Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

IMPLEMENTASI KONSEP ISLAM WASATHIYYAH (Studi Kasus MUI Eks. Karesidenan Madiun) Ahmad Munir; Agus Romdlon Saputra
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i1.1678

Abstract

Munas MUI ke-9 yang digelar di Surabaya tahun 2015, mengusung tema “Islam wasathiyyah untuk Indonesia dan dunia yang berkeadilan dan berkeadaban.” Tema dikehendaki untuk   membumikan Islam yang berkeadilan, moderat, seimbang, berkemajuan dan toleran. Posisi MUI sebagai tenda besar umat Islam, memiliki posisi strategis bagi umat Islam di Indonesia yang majemuk. Namun, sejauh mana tema tersebut tersosialisasikan kepada struktur organisasi di bawahnya?. Dengan menggunakan logika induktif menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian menemukan bahwa  wasathiyyah dimaknai sebagai pertengahan,   akomodatip,  adil,  dan moderat. Konsep tersebut diimplementasikan pada program kerja yang terfokus pada empat hal yaitu a) Pembentukan kesadaran terhadap aturan, baik agama maupun Negara. b) Penyatuan umat. c) Edukasi sosial dan pemberdayaan kesejahteraan masyarakat. d) Kaderisasi dan pengkajian. Faktor Pendukung program adalah wilayah Karesidenan Madiun yang kental sistem kekerabatannya, wilayah pesantren,   struktur dan kepengurusan MUI yang akomodatif, serta program kerja MUI yang mengacu pada kemaslahatan umum. Sementara faktor penghambat adalah adanya ketidakterwakilan dari sebagian elemen keagamaan, peluang keterlibatan sebagian anggota MUI dalam kontestasi politik dukung mendukung, kuatnya dominasi dan doktrinasi ormas keagamaan dan ketaatan kepada tokoh,  dan kurang maksimalnya transformasi konsep wasathiyyah. The 9th MUI National Conference held in Surabaya in 2015 carries the theme "Wasathiyyah Islam for Indonesia and the world that is just and civilized." The theme is intended to ground Islam that is just, moderate, balanced, progressive and tolerant. MUI's position as a large Muslim tent has a strategic position for Muslims in a pluralistic Indonesia. However, to what extent is the theme socialized to the organizational structure below? By using inductive logic and using a qualitative approach. The study found that wasathiyyah was interpreted as mid, accommodative, fair and moderate. The concept is implemented in a work program that focuses on four things, namely: a) Establishing awareness of rules, both religion and state. b) Unification of the Ummah. c) Social education and empowerment of community welfare. d) Cadreization and assessment. Program Supporting Factors are the Madiun Residency area which has a strong kinship system, boarding area, accommodative MUI structure and management, and MUI work programs that refer to general welfare. While the inhibiting factor is the absence of representation from some religious elements, the chance of involvement of some members of the MUI in supporting political contestation supports, strong domination and doctrination of religious organizations and obedience to figures, and a less than optimal transformation of the concept of wasathiyyah.
Teologi Properti: Telaah Eksistensi dan Fungsi Kekayaan Ahmad Munir
Ulumuna Vol 12 No 2 (2008): Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v12i2.386

Abstract

In the Al-Qur’an, human desire for wealth to meet their needs is viewed as common (thabi‘i) and urgent (dlarûri). Wealth is considered a means for human to be closer to their Creator. In theological perspective, human relation to their fellows and nature is fundamental. The relation is divided into three kinds. First, cooperative relation is the relation between human and their fellows in which every human has the same right to use available natural resources. Second, consumptive relation is the relation between human and nature in which human is an authority for using natural resources and nature is an object. Third, responsible (mustakhlif) relation is the relation between human and their Creator in which human has to be responsible for using natural resources. Based on the relations, wealth for human is expected to be a means of strengthening human characters and leading to the supreme state beside God and human.
Sufistik Cinta dalam Al-Qur’an: Kajian Semantik Haiyin Lana Lazulfa; Ahmad Munir
Jurnal Riset Agama Vol 2, No 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.484 KB) | DOI: 10.15575/jra.v2i2.18803

