Agus Sutedjo
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kajian Kawasan Wisata Goa Maharani Dan Tanjung Kodok Di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Dalam Menunjang Mata Pelajaran Geografi Di Tingkat SLTP Agus Sutedjo,
Pendidikan Dasar Vol 6, No 1 (2005)
Publisher : Pendidikan Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya objek wisata alam merupakan fenomena geografi yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar dan sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan. Tujuan penelitian untuk mengetahui: 1) kondisi fisik, 2) proses-proses geologis, dan 3) kelayakan kawasan wisata Goa Maharani dan Pantai Tanjung Kodok sebagai lokasi wisata pendidikan geografi siswa SLTP. Observasi dan pengukuran dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik proses-proses geologis yang terjadi, analisis KBK mata pelajaran geografi SLTP untuk memperoleh sub-aspek mata pelajaran yang sesuai untuk lingkungan fisik beserta indikatornya. Hasil observasi dan pengukuran didiskripsikan dan dilakukan pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fisik dan proses-proses geologi tidak lengkap untuk pembelajaran geografi namun layak untuk lokasi wisata pendidikan geografi.The research attempts to know the 1) physical condition, 2) geological processes, 3) eligibility area of Goa Maharani and pantai Tanjung Kodok as a location of geography education for SLTP students. Observation and measurement were conducted to know the condition of physical and geological processes happened, analysis of competence based curriculum for geography subject to get the sub aspect of the subject appropriate to the physical environment and its indicators. The finding indicates that the physical condition and geology processes are only appropriate for the location of geography education, but not for geography learning process.
SIKAP MASYARAKAT KABUPATEN TUBAN TERHADAP PENGEMBANGAN OBJEK-OBJEK WISATA DI KABUPATEN TUBAN Agus Sutedjo,
Pendidikan Geografi Vol 10, No 19 (2011)
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengembangan objek-objek wisata di Kabupaten Tuban dilakukan dengan tingkat yang berbeda. Perbedaan tersebut menimbulkan perbedaan jumlah wisatawan yang berkunjung dan hal ini dapat disikapi secara berbeda pula oleh masyarakat. Sehubungan dengan pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tuban, ingin diketahui: 1) sikap masyarakat terhadap pengembangan kepariwisataan, 2) hubungan antara jarak tempat tinggal masyarakat dari objek wisata dengan sikap masyarakat. Untuk mencapai mencapai hal itu digunakan sampel penelitian penduduk yang tinggal di suatu dusun/kampung yang diambil secara random sampling melalui 3 tahap. Data penelitian diambil dengan menggunakan kuesioner yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Skala Likert dan Chi Square. Observasi juaga dilakukan terhadap objek-objek wisata untuk mengetahui kondisinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada masyarakat Kabupaten Tuban yang bersikap antagonism, sebagian kecil bersikap euphoria, dan dalam jumlah yang hamper seimbang bersikap apathy dan annoyance. Di samping itu terdapat hubungan yang signifikan antara jarak tempat tinggal masyarakat dengan sikap penduduk yakni tempat tinggal masyarakat makin jauh dari objek wisata makin menunjukkan keramahan terhadap wisatawan yang berkunjung
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI PEMBELAJARAN E-LEARNING PADA MATA KULIAH GEOGRAFI TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI MAHASISWA YANG MEMPROGRAM DI SEMESTER GASAL TAHUN AKADEMIK 2012/2013 Agus Sutedjo,
Pendidikan Geografi Vol 11, No 21 (2013)
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Teknologi bidang pendidikai dapat dilihat dengan semakin banyaknya penggunaan fasilitas internet untuk membantu proses belajar mengajar. Implementasi sistem e-learning yang bisa memberi lebih banyak waktu dan kesempatan untuk berdiskusi bagi perkuliahan mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis elektronik ke dalam mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi serta mengevaluasi dari pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan web ini. Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan dengan sasaran mahasiswa geografi angkatan 2009 A, B dan C  yang memprogram mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi sejumlah 106 mahasiswa. Penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang dimulai dari menyusun deskripsi, silabus, materi ajar, menyusun jadwal perkuliahan sebanyak 16 kali pertemuan, mengupload materi ajar, menyusun kuis, tugas dan UTS. Juga mengembangkan instrumen penelitian untuk mengetahui tanggapan, kritik dan saran dari  mahasiswa dalam pelaksanaan pembelajaran yang berbasis e-learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlunya persiapan yang matang sebelum mengimplementasikan sebuah pembelajaran  yang berbasis internet karena hal ini memegang peran penting demi kelancaran proses pembelajaran Segala persiapan seperti penjadwalan dengan penentuan teknik komunikasi selama proses pembelajaran merupakan tahapan penting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis web. Dari