Abstrak : Teknologi bidang pendidikai dapat dilihat dengan semakin
banyaknya penggunaan fasilitas internet untuk membantu proses belajar mengajar.
Implementasi
sistem e-learning yang bisa memberi lebih banyak waktu dan kesempatan untuk
berdiskusi bagi perkuliahan mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis elektronik ke dalam mata kuliah
geografi transportasi dan komunikasi serta mengevaluasi dari pelaksanaan
pembelajaran yang menggunakan web ini. Jenis penelitian adalah penelitian
pengembangan dengan sasaran mahasiswa geografi angkatan 2009 A, B dan C yang memprogram mata kuliah geografi
transportasi dan komunikasi sejumlah 106 mahasiswa. Penelitian ini menggunakan model
pengembangan prosedural yang dimulai dari menyusun deskripsi, silabus, materi
ajar, menyusun jadwal perkuliahan sebanyak 16 kali pertemuan, mengupload materi
ajar, menyusun kuis, tugas dan UTS. Juga mengembangkan instrumen
penelitian untuk mengetahui tanggapan, kritik dan saran dari mahasiswa dalam pelaksanaan pembelajaran yang
berbasis e-learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlunya persiapan yang
matang sebelum mengimplementasikan sebuah pembelajaran yang berbasis internet karena hal ini
memegang peran penting demi kelancaran proses pembelajaran Segala persiapan
seperti penjadwalan dengan penentuan teknik komunikasi selama proses
pembelajaran merupakan tahapan penting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis
web. Dari hasil evaluasi dapat diketahui bahwa partisipasi mahasiswa dalam
mengunjungi web rata-rata 68 kali, nilai UTS rata-rata 85,2 dan nilai tugas
rata-rata 85,5 serta sebagian besar mahasiswa memberikan tanggapan yang
positif. Tanggapan tersebut adalah
pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, mandiri, praktis, baik,
membantu, mudah, fleksibel, efisien, efektif, memotivasi, menarik, dapat pengalaman
langsung, lebih dulu mengetahui materi, memperlancar proses belajar mengajar,
dapat memilih materi dan sebagainya. Sementara itu beberapa kekurangan atau
penghambat adalah tidak semua mahasiswa mempunyai sarana laptop, jaringan
intranet (wifi) di kampus sering mengalami gangguan. Hambatan yang lain tidak
semua tempat mudah untuk mengakses, kadang wifi lambat.
Kata Kunci:
Pembelajaran E-learning, implementasi, evaluasi.
PENDAHULUAN
Salah satu
bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi
ini adalah bidang pendidikan, dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu
proses komunikasi dan informasi dari
pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang
memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana
penyajian ide, gagasan dan materi
pendidikan serta peserta didik itu sendiri (Oetomo dan Priyogutomo, 2004),
beberapa bagian unsur ini mendapatkan sentuhan media teknologi informasi,
sehingga mencetuskan lahirnya ide tentang e-learning.
Skenario
mengajar dan belajar perlu disiapkan secara matang dalam kurikulum pembelajaran
yang memang dirancang berbasis internet. Mengimplementasikan pembelajaran
berbasis internet bukan berarti sekedar meletakkan materi ajar pada web. Selain materi ajar, skenario
pembelajaran perlu disiapkan dengan matang untuk mengundang keterlibatan peserta didik secara aktif dan konstruktif
dalam proses belajar mereka.
Teknologi
baru terutama dalam bidang ICT memiliki peran yang semakin penting dalam
pembelajaran. Banyak orang percaya bahwa multimedia akan dapat membawa kita
kepada situasi belajar dimana "learning
with effort" akan dapat digantikan dengan " learning with .fun". Apalagi dalam pembelajaran orang
dewasa, learning with effort menjadi
hal yang cukup menyulitkan untuk dilaksanakan karena berbagai faktor pembatas
seperti usia, kemampuan daya tangkap, kemauan berusaha, dan lain lain.