Abstract

This study aims to discuss the sufistic love of the Qur'anic perspective with a semantic approach. Thiselitisting uses a qualitative approach by applying descriptive-analytical methods. The formal object of this study is semantic studies. Meanwhile, the material object in this study is sufistic love of the perspective of the Qur'an. The results of this research and discussion show that the semantic approach can help present and understand the meaning contained in the Qur'an whose original ideas were fragmented to achieve a totally unified idea (its worldview). Love (hubb) is divided into three parts, namely the love of Allah Swt., to man, the love of man to Allah Swt., and the love of man to his fellow human beings, all three of which have been clearly stated in several verses of the Qur'an. The conclusion of this study is that the true love of the faithful will rightly only be to God that they pour out all their lives that will turn the muhibbin  away from everything but the one he loves.
QUARTER LIFE CRISIS DI MASA PANDEMI PADA MAHASISWA AKHIR IAIN PONOROGO JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM ANGKATAN 2018 Iffatul 'Azizah; Ahmad Munir
Proceeding of Conference on Strengthening Islamic Studies in The Digital Era Vol 2 No 1 (2022): Proceeding of The 2nd Conference on Strengthening Islamic Studies in the Digital
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.898 KB)

Abstract

Usia dewasa awal sangat sensitive dengan krisis di usia seperempat abad, yaitu usia 18 sampai 29 tahun. Gejala quarter life crisis yang timbul pada dewasa awal adalah kecemasan yang berlebihan, kehilangan identitas diri dan takut mengambil keputusan. Kecemasan yang berlebihan timbul karena terlalu memikirkan kelanjutan hidup di masa mendatang, kehilangan identitas diri muncul karena adanya rasa ketidakpuasan dalam menjalankan pekerjaannya, relasi dengan teman, dibangku kuliah, dan ingin mencari jati diri, ketika mengambil keputusan usia dewasa awal biasanya akan ragu atau bimbang terhadap benar tidaknya keputusan yang diambil. Hal tersebut erat kaitannya dengan terjadinya pandemi COVID-19 atas kondisi quarter life crisis yang dialami oleh mahasiswa BPI angkatan 2018. Dari paparan data tersebut dirumuskan masalah antara lain: pertama, Bagaimana kondisi mahasiswa BPI angkatan 2018 yang mengalami quarter life crisis dimasa pandemi. kedua, Apa yang menjadi faktor terjadinya quarter life crisis pada mahasiswa BPI angkatan 2018. Ketiga Bagaimana upaya mahasiswa BPI angkatan 2018 mengatasi quarter life crisis. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Peneliti melakukan penelitian pada mahasiswa BPI angkatan 2018 berjumlah lima orang, yaitu dua laki-laki dan tiga perempuan. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sementara (conclusion). Dari analisis data yang ditemukan: faktor-faktor yang mempengaruhi quarter life crisis terbagi menjadi 2, factor internal dan eksternal: Faktor internal meliputi: emosi dan afeksi, pengalaman pribadi, moral, dan kapasitas intelektual, faktor eksternal meliputi: keluarga, pertemanan, percintaan, lingkungan, dan faktor finansial. Dalam upaya mengatasi quarter life crisis mahasiswa BPI angkatan 2018 adalah sebagai berikut: 1) Mendekatkan diri kepada sang pencipta, 2) Quality time3) Melakukan kegiatan positif 4) Mencintai diri sendiri. 5) Memotivasi dan mengapresiasi diri sendiri (self reward).
KARAKTERISTIK DAKWAH BI AL-QALAM : STUDI ANALISIS BUKU PRINSIP & KEBIJAKSANAAN DAKWAH ISLAM KARYA HAMKA Alfan Fahmi Al Faqih; Ahmad Munir
Proceeding of Conference on Strengthening Islamic Studies in The Digital Era Vol 2 No 1 (2022): Proceeding of The 2nd Conference on Strengthening Islamic Studies in the Digital
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.848 KB)

