Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Profile of Antiviral and Antibiotic Prescribing in COVID-19 Patients in Bengkulu Indonesia Muslim, Zamharira; Deby, Kadek; Candrawati, Helena Julia; Jatiningsih, Setiyati
SANITAS: Jurnal Teknologi dan Seni Kesehatan Vol 15 No 1 (2024): SANITAS Volume 15 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36525/sanitas.2024.458

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19 ) is caused by the Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) virus and has a fast spread rate. The treatment for COVID-19 was at the beginning of the pandemic, and until now, it cannot be determined with certainty, so various efforts have been made. Treatment can be in the form of antiviral therapy until the use of antibiotics given at the start of the pandemic. The aim of this study is to identify antiviral and antibiotic use patterns in COVID-19 patients at a government hospital in Bengkulu City, Indonesia. This research was conducted by retrospective collection using secondary data (Medical Records) of COVID-19 patients hospitalized at a Regional General Hospital (RSUD) Dr M. Yunus Bengkulu from June to September 2021. In this study, a sample of 232 patient medical records was obtained. Common symptoms in confirmed COVID-19 patients were weakness (76.29%), cough (67.67%), shortness of breath (65.52%), flu (43.10%), fever (42.24%), etc. In this study, the most comorbid disease was hypertension (10.34%). There are three types of antiviral prescribed for COVID-19 patients: Favipiravir (49.56%), Remdesivir (19.82%), and Oseltamivir (15.51%), but 15.08% of patients were not prescribed antivirals. The prescription of antibiotics in this study varied, Azithromycin (53.02%), Ceftriaxone (24.57%), Cefixime (18.53%), and several other types of antibiotics, while 9.91% of patients were not given antibiotics. Antiviral therapy for COVID-19 patients was Favipiravir, Remdesivir, and Oseltamivir. Favipiravir is the most widely used antiviral drug. Meanwhile, the most widely used antibiotic therapy for COVID-19 patients is Azithromycin.
Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Gagal Jantung Di RSUD Dr. M.Yunus Kota Bengkulu Tahun 2023 Pudiarifanti, Nadia; Dona, AnggelaAprilia; Jatiningsih, Setiyati
Jurnal Akademi Farmasi Prayoga Vol 9 No 2 (2024): JURNAL AKADEMI FARMASI PRAYOGA
Publisher : Jurnal Akademi Farmasi Prayoga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Berdasarkan World Health Organization (WHO) sejak 20 tahun terakhir penyakit jantung menjadipeingkat pertama penyebab kematian diseluruh dunia. Penderita penyakit gagal jantung biasanya diresepkanlebih dari dua obat sehingga untuk terjadinya interaksi obat berpotensi sangat besar. Tujuan : Penelitian inibertujuan untuk mengetahui potensi interaksi obat pada pasien gagal jantung di RSUD Dr. M. Yunus Kota BengkuluTahun 2023.Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode retrospektif. Penelitian inidilakukan dengan cara mengumpulkan data rekam Medis pasien tahun 2023. Penetapan bear sampelmenggunakan metode purposive sampling sampel yang didapatkan pada penelitian ini sebanyak 103 sampel,kemudian dianalisis menggunakan microsoft excel.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 103 pasienditemukan paling banyak pada pasien dengan usia > 65 tahun (32,04%). Jenis kelamin yang paling banyak adalahlaki-laki sebanyak 77 pasien (74,76%). Untuk kombinasi obat paling banyak adalah golongan ACE-Inhibitor +Diuretik hemat kalium + Diuretik loop + Digoxin + Antikoagulan sebanyak 4 resep (3,88%). Kemudian ditemukan101 resep dari 103 resep mengalami interaksi obat. Mekanisme interaksi yang banyak ditemukan terjadi padamekanisme farmakodinamik (93,93%). Untuk kategori keparahan interaksi obat Minor (19 kasus), Monitor Closely(468 kasus), Serious-Use Alternative (7 kasus). Kesimpulan : Terdapat potensi interaksi obat pada pasien gagaljantung sebanyak 101 resep dari 103 resep dengan persentase sebesar 98,06 %.
FORMULASI SEDIAAN MASKER WAJAH GEL PELL OFF DARI EKSTRAK ETANOL KULIT JERUK NIPIS (Citrus Aurantiifolia Cortice) Karnelo, Rian; Pudiarifanti, Nadia; Jatiningsih, Setiyati
Jurnal Pharmacopoeia Vol 1 No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.814 KB) | DOI: 10.33088/jp.v1i1.138

Abstract

Latar belakang : Kulit wajah merupakan bagian penting dan mendapat perhatian lebih karena seringnya terpapar sinar ultraviolet, debu, polusi, radikal bebas bahkan sisa-sisa make up yang tidak terangkat dengan sempurna, sehingga mengakibatkan pori–pori kulit tersumbat, jerawat serta komedo. Di dalam Jeruk Nipis mengandung flavonoid dan juga Vitamin C, dimana kedua kandungan tersebut memiliki khasiat sebagai antioksidan. Salah satu efek yang paling terlihat dari antioksidan adalah kemampuannya dalam merangsang produksi kolagen yang merupakan bagian penting dari struktur dan proses peremajaan kulit. Efek antioksidan akan lebih baik bila diformulasikan dalam bentuk sediaan topical dibandingkan dengan sediaan oral karena zat aktif akan berinteraksi lebih lama dengan kulit wajah. Masker wajah peel off merupakan salah satu jenis perawatan kulit wajah yang populer, mudah diaplikasikan dan tidak memberikan efek ketergantungan terhadap produk. Tujuan : Mengetahui karakteristik sediaan Masker wajah Gel Pell Off ekstrak etanol kulit Jeruk Nipis (Citrus Aurantiifolia Cortice) dengan beberapa variasi kosentrasi 0%, 10%, 15% dan 20%. Metode penelitian : Metode yang digunakan adalah metode Eksperimental. Hasil : Berdasarkan Pengujian yang dilakukan pada sediaan masker wajah gel peel-off dari ekstrak etanol kulit jeruk nipis (Citrus Aurantiifolia Cortice) pada formula I, II dan III memenuhi syarat uji organoleptis, homogenitas, uji pH, uji sediaan mengering dan uji iritasi. Kesimpulan : Formula F1, F2 dan F3 secara organoleptis mengalami perubahan dari hari ke-1 sampai hari ke-14. Hogenitas dari setiap formula F1, F2 dan F3 homogen pada hari ke-7 sampai hari ke-14. Ph pada formula F1, F2 dan F3 telah memenuhi syarat rentang Ph yang bisa diterima oleh kulit. Untuk waktu mengering setiap formula sediaan sudah memiliki waktu mengering yang baik. Daya sebar dari setiap formula memenuhi pesyaratan. Untuk uji iritasi setelah dilakukan kepada 10 orang panelis menunjukkan tidak adanya iritasi. Kata kunci : Kulit jeruk nipis (Citrus Aurantiifolia Cortice), Masker Gel Peel-off, Karakteristik