E-learning
adalah bentuk pembelajaran yang memanfaatkan teknologi elektronik (radio,
televisi, film, komputer, internet, dll). Koran (2002) mendefinisikan e-learning sebagai
sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik
(LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau
bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning
sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet.
Sedangkan
(Kamarga, 2002) dalam Suyanto (2005) mendefinisikan e-learning
sebagai kegiatan belajar asynchronous
melalui perangkat elektronik komputer untuk memperoleh bahan belajar yang
sesuai dengan kebutuhannya. Rosenberg
(2001) dalam Suyanto (2005) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk
mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan. Hal ini senada dengan
Cambell (2002), Kamarga (2002) dalam Suyanto (2005) yang intinya menekankan penggunaan internet
dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning.
Bahkan Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah e atau singkatan dari
elektronik dalam e-learning digunakan
sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung
usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet.
Jadi e-learning
merupakan bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital
melalui teknologi internet. Oleh karena itu e-learning
dapat digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh dan juga sistem pendidikan
konvensional. Dalam pendidikan konvensional fungsi e-learning bukan untuk mengganti, melainkan memperkuat model
pembelajaran konvensional. Dalam hal ini, Cisco (2001) dalam Suyanto
(2005) menjelaskan filosofis e-learning sebagai berikut: (a) e-learning merupakan penyampaian
informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara on-line.(b). e-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya
nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap
buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab
tantangan perkembangan globalisasi.(c). e-learning
tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi
memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan. (d). Kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada
bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar content dan alat penyampai dengan gaya
belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberi
hasil yang lebih baik
Keberhasilan
belajar siswa menjadi tujuan utama dalam
pembelajaran yang berbasis e-learning. Keberhasilan belajar dapat dilihat dari
efektivitas hasil belajar siswa. Pengertian efektivitas secara umum menunjukkan
sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan.
Hal tersebut sesuai dengan pengertian efektivitas menurut Hidayat (1986) menjelaskan
bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target
(kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar prosentase
target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya.
Dengan
pemanfaatan e learning sebagai sarana
pembelajaran diharapkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar diharapkan akan
semakin baik, meskipun inovasi ini menimbulkan pro dan kontra dengan berbagai
dalih. Karena bagaimanapun bahwa hasil beberapa ujicoba pembelajaran dengan e learning telah memberikan banyak
masukan untuk perbaikan sistem.
Oleh
karena itu, perlu adanya kajian dan penelitian untuk mengetahui bagaimana
implementasi dan evaluasi pembelajaran e-learning
pada mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi pada mahasiswa Jurusan
Pendidikan Geografi Angkatan tahun 2009 di semester gasal tahun ajaran 2012/2013.
METODE PENELITIAN
Sasaran penelitian ini
adalah mahasiswa Prodi Pendidikan
Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya angkatan 2009A/B/C
yang memprogram mata kuliah geografi tramnsportasi dan komunikasi dengan jumlah
106 mahasiswa.
Dalam penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan
prosedural. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu
menggariskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menggunakan e-learning dalam pembelajaran geografi
transportasi dan komunikasi. Langkah-langkah yang dimaksud yaitu :
1.
Merumuskan kembali deskripsi mata kuliah geografi transportasi dan
komunikasi sesuai dengan deskripsi yang termuat dalam buku pedoman Unesa tahun
2009-2010.
2.
Menyusun silabus mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi
agar perkuliahan berbasis e- learning
berjalan secara sistematis.
3.
Mengembangkan bahan ajar sebagai materi perkuliahan yang mendukung
mahasiswa
4.
Menyusun lembar evaluasi berupa soal-soal untuk kuis, tugas dan
UTS.
5.
Mengembangkan instrumen penelitian untuk mengetahui tanggapan
mahasiswa, pelaksanaan perkuliahan berbasis e
learning dan evaluasi yang dikembangkan dosen.
Uji coba pengembangan pembelajaran dimaksudkan untuk mengumpulkan
data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan .
