M. Alfin Fatikh
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Strategi Pengemasan Pesan Dakwah Melalui Ngaji Bencana oleh PC LPBI NU Mojokerto di Kecamatan Pacet Nadhirothul Afirda; M. Alfin Fatikh
Bahasa Indonesia Vol 6 No 2 (2025): J-Kis: Jurnal Komunikasi Islam, Desember 2025
Publisher : Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/j-kis.v6i2.1573

Abstract

Intensitas kejadian bencana alam di Kecamatan Pacet menjadikan wilayah ini sebagai prioritas pengupayaan keselamatan dan kesiapsiagaan bencana. Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi penyampaian pesan dakwah yang menjawab kebutuhan masyarakat dalam konteks kebencanaan melalui kegiatan Ngaji Bencana. Melalui pendekatan hermeneutik fenomenologi, penelitian ini memberikan hasil yang menunjukkan bahwa PC LPBI NU Mojokerto dapat melakukan upaya mitigasi kepada masyarakat di Kecamatan Pacet dengan menggabungkan aspek pemanfaatan tradisi setempat, reaktualisasi pengetahuan tradisional, pelibatan tokoh agama, serta pemanfaatan media sosial yang selaras dengan konsep dakwah Islam. Pada penelitian ini mengindikasikan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal serta pelibatan agama berperan penting dalam membangun kesadaran masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pendampingan jangka panjang dengan melibatkan multipihak guna menjamin keberlanjutan Ngaji Bencana secara optimal.
Stigma Negatif Konten Kreator Dakwah dalam Menjalankan Tanggung Jawab Sosial Hidayat, Taufik; M. Alfin Fatikh
Bahasa Indonesia Vol 6 No 2 (2025): J-Kis: Jurnal Komunikasi Islam, Desember 2025
Publisher : Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/j-kis.v6i2.1715

Abstract

This study aims to examine how Islamic content creators on social media, particularly TikTok and Instagram, face negative stigma and fulfill their social responsibilities as digital preachers. The research uses a descriptive qualitative approach with a case study method on the @betteryouthfoundation community, focusing on two key informants: Afkar Jauhara and Tria Nurul Risqiyah. Data were collected through social media content observation and in-depth interviews. The findings indicate that the stigma encountered includes negative comments related to personality, sincerity in preaching, and public judgment on the creator’s personal background. Both informants responded to these challenges with different strategies: passive confrontation and normalization. They also demonstrated strong social responsibility by consistently delivering Islamic values in a relevant and adaptive manner in the digital space. The study concludes that digital preaching can be effectively sustained with sincere intention, community support, and the ability to adapt to the dynamics of social media. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konten kreator dakwah di media sosial, khususnya TikTok dan Instagram, menghadapi stigma negatif serta menunaikan tanggung jawab sosial mereka sebagai pendakwah digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus pada komunitas @betteryouthfoundation, dengan dua narasumber utama yaitu Afkar Jauhara dan Tria Nurul Risqiyah. Data diperoleh melalui observasi konten media sosial dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk stigma yang dihadapi meliputi komentar negatif terkait kepribadian, niat dakwah, dan penilaian publik terhadap tampilan atau latar belakang narasumber. Kedua narasumber mampu menghadapi stigma tersebut dengan strategi berbeda: konfrontasi pasif dan normalisasi. Keduanya juga menunjukkan bentuk tanggung jawab sosial yang kuat melalui konsistensi dalam menyampaikan nilai-nilai Islam secara relevan dan adaptif di ruang digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dakwah digital dapat terus berlangsung dengan efektif ketika dilakukan dengan keteguhan niat, dukungan komunitas, dan kemampuan adaptasi terhadap dinamika media sosial.
Peran Instagram dalam Memperkuat Branding Personal Bupati Mojokerto Harun Askhari; M. Alfin Fatikh
Bahasa Indonesia Vol 6 No 2 (2025): J-Kis: Jurnal Komunikasi Islam, Desember 2025
Publisher : Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/j-kis.v6i2.1741

Abstract

This study examines the role of Instagram in strengthening the personal branding of Muhammad Al Barra (Gus Barra), the elected Regent of Mojokerto Regency. The research employs a qualitative case study approach, combining in-depth interviews, field observations, and documentation of Gus Barra’s official Instagram account (@gusbarra_). Data were collected from interviews with Gus Barra’s media team (Ahmad Solihin and Ahmad Tabrani), three community respondents (aged 24, 28, and 30), as well as the internal survey division of the Indonesian Survey Institute (LSI) that supported Gus Barra’s campaign. The findings reveal that Instagram functions as a highly effective political communication tool. The account consistently posted 1–2 pieces of content daily, with themes ranging from religious and social activities to community development programs. Based on LSI’s internal survey and field interviews, approximately 75% of Gus Barra’s voters—equivalent to around 279,400 out of 372,537 valid votes—reported that they became more familiar with Gus Barra through social media compared to conventional campaign methods. Gus Barra’s personal branding strategy follows Tom Peters’ model, consisting of self-assessment, brand identity development, strategic positioning, and promotion. Beyond visuals, captions in each post also played a key role. The messages conveyed were predominantly moral, religious, and socially oriented, such as calls for gratitude, the importance of mutual cooperation, and care for the underprivileged. Direct interaction through Instagram Direct Message (DM) further reinforced these messages by providing a personal and attentive impression. This study concludes that social media, particularly Instagram, functions not only as an information-sharing platform but also as a strategic instrument for building leadership legitimacy, enhancing electability, and fostering emotional connection with constituents.