Abstract

Islam adalah agama dakwah, agama yang mewajibkan setiap muslim mengajak dan menyampaikan kebenaran yang datangngnya dari Allah, supaya nilai rahmat Islam dapat bersemi dan tumbuh dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan negara. Aktivitas mulia ini telah diperaktekan sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Kewajiban itu, kini menjadi tugas umat Islam untuk melanjutkan misi dakwah tersebut. Topik dakwah adalah pesan yang disampaikan oleh da’i> kepada sasaran dakwahnya, baik dengan lisan maupun tulisan. Topik dakwah haruslah bersumber Al-Quran dan Hadist. Dakwah harus dapat mengembalikan umat Islam untuk dekat kepada Al-Quran. Penggunaan media masa sebagai media dakwah adalah suatu keharusan. Aktivitas dakwah harus menggunakan berbagai media. Di mata umat Islam khususnya para pemuda Islam sudah lama mengidap krisis identitas diri yang akut akibat ghazwul fikri (perang pemikiran) Barat yang tidak menginginkan Islam bangkit kembali. Dimana krisis ini menyerang keimanan pemuda Islam yang membuatnya lemah dalam ketauhidan. Ghazwul fikri ini menghancurkan keimanan dan daya tahan akidah umat dan menghilangkan rasa identitasnya sebagai muslim dan kebanggaan akan ajaran-ajaran Islam. Di dalam buku “Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam” ini Hamka menuliskan pengalaman-pengalaman pribadinya dan juga berbagai kisah-kisah Rasul dan para sahabat kedalam buku “Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam” dengan tujuan untuk memberi dorongan semangat dakwah para pemuda dan menuntun para pemuda dalam berdakwah Kepada mad’u>.
KEDERMAWANAN DAN NILAI KEMANUSIAAN Ahmad Munir
Proceeding of Conference on Strengthening Islamic Studies in The Digital Era Vol 2 No 1 (2022): Proceeding of The 2nd Conference on Strengthening Islamic Studies in the Digital
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.396 KB)

Abstract

Bagi muslim, al-Qur'an adalah pedoman normatif dalam kehidupan yang paling tinggi. Namun akal dan hati nurani yang bersih juga sebagai inspirasi untuk mencapai maksud yang dikehendaki oleh al-Qur'an. Dengan demikian, antara norma dan akal budi manusia saling melengkapi dalam mengawal kehidupan. Pitutur normatif tidak mengambil jarak antara individu dan kolektif, antara keadilan dan belas kasihan. Dalam hal-hal tersebut, norma memberikan acuan yang kokoh agar tidak terjadi disharmonis dan antimono antara dua hal tersebut. Akal budi dan nurani manusia, menempatkan aturan norma sesuai dengan tujuannya. Dengan demikian, seluruh pitutur yang bersifat normatif harus dipastikan berfungsi dan berpihak kepada kehidupan. Philanthropy dan seluruh anjuran kedermaan, harus berbasis pada kesejahteraan dan kemanusiaan, baik terhadap individu maupun kolektif.
Relasi Manusia dan Alam dalam Perspektif Teologis Ahmad Munir
Dialogia Vol 6, No 2 (2008): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/dialogia.v6i2.1268

Abstract

Abstrak
KONSTRUKSI MAKKIYAH MADANIAH PADA PENAFSIRAN AYAT-AYAT KHAMR Mar'atul Mahmudah; Ahmad Munir
JUSMA: Jurnal Studi Islam dan Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1378.5 KB) | DOI: 10.21154/jusma.v1i1.524

