analisis timbal yaitu ditizon. Telah dilakukan penentuan aktivitas ditizon sebagai pengompleks ion logam Pb+2 secara spektrofotometri UV-Vis. Hasil penentuan aktivitas ditizon dalam keadaan monomer dan sesudah membentuk kompleks menunjukan konsentrasi pereaski optimum ditizon, yaitu 60 ppm pada pelarut 2-propanol. Pengukuran waktu dan pH optimum pembentukan kompleks menunjukkan bahwa pada waktu 10 menit di pH 4 tercapainya kestabilan kompleks. Pemodelan geometri dan transisi elektronik monomer ditizon dan kompleks Pb(II)-ditizon dilakukan secara komputasi menggunakan metode semi empiris AM1/SCF (ground state) dan AM1/TD-SCF (excited state). Hasil menunjukan energi total pemodelan ditizon: 0.266 a.u dan Pb(II)-ditizon: 1.125 a.u pada ground state. Tipe transisi pada masing-masing molekul menunjukan tipe transisi n→π⃰ Orbital molekul yang terlibat dalam eksitasi elekteron ditizon, yaitu HOMO-6/39, HOMO-2/43, HOMO/45, dan LUMO/46. Sementara itu, kompleks Pb(II)-ditizon terdapat 3 orbital, yaitu HOMO-4/85, HOMO/89, dan LUMO/90 yang terlibat.
DEEP LEARNING IN FORENSIC ODONTOLOGY: A BIBLIOMETRIC ANALYSIS Endah Sekar Palupi; Anis En Nabiilah
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17923

Abstract

ABSTRACT Background: Forensic odontology supports human identification, age estimation, and disaster victim identification (DVI), yet conventional approaches can be affected by examiner subjectivity, population variability, and limitations in image/data quality. Bibliometrics is useful for mapping research patterns, collaboration, and thematic structures in rapidly growing fields. Deep learning is increasingly applied to dental imaging and forensic tasks. Objective: To map the research landscape of deep learning in forensic odontology using a bibliometric approach. Methods: Scopus-indexed publications (2005–2025) were retrieved using (“forensic odontology” OR “forensic dentistry” OR “dental identification”) AND (“deep learning” OR “artificial intelligence” OR “machine learning”). Data were analyzed in RStudio with bibliometrix/Biblioshiny to assess publication trends, leading sources, country contributions, author keywords, co-occurrence networks, and thematic mapping. Results: The search identified 171 documents from 89 journal sources involving 682 authors (mean 4.98 authors/document), with 23.39% international collaboration. A total of 391 author keywords were recorded; the mean document age was 2.03 years, with 16.54 citations per document and an annual growth rate of 21.02%. Publication output rose sharply after 2019, peaking in 2024–2025. Forensic Science International was the most productive source; country contributions were led by India, followed by Brazil and China. Thematic mapping positioned AI/deep learning as the methodological core, primarily linked to dental age estimation and identification using panoramic radiography/CBCT. Conclusion: Deep learning research in forensic odontology is expanding rapidly; future work should emphasize cross-population external validation and standardized data/protocols.Keywords : bibliometric, deep learning, forensic odontology ABSTRAK  Latar belakang: Odontologi forensik berperan dalam identifikasi individu, estimasi usia, dan konteks DVI, tetapi pendekatan konvensional masih dipengaruhi subjektivitas pemeriksa, variasi populasi, serta keterbatasan kualitas. Bibliometrik membantu memetakan pola, kolaborasi, dan struktur intelektual ketika literatur berkembang cepat. Deep learning saat ini makin luas digunakan untuk analisis citra dental dan aplikasi forensik. Tujuan: Menganalisis lanskap riset deep learning dalam odontologi forensik melalui pendekatan bibliometrik. Metode: Data diambil dari Scopus (2005–2025) menggunakan kunci (“forensic odontology” OR “forensic dentistry” OR “dental identification”) AND (“deep learning” OR “artificial intelligence” OR “machine learning”). Data dianalisis dengan RStudio menggunakan bibliometrix/Biblioshiny meliputi tren publikasi, sumber, negara, kata kunci, co-occurrence, dan thematic map. Hasil: Teridentifikasi 171 dokumen dari 89 sumber jurnal, melibatkan 682 penulis (rata-rata 4,98 penulis/dokumen) dengan 23,39% kolaborasi internasional. Terdapat 391 author keywords; usia dokumen rata-rata 2,03 tahun dengan sitasi rata-rata 16,54/dokumen serta pertumbuhan tahunan 21,02%. Produksi ilmiah meningkat tajam sejak 2019 dan mencapai puncak pada 2024–2025. Jurnal Forensic Science International menjadi sumber paling dominan, dan kontribusi negara dipimpin India, diikuti Brasil dan Tiongkok. Pemetaan tema menegaskan AI/deep learning sebagai pusat metodologis dengan fokus aplikasi utama pada estimasi usia gigi dan identifikasi berbasis radiografi panoramik/CBCT. Kesimpulan: Riset deep learning dalam odontologi forensik tumbuh pesat, namun penelitian selanjutnya perlu menekankan validasi eksternal lintas populasi, dan standardisasi data/protokol. Kata kunci : bibliometrik, deep learning, odontologi forensik