hasil evaluasi dapat diketahui bahwa partisipasi mahasiswa dalam mengunjungi web rata-rata 68 kali, nilai UTS rata-rata 85,2 dan nilai tugas rata-rata 85,5 serta sebagian besar mahasiswa memberikan tanggapan yang positif. Tanggapan tersebut adalah  pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, mandiri, praktis, baik, membantu, mudah, fleksibel, efisien, efektif, memotivasi, menarik, dapat pengalaman langsung, lebih dulu mengetahui materi, memperlancar proses belajar mengajar, dapat memilih materi dan sebagainya. Sementara itu beberapa kekurangan atau penghambat adalah tidak semua mahasiswa mempunyai sarana laptop, jaringan intranet (wifi) di kampus sering mengalami gangguan. Hambatan yang lain tidak semua tempat mudah untuk mengakses, kadang wifi lambat.   Kata Kunci: Pembelajaran E-learning, implementasi, evaluasi.   PENDAHULUAN Salah satu bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang pendidikan, dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan  informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian  ide, gagasan dan materi pendidikan serta peserta didik itu sendiri (Oetomo dan Priyogutomo, 2004), beberapa bagian unsur ini mendapatkan sentuhan media teknologi informasi, sehingga mencetuskan lahirnya ide tentang e-learning. Skenario mengajar dan belajar perlu disiapkan secara matang dalam kurikulum pembelajaran yang memang dirancang berbasis internet. Mengimplementasikan pembelajaran berbasis internet bukan berarti sekedar meletakkan materi ajar pada web. Selain materi ajar, skenario pembelajaran perlu disiapkan dengan matang untuk mengundang keterlibatan  peserta didik secara aktif dan konstruktif dalam proses belajar mereka. Teknologi baru terutama dalam bidang ICT  memiliki peran yang semakin penting dalam pembelajaran. Banyak orang percaya bahwa multimedia akan dapat membawa kita kepada situasi belajar dimana "learning with effort" akan dapat digantikan dengan " learning with .fun". Apalagi dalam pembelajaran orang dewasa, learning with effort menjadi hal yang cukup menyulitkan untuk dilaksanakan karena berbagai faktor pembatas seperti usia, kemampuan daya tangkap, kemauan berusaha, dan lain lain. E-learning adalah bentuk pembelajaran yang memanfaatkan teknologi elektronik (radio, televisi, film, komputer, internet, dll). Koran (2002)  mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. Sedangkan (Kamarga, 2002) dalam Suyanto (2005) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer untuk memperoleh bahan belajar yang sesuai  dengan kebutuhannya. Rosenberg (2001) dalam Suyanto (2005) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini  senada dengan Cambell (2002), Kamarga (2002) dalam Suyanto (2005)  yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning. Bahkan Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet. Jadi e-learning merupakan bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet. Oleh karena itu e-learning dapat digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh dan juga sistem pendidikan konvensional. Dalam pendidikan konvensional fungsi e-learning bukan untuk mengganti, melainkan memperkuat model pembelajaran konvensional. Dalam hal ini, Cisco (2001) dalam Suyanto (2005) menjelaskan filosofis e-learning sebagai berikut: (a) e-learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara on-line.(b). e-learning  menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi.(c). e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan. (d). Kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar content dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik Keberhasilan belajar siswa menjadi tujuan utama dalam pembelajaran yang berbasis e-learning. Keberhasilan belajar dapat dilihat dari efektivitas hasil belajar siswa. Pengertian efektivitas secara umum menunjukkan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan pengertian efektivitas menurut Hidayat (1986) menjelaskan bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar prosentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Dengan pemanfaatan e learning sebagai sarana pembelajaran diharapkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar diharapkan akan semakin baik, meskipun inovasi ini menimbulkan pro dan kontra dengan berbagai dalih. Karena bagaimanapun bahwa hasil beberapa ujicoba pembelajaran dengan e learning telah memberikan banyak masukan untuk perbaikan sistem. Oleh karena itu, perlu adanya kajian dan penelitian untuk mengetahui bagaimana implementasi dan evaluasi pembelajaran e-learning pada mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi Angkatan tahun 2009 di semester gasal tahun ajaran 2012/2013.   METODE PENELITIAN Sasaran penelitian ini adalah  mahasiswa Prodi Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya angkatan 2009A/B/C yang memprogram mata kuliah geografi tramnsportasi dan komunikasi dengan jumlah 106 mahasiswa. Dalam penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan prosedural. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menggunakan e-learning dalam pembelajaran geografi transportasi dan komunikasi. Langkah-langkah yang dimaksud yaitu : 1.    