Dalam bagian ini secara berurutan
dikemukakan desain uji coba, jenis data, instrumen pengumpulan data, dan
teknik analisis data.
Desain Uji Coba
Secara lengkap, uji coba produk pengembangan dalam penelitian dilakukan melalui dua tahapan, yaitu uji kelompok kecil hanya dengan melibatkan 15
orang saja yang terdiri masing-masing kelas 5 orang, dan kelompok besar yang
melibatkan semua mahasiswa angkatan 2009 A/B/C dan tidak melakukan uji lapangan
karena keterbatasan waktu.
Jenis Data
Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat
digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan dan atau daya
tarik dari produk yang dihasilkan. Penekanan pada efektifitas suatu pemecahan
masalah akan membutuhkan data tentang efektivitas produk yang dikembangkan.
Penekanan pelaksanaan pembelajaran berbasis
e learning pada keefektivan atau daya tarik. Atas dasar ini, maka jenis
data yang perlu dikumpulkan akan disesuaikan dengan informasi apa yang
dibutuhkan tentang produk yang dikembangkan. Data yang dimaksudkan adalah
data penilaian dari pakar desain pembelajaran berbasis e learning, penilaian dari mahasiswa selaku pelaku yang terlibat
dalam perkuliahan yang berbasis e
learning dan tanggapan
mahasiswa tentang pelaksanaan perkuliahan yang berbasis e
learning.
Sedangkan untuk mengetahui implementasi digunakan dengan cara
deskriptif sedangkan evaluasi digunakan teknik diskriptif dengan prosentase yang kemudian disajikan
dengan cara deskriptif.
HASIL PENELITIAN
Penelitian
pada mata kuliah Geografi Transportasi dan Komunikasi ini dilaksanakan sesuai jadwal perkuliahan yang telah ditetapkan oleh Unesa
selama 16 kali tatap muka (pertemuan) yaitu dimulai tanggal 3 September 2012
dan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012.
Ketidaksesuaian jadwal perkuliahan muncul ketika yang memprogram adalah
mahasiswa angkatan 2009 yang berada pada semester VII dimana mereka tersebut
masanya untuk menempuh Praktek Pengajaran Lapangan (PPL) yang jadwalnya
melewati permulaan perkuliahan.
Perkuliahan
untuk Geografi Transportasi dan Komunikasi pada mahasiswa Jurusan Pendidikan
Geografi angkatan 2009 A/B/C yang berjumlah 106 orang dimulai tanggal 24
September 2012 dan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012. Meskipun dalam
pelaksanaan perkuliahan hanya 13 kali pertemuan namun hal ini tidak menjadi
masalah karena terbantu oleh model pembelajaran yang berbasis e-learning.
Hal
inilah barangkali yang menjadikan keuntungan
dari model pembelajaran yang berbasis e-learning dalam pembelajaran
dengan situasi yang demikian. Jadi kekurangan dalam pertemuan sebanyak tiga
kali dapat diatasi dengan penggantian
pembelajaran yang berbantuan e-learning.
Untuk
mengimplementasikan pembelajaran e-learning di Jurusan pendidikan geografi
dapat dikatakan masih beberapa mata kuliah yang menguji coba, khusus untuk mata
kuliah Geografi Transportasi dan Komunikasi pembelajaran e-learning merupakan model
pembelajaran yang pertama kalinya dilakukan sehingga dibutuhkan persiapan yang banyak. Persiapan dilakukan tidak hanya
mengimplementasikan materi ajar pada web tetapi juga menciptakan skenario
pembelajaran dengan matang untuk mengundang keterlibatan peserta didik secara
aktif dan konstruktif dalam proses belajar mengajar.
Persiapan
yang terkait dengan mahasiswa adalah memberitahukan mahasiswa untuk benar-benar
dapat menerima pembelajaran yang berbasis e-learning, seperti menyiapkan
laptop, modem, wifi dan juga password
untuk dapat login ke mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi yang
sudah dionlinekan.