Abstract

Salah satu permasalahan yang direspons secara berbeda antara periode Makkah dan periode Madinah adalah masalah khamr. Hal ini terlihat pada perbedaan konstruksi ayat-ayat khamr Makkiyah dan Madaniah. Ayat-ayat khamr Makkiyah mengakui eksistensi khamr sebagai minuman yang diistimewakan masyarakat Arab Jahiliah, sedangkan ayat khamr Madaniah memandang khamr dalam bingkai sebuah permasalahan dan secara tegas serta bertahap menetapkan status hukum syariat khamr. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ayat-ayat khamr dari perspektif konsep Makkiyah Madaniah. Fokus penelitian ini membahas 3 hal, pertama konstruksi ayat-ayat khamr periode Makkah dan Madinah. Kedua, penerapan konsep Makkiyah Madaniah pada penafsiran ayat-ayat khamr. Ketiga, relevansi ayat-ayat khamr dengan penanggulangan narkoba. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, ayat-ayat khamr Makkiyah dibangun dalam konstruksi wacana penyadaran dengan struktur ayatnya yang pendek dan sarat majas secara persuasif berusaha menggerakkan kesadaran masyarakat akan keburukan khamr. Sedangkan ayat-ayat khamr Madaniah dibangun dalam konstruksi wacana transformasi dan implementasi nilai-nilai baru untuk membentuk tatanan masyarakat baru yang ideal, dengan struktur ayatnya yang lugas, ayat khamr Madaniah secara bertahap melarang dengan tegas penggunaan khamr. Kedua, dengan penerapan konsep Makkiyah Madaniah dalam penafsiran ayat-ayat khamr diketahui bahwa penetapan hukum khamr dilakukan secara bertahap (tadarruj). Ketiga, relevansi ayat-ayat khamr dengan permasalahan narkoba di masa kini terletak pada prinsip-prinsip dasar ideal moral dan nilai universal yang terkandung dalam ayat-ayat khamr yang dapat dijadikan acuan dalam menyelesaikan masalah narkoba.
PENDEKATAN FILANTROPI DALAM TAFSIR AL-QURAN: Studi Tafsīr At-Tanwīr Jilid 1 Karya Tim Penyusun PP Muhammadiyah Nur Hafifah Rochmah; Ahmad Munir
Proceeding of Conference on Strengthening Islamic Studies in The Digital Era Vol 3 No 1 (2023): Proceeding of the 3rd FUAD’s International Conference on Strengthening Islamic St
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana metode penafsiran kitab Tafsīr At-Tanwīr, bagaimana penafsiran ayat-ayat tentang filantropi dalam Tafsīr At-Tanwīr, serta kontekstualisasi ayat-ayat filantropi dengan kesejahteraan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Penulis menggunakan metode tematik guna mengungkap isi kandungan Al-Quran secara lebih komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya Tafsīr At-Tanwīr memadukan antara metode tah}li>li> dan mawd}>u’i> secara bersamaan (tah}li>li> cum-tematik). Penafsiran ayat-ayat filantropi dalam Tafsīr At-Tanwīr mencoba membangkitkan ghirah filantropi Islam yang dibangun melalui spirit Al-Quran. Filantropi merupakan manifestasi konsep teologi amal dengan spirit al-Ma>’u>n yang diprakarsai oleh KH Ahmad Dahlan, yakni ibadah bukan hanya bernilai mekanis-ritualis-individualis melainkan tindakan praktis yang juga bernilai universal dengan bingkai kesalihan sosial. Filantropi Islam memiliki potensi yang sangat besar dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Aktualisasi ajaran tentang filantropi dapat membantu meningkatkan taraf hidup orang-orang yang membutuhkan hingga mengurangi kesenjangan sosial.
REPORTING ON SEXUAL VIOLENCE CASES AT THE SHIDDIQIYYAH ISLAMIC BOARDING SCHOOL IN JOMBANG ON KOMPAS.COM Dewi Istiqomah Farida; Ahmad Munir
QAULAN: Journal of Islamic Communication Vol. 4 No. 2 (2023): Qaulan: Journal of Islamic Communication
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/qaulan.v4i2.7310

Abstract

Environment is currently of concern to the general public. One concerning case is what occurred at the Shidiqiyyah Islamic Boarding School, Jombang. This case has been widely reported by the media in Indonesia, including the online media Kompas.com, starting from the alleged case until it reached the stage of the sentencing hearing. This research examines five news stories from the online media Kompas.com regarding reporting on verdicts in cases of sexual violence at the Shiddiqiyyah Islamic boarding school, Jomban. The aim and formulation of the problem in this research is: How does the online media Kompas.com use framing structures (syntax, script, thematic, rhetorical). This research uses a qualitative approach by collecting data using non-participant observation and documentation. The data analysis technique uses Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki's framing analysis model with four structures: syntax, script, thematic, and rhetorical. The results of this research are (1). Syntactic Structure, Kompas.com media tries to show the events after the sentence was handed down to the perpetrator of sexual violence. (2). Kompas.com's media script structure tries to frame the facts and efforts of the victim while fighting for justice for the victim. (3). The thematic structure of the Kompas.com media shows that the verdict handed down did not match the victim's expectations. (4). Rhetorical structure, in Kompas.com media reporting, is seen using elements of the lexicon, this shows the emphasis in each news.