Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana media Kompas, Tempo, dan BBC Indonesia membingkai peristiwa demonstrasi 25 Agustus 2025 di depan Gedung DPR melalui pemberitaan media online, serta bagaimana framing tersebut beririsan dengan mekanisme agenda setting dalam membentuk persepsi publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma interpretatif melalui analisis framing model Robert N. Entman yang mencakup empat dimensi utama, yaitu pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi penanganan, yang dipadukan dengan Teori Agenda Setting untuk menelaah proses transfer salience dari agenda media ke agenda publik. Data primer diperoleh dari artikel berita Kompas.id, Tempo.co, dan BBC Indonesia yang secara intens meliput demonstrasi tersebut, sementara data sekunder bersumber dari literatur akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun melaporkan peristiwa yang sama, ketiga media membangun framing yang berbeda dan menghasilkan konstruksi realitas yang tidak seragam. Media Kompas cenderung membingkai demonstrasi sebagai ekspresi sah aspirasi demokratis dan menekankan pentingnya dialog serta refleksi politik. Media Tempo lebih menyoroti eskalasi konflik, kekacauan, dan ketidakadilan struktural sebagai akibat dari kegagalan dan pengkhianatan elit politik. Sementara itu, media BBC Indonesia memosisikan peristiwa tersebut sebagai indikator ketidakstabilan politik dan problem penanganan keamanan negara dengan sorotan kuat pada isu hak asasi manusia dan citra Indonesia di mata internasional. Temuan ini menegaskan peran strategis media dalam membentuk pemahaman publik terhadap peristiwa politik dan pentingnya literasi media kritis.