Pengimplementasian e-learning pada
proses belajar mengajar mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi
ini, sebelum pembelajaran dimulai dosen
memberitahukan dan menyediakan materi di
web untuk diunggah oleh mahasiswa
sehingga dalam hal ini mahasiswa akan tahu terlebih dahulu sebelum dosen
mengadakan tatap muka. Namun fungsi dari materi yang disediakan di web adalah opsional
artinya mahasiswa diberikan kebebasan untuk memanfaatkan materi pembelajaran
elektronik atau tidak.
Disamping
itu, dosen juga memberikan materi yang
fungsinya komplemen yang artinya adalah materi pembelajaran yag disediakan di web ini sifatnya hanya sebagai pelengkap dari materi
yang utama, dalam hal ini mahasiswa diberi kebebasan untuk memanfaatkan atau
tidak. Dan fungsi pembelajaran yang terakhir adalah substitusi yaitu dapat
digunakan sebagai pengganti ketika antara dosen dan mahasiswa tidak dapat tatap
muka seperti ketika mahasiswa PPL sehingga harus mundur tiga kali pertemuan,
ketika jadwal kuliah tanggal merah (Idul Adha, libur fakultatif 1 Muharrom)
juga dapat dimanfaatkan oleh dosen untuk menggantikan tatap muka dengan kuis
dan UTS.
Berikut
adalah prosedur dalam pengimplementasian e-learning
dalam mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi.
a.
Dosen membuat deskripsi mata
kuliah yang sesuai dengan silabus
b.
Dosen menyiapkan materi yang
fungsinya sebagai suplemen maupun komplemen yang sesuai dengan silabus.
c.
Materi tersebut dibagi dalam 16
kali pertemuan, juga menyiapkan kuis, tugas dan UTS
d.
Materi akan dapat didownload 1
minggu sebelum perkuliahan karena materi
sudah disiapkan sesuai jadwal
e.
Mahasiswa sudah harus
diberitahukan di awal pertemuan terkait dengan semua aturan
f.
Perkuliahan berjalan seperti
biasa yaitu dengan tatap muka, dengan demikian dalam hal ini peran dosen menegaskan dari materi yang sudah dionlinekan
g.
Ketika ada jadwal yang tidak
dapat dilakukan tatap muka maka mahasiswa diminta untuk mengerjakan kuis dan
UTS sehingga perkuliahan dapat berjalan sesuai jadwal
h.
Untuk jawaban kuis dikirim
lewat email sedangkan UTS dapat dikerjakan langsung sehingga mahasiswa akan
segera tahu nilainya.
Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa sebelum mengimplementasikan sebuah pembelajaran
berbasis internet memegang peran penting demi kelancaran proses pembelajaran.
Segala persiapan seperti penjadwalan sampai dengan penentuan teknik komunikasi
selama proses pembelajaran merupakan tahapan penting dalam melaksanakan
pembelajaran berbasis web.
Sementara itu dalam
pembelajaran e-learning pada mata
kuliah geografi transportasi dan komunikasi yang sudah dilakukan dapat dikatakan berjalan lancar sesuai harapan
meskipun dijumpai beberapa kendala. Untuk lebih jelasnya maka hasil tanggapan,
kritik dan saran dari mahasiswa yang
mengikuti kuliah geografi transportasi dan komunikasi pada semester gasal tahun
ajaran 2012/2013 dapat dievaluasi sebagai disajikan pada Tabel 1.
Dengan melihat tabel 1 dapat
diketahui bahwa dalam pembelajaran E-leaning mendapat tanggapan positif.
Artinya bahwa mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran yang baru pertama
kalinya dengan internet ini sebagian besar menyatakan senang. Hal ini karena
sarana laptop dan modem/wifi bagi mahasiswa sudah merupakan suatu kebutuhan
primer. Terlebih pembelajaran ini dilaksanakan untuk mahasiswa semester VII
yang sudah mempersiapkan penenlitian
sehingga dapat dikatakan sebagian besar mahasiswa sudah memiliki sarana
belajar seperti laptop.
Tabel 1. Tanggapan Mahasiswa
Terkait Pembelajaran E-learning
No.
Jenis Tanggapan
Jumlah(
mhs)
Persentase (%)
1.
Menyenangkan
91
86
2.
Memotivasi
89
84
3.
Materi lebih lengkap
90
85
4.
Membantu pembelajaran
79
75
5.
Efektif, efisien
87
82
6.
Baik
88
83
7.
Mandiri
65
61
8.
Dapat mendowload materi
99
93
9.
Belajar lebih mudah, kapan
dan dimana saja
89
84
10.
Melihat materi lebih
fleksibel,
70
66
11.
Memperlancar PBM
78
74
12.
Mampu menerapkan gaya belajar
yang berbeda
52
49
13.
Dapat memilih materi
68
64
14.
Menarik
90
85
15.
Praktis
74
70
16.
Dapat pengalaman langsung
57
54
17.
Lebih mudah
65
61
18.
Dapat interaksi langsung
56
53
19.
Tahu materi lebih awal
92
87
20.
Senang adanya pojok diskusi
48
45
Sumber : Data primer yang
diolah, 2012
Disamping mendapatkan tanggapan
yang positif terkait ranah kognitif, dalam pembelajaran ini juga menggali aspek
afektif yang berusaha untuk mengadakan interaksi antara mahasiswa dengan dosen
maupun mahasiswa dengan mahasiswa lewat
pojok diskusi. Di pojok diskusi ini dosen memberikan pernyataan sedangkan
mahasiswa menanggapi disamping itu mahasiswa juga dapat bertanya langsung
kepada dosen terkait dengan materi dan pengetahuan umum.
Banyak mahasiswa (48
mahasiswa) yang menggunakan pojok
diskusi untuk menanyakan materi yang dirasa kurang paham. Disamping itu fasilitas pojok diskusi dapat memberanikan
mahasiswa untuk bertanya tanpa malu dan takut, jadi mahasiswa yang awalnya diam
saja maka mahasiswa tersebut terbantu untuk mau bertanya lewat pojok diskusi.
Dengan e-learning ini juga dapat dilihat frekuensi partisipasi mahasiswa
untuk mengakses materi, kuis, tugas , UTS ataupun menggunakan fasilitas pojok
diskusi. Dari hasil rekap absensi (istilah dalam menú e-learning) dapat menunjukkan
frekunesi partisipasi setiap mahasiswa untuk memanfaatkan web yang sudah
disediakan tersebut baik untuk mengunggah materi, mengerjakan kuis, tugas, UTS
maupun memanfaatkan pojok diskusi.
Sebagian besar mahasiswa 104
mahasiswa dapat mengerjakan kuis dengan waktu yang sudah ditentukan, demikian
pula untuk pengerjaan UTS sebagian besar 105 mahasiswa dapat mengerjakan UTS
dengan lancar sedangkan 1 mahasiswa mengalami kendala teknik sehingga tidak
dapat tuntas mengerjakan soal UTS.
Dalam pembelajaran e-learning pada mata kuliah geografi
transportasi dan komunikasi ini juga mendapat beberapa kritik terkait dengan
pemberian kuis dan UTS yang terkesan mendadak dan beberapa kali berubah-ubah
jadwal. Hal ini disebabkan karena ketika mengumumkan jadwal pelaksanaan kuis
yang memang waktunya dibatasi tiba-tiba sebagian mahasiswa tidak dapat
mengikuti kuis karena ikut remidi kuliah lapangan, kejadian ini berlangsung sebanyak tiga kali.
Disamping mendapat kritik yang
terkait dengan pelaksanaan kuis, juga sebagian kecil mahasiswa atau
sebanyak 8 orang mengeluh karena
tidak mempunyai laptop dan modem sehingga agar dapat mengakses internet
harus ke warnet. Sementara ketika wifi
jurusan tersedia dan yang menggunakan banyak dalam waktu yang bersamaan
maka wifi menjadi lambat.
Saran yang dapat diberikan
dalam pembelajaran yang berbasis internet adalah perlu akses yang lebih baik, perlu penambahan materi dan untuk pelaksanaan
UTS (ujian tengah semester) sebaiknya tetap dilaksanakan di kelas karena
pengerjaan UTS di luar kelas dengan model e-learning
yang tanpa pengawasan hasil yang diperoleh tidak dapat dikatakan obyektif.
PEMBAHASAN
Implementasi pembelajaran E-learning dalam mata kuliah geografi
transportasi dan komunikasi ini dilakukan sebelum jadwal tatap muka setiap minggunya dengan dosen pengampu. Untuk
mengimplementasikan pembelajaran yang berbasis internet ini memang dibutuhkan
persiapan yang matang. Tanpa persiapan
yang baik maka pembelajaran ini dapat dikatakan tersendat atau bahkan
gagal.
Hal
ini dialami ketika dalam pelaksanaan proses belajar mengajar tidak dapat
dilakukan tatap muka karena jadwal kuliah yang libur yang kemudian diganti
dengan waktu yang berbeda maka tidak dapat diterima oleh semua mahasiswa dengan
baik. Hal ini dimaklumi karena dengan jumlah mahasiswa yang demikian banyak
(106 mahasiswa) tentunya mereka juga
sudah mempunyai jadwal pribadi sehingga ketika jadwal itu dirubah maka akan
mengganggu jadwal mereka yang sudah tertata dengan baik.
Oleh
karena itu sangat diperlukan sekali persiapan yang cermat untuk meminimalkan kegagalan. Persiapan
menyangkut banyak hal, mulai dari kesiapan mahasiswa maupun persiapan dosen pengampu. Persiapan yang
terkait dengan mahasiswa adalah melibatkan mahasiswa sebanyak mungkin secara
aktif dan kondusif dalam proses belajar mengajar dan mengkomunikasikan agar
senantiasa update supaya tidak
ketinggalan. Sementara untuk dosen pengampu adalah menyiapkan materi untuk bisa
diunggah, menyusun jadwal, membuat kuis, tugas, UTS dan evaluasi yang
menyeluruh.
Untuk
menerapkan model pembelajaran elektronik
di dalam kelas (classroom instruction) ini memiliki 3 fungsi yaitu sebagai suplemen
yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti
(substitusi) (Siahaan, 2002).
Dalam
mengimplementasikan pembelajaran yang berbasis internet ini meskipun
mendapatkan kendala namun banyak manfaat yang diperolehnya. Manfaat tersebut
antara lain dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara dosen dengan
mahasiswa (enhance interactivity)
maupun mahasiswa dengan mahasiswa. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Wulf (1996) bahwa apabila dirancang dengan cermat
maka pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi antara dosen
dengan mahasiswa dan antarmahasiswa.
Berbeda
halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional.
Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat,
berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun
menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Hal ini disebabkan karena pada
pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang
disediakan dosen untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas ditambah
lagi dengan sifat malu atau takut yang dimiliki oleh mahasiswa.
Manfaat
yang kedua memungkinkan terjadinya
interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility, seperti yang disampaikan oleh sebanyak
89 mahasiswa. Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan
tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik
dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana
saja. Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan
kepada dosen begitu selesai dikerjakan. tidak perlu menunggu sampai ada janji
untuk bertemu dengan dosen.
Meskipun
sebagian kecil dari mahasiswa juga menyatakan mendapatkan masalah misalnya
sulitnya untuk mengakses di pelosok, wifi yang lambat, jaringan internet yang
kadang terganggu. Beberapa gangguan yang
disampaikan tersebut akan mengganggu proses pengerjaan kuis, tugas dan UTS yang
waktunya sudah sangat terbatas sekali.
Manfaat
lainnya bagi dosen adalah mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi
pembelajaran (easy updating of content as
well as archivable capabilities). Fasilitas yang tersedia dalam
teknologi internet dan berbagai
perangkat lunak (software) yang terus berkembang turut membantu mempermudah
pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau
pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuan-nya dapat
dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian
materi pembelajaran dapat pula dilakukan berdasarkan atas umpan balik dari
mahasiswa.
Apabila
dilihat dari efektivitasnya, dapat
dikatakan bahwa hasil pembelajaran dengan menggunakan internet ini dikatakan sangat efektif karena
hasil yang diperoleh oleh mahasiswa menunjukkan partisipasi mahasiswa untuk
berkunjung ke web rata-rata 68 kali, sebanyak 2 mahasiswa dengan jumlah
kunjungan minimal 2 kali dan 1 mahasiswa terbanyak berkunjung dengan jumlah 226
kali. Sementara itu untuk nilai UTS
rata-rata mahasiswa memperoleh nilai rata-rata 85,2 sehingga dapat
dikatakan bahwa pembelajaran model ini secara nyata dapat meningkatkan prestasi
belajar mahasiswa.
Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan
oleh Depdiknas (2002) bahwa efektivitas adalah berasal dari kata efektif yang
berarti membawa hasil, berhasil guna, ada efeknya, pengaruhnya, akibatnya/ kesannya
(Depdiknas, 2002).
Pengertian efektivitas secara umum menunjukkan sampai seberapa jauh tercapainya
suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan
pengertian efektivitas menurut Hidayat (1986), menjelaskan
bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target
(kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar persentase
target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa efektivitas dapat
dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasarannya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa pembelajaran efektif merupakan suatu pembelajaran yang
memungkinkan siswa untuk dapat belajar
dengan mudah, menyenangkan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai
dengan yang diharapkan. Dengan demikian pembelajaran dikatakan efektif apabila
tujuan dari pembelajaran tersebut tercapai.
Vietzal (1999) mengemukakan bahwa efektivitas tidak hanya dilihat dari sisi
produktivitas, tetapi juga dilihat dari sisi persepsi seseorang. Dengan
demikian dalam pembelajaran, efektivitas bukan semata-mata dilihat dari tingkat
keberhasilan siswa dalam menguasai konsep yang ditunjukkan dengan nilai hasil
belajar tetapi juga dilihat dari respon siswa terhadap pembelajaran yang telah
diikuti. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Vietsal bahwa dalam
pembelajaran elektronik ini memberiskan respon yang positif.
Berdasarkan
uraian diatas disimpul-kan bahwa efektivitas pembelajaran adalah ukuran keberhasilan dari suatu proses
interaksi antar mahasiswa maupun antara mahasiswa dengan dosen dalam situasi
edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat
dilihat dari aktivitas mahasiswa selama
pembelajaran berlangsung, respon siswa terhadap pembelajaran dan
penguasaan konsep oleh mahasiswa.
Aktivitas
mahasiswa dapat dilihat dari partisipasi mahasiswa ketika mengunjungi web yang menunjukkan
rata-rata 68 kali kunjungan yang digunakan baik untuk mengunggah materi,
membuka tugas, mengerjakan kuis ataupun mengerjakan UTS. Respon mahasiswa
menunjukkan sebagian besar mahasiswa atau sebanyak 91 orang (86%) menyatakan senang dengan
pembelajaran ini. Dan untuk mengetahui penguasaan konsep dapat dilihat dari
hasil nilai yang diperoleh mahasiswa selama mengerjakan tugas yang rata-ratanya
85,5 sedangkan UTS rata-ratanya adalah 85,2.
Berdasarkan
hasil seperti di atas, dapat dikatakan bahwa dalam pembelajaran sistem
e-learning ini ternyata memberikan banyak tanggapan positif terhadap mahasiswa
yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya nilai yang diperoleh baik
komponen nilai partisipasi, nilai tugas nilai kuis maupun nilai UTS.
SIMPULAN
1.
Untuk mengimplementasikan
pembelajaran yang berbasis internet dibutuhkan kesiapan yang matang untuk
memperoleh hasil yang maksimal baik persiapan untuk mahasiswa maupun persiapan untuk dosen pengampu.
2.
Banyak hal positif yang dapat
diperoleh mahasiswa terkait dalam pembelajaran yang berbasis internet ini,
misalnya: menyenangkan, mandiri, praktis, baik, fleksibel, efisien, efektif,
bisa chatting, dapat materi lebih awal,
memotivasi, materi lebih lengkap, membantu pembelajaran, dapat mendownload, lebih berinteraksi, dapat
menerapkan pembelajaran baru, dan mendapatkan pengalaman seara langsung,
3.
Pembelajaran yang berbasis
elektronik ini secara nyata dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa
dengan jumlah kunjungan partisipasi rata-rata 68 kali, nilai tugas 85,5 dan
nilai UTS rata-rata 85,2.
SARAN
1.
Perlu adanya sosialisasi kepada
dosen di lingkungan Unesa untuk menerapkan pembelajaran e-learning mengingat banyak mahasiswa yang memberikan tanggapan
yang positif yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar
2.
Untuk mendukung kegiatan yang
berbasis internet perlu adanya sarana
pendukung seperti hot spot di lingkungan Unesa yang konsisten
DAFTAR
PUSTAKA
Suyanto, Asep, H., 2005. Mengenal e-learning. http://www.asep hs.web.ugm.ac.id
Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching
and Learning). Depdiknas,
Jakarta
Koran, J.K.C. 2002. Aplikasi E-learning dalam Pengajaran & Pembelajaran di
Sekolah-sekolah Malaysia: Cadangan
Pelaksanaan pada Senario Masa Kini. Pasukan Projek Rintisan Sekolah
Bestari Bahagian Teknologi Pendidikan, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kualalumpur
Oetomo, B.S.D. dan Priyogutomo, Jarot. 2004.
Kajian Terhadap Model e-Media dalam Pembangunan
Sistem e-Education. Makalah Seminar Nasional
Informatika 2004. Universitas Ahmad Dahlan 21 Februari
2004, Yogyakarta
Purbo, Onno, W., 2002. E-Learning Berbasis PHP & MySQL. Penerbit Elex Media Komputindo,
Jakarta
Pannen, Paulina, 1999. Cakrawala
Pendidikan. Universitas Terbuka, Jakarta
Siahaan, Sudirman. 2002. Studi Penjajagan Tentang Kemungkinan Pemanfaatan
Internet Untuk Pembelajaran SLTA di Wilayah Jakarta dan
Sekitarnya. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun
Ke-8, No. 039, November 2002. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta
Slameto, 2003. Belajar dan
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhinya. Rineka
Cipta, Jakarta
Soekartawi, 2002. Pembelajaran Elektronik (E-Learning). Rafa Pustaka, Jakarta
Sugandi, Achmad, 2000. Belajar dan
Pembelajaran.
IKIP
PRESS,
Semarang
Sugandi,
Achmad, dkk. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK
UNNES
Sukarmin, 2011, Petunjuk Penggunaan Situs E Learning Unesa
bagi Dosen. Surabaya: UPT P4
Universitas Negeri Surabaya
Tim PLPG Unesa, 2011. Modul PLPG Geografi Rayon 114 Universitas Negeri
Surabaya. Unipress, Surabaya
Tim UPT P4 UNESA, 2008. Buku Pedoman Program Pengalaman Lapangan
Universitas Negeri Surabaya. Unipress, Surabaya
Wikipedia, 2009, Pengertian
E-Learning, wikipedia.com.
Wulf, 1996. Training via Internet: Where
Are We? Training & Development 50 No.5.
______________, 2011. Buku Pedoman Akademik Tahun 2011. Surabaya: Unipress Universitas Negeri Surabaya
Arikunto, Suharsimi, 2000. Manajemen Penelitian. PT. Rineka Cipta, Jakarta.