Merumuskan kembali deskripsi mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi sesuai dengan deskripsi yang termuat dalam buku pedoman Unesa tahun 2009-2010. 2.    Menyusun silabus mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi agar perkuliahan berbasis e- learning berjalan secara sistematis. 3.    Mengembangkan bahan ajar sebagai materi perkuliahan yang mendukung mahasiswa 4.    Menyusun lembar evaluasi berupa soal-soal untuk kuis, tugas dan UTS. 5.    Mengembangkan instrumen penelitian untuk mengetahui tanggapan mahasiswa, pelaksanaan perkuliahan berbasis e learning dan evaluasi yang dikembangkan dosen. Uji coba pengembangan pembelajaran dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan . Dalam bagian ini secara berurutan  dikemukakan desain uji coba, jenis data, instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data.   Desain Uji Coba Secara lengkap, uji coba produk pengembangan dalam penelitian  dilakukan melalui dua  tahapan, yaitu  uji kelompok kecil hanya dengan melibatkan 15 orang saja yang terdiri masing-masing kelas 5 orang, dan kelompok besar yang melibatkan semua mahasiswa angkatan 2009 A/B/C dan tidak melakukan uji lapangan karena keterbatasan waktu.   Jenis Data Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan dan atau daya tarik dari produk yang dihasilkan. Penekanan pada efektifitas suatu pemecahan masalah akan membutuhkan data tentang efektivitas produk yang dikembangkan. Penekanan pelaksanaan pembelajaran berbasis e learning pada keefektivan atau daya tarik. Atas dasar ini, maka jenis data yang perlu dikumpulkan akan disesuaikan dengan informasi apa yang dibutuhkan tentang produk yang dikembangkan. Data yang dimaksudkan adalah data penilaian dari pakar desain pembelajaran berbasis e learning, penilaian dari mahasiswa selaku pelaku yang terlibat dalam perkuliahan yang berbasis e learning dan tanggapan  mahasiswa  tentang     pelaksanaan perkuliahan yang   berbasis e learning. Sedangkan untuk mengetahui implementasi digunakan dengan cara deskriptif sedangkan evaluasi digunakan teknik diskriptif  dengan prosentase yang kemudian disajikan dengan cara deskriptif.   HASIL PENELITIAN Penelitian pada mata kuliah Geografi Transportasi dan Komunikasi ini dilaksanakan sesuai jadwal perkuliahan yang telah ditetapkan oleh Unesa selama 16 kali tatap muka (pertemuan) yaitu dimulai tanggal 3 September 2012 dan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012.  Ketidaksesuaian jadwal perkuliahan muncul ketika yang memprogram adalah mahasiswa angkatan 2009 yang berada pada semester VII dimana mereka tersebut masanya untuk menempuh Praktek Pengajaran Lapangan (PPL) yang jadwalnya melewati permulaan perkuliahan. Perkuliahan untuk Geografi Transportasi dan Komunikasi pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi angkatan 2009 A/B/C yang berjumlah 106 orang dimulai tanggal 24 September 2012 dan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012. Meskipun dalam pelaksanaan perkuliahan hanya 13 kali pertemuan namun hal ini tidak menjadi masalah karena terbantu oleh model pembelajaran yang berbasis e-learning. Hal inilah barangkali yang menjadikan keuntungan  dari model pembelajaran yang berbasis e-learning dalam pembelajaran dengan situasi yang demikian. Jadi kekurangan dalam pertemuan sebanyak tiga kali dapat diatasi dengan penggantian pembelajaran yang berbantuan e-learning. Untuk mengimplementasikan pembelajaran e-learning di Jurusan pendidikan geografi dapat dikatakan masih beberapa mata kuliah yang menguji coba, khusus untuk mata kuliah Geografi Transportasi dan Komunikasi pembelajaran e-learning merupakan  model pembelajaran yang pertama kalinya dilakukan sehingga dibutuhkan persiapan  yang banyak. Persiapan dilakukan tidak hanya mengimplementasikan materi ajar pada web tetapi juga menciptakan skenario pembelajaran dengan matang untuk mengundang keterlibatan peserta didik secara aktif dan konstruktif dalam proses belajar mengajar. Persiapan yang terkait dengan mahasiswa adalah memberitahukan mahasiswa untuk benar-benar dapat menerima pembelajaran yang berbasis e-learning, seperti menyiapkan laptop, modem, wifi  dan juga password untuk dapat login ke mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi yang sudah dionlinekan. Pengimplementasian e-learning pada  proses belajar mengajar mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi ini, sebelum  pembelajaran dimulai dosen memberitahukan dan  menyediakan materi di web untuk diunggah oleh mahasiswa  sehingga dalam hal ini mahasiswa akan tahu terlebih dahulu sebelum dosen mengadakan tatap muka. Namun fungsi dari materi yang disediakan di web adalah opsional artinya mahasiswa diberikan kebebasan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Disamping itu, dosen juga memberikan  materi yang fungsinya komplemen yang artinya adalah materi pembelajaran yag disediakan di web ini sifatnya hanya sebagai pelengkap dari materi yang utama, dalam hal ini mahasiswa diberi kebebasan untuk memanfaatkan atau tidak. Dan fungsi pembelajaran yang terakhir adalah substitusi yaitu dapat digunakan sebagai pengganti ketika antara dosen dan mahasiswa tidak dapat tatap muka seperti ketika mahasiswa PPL sehingga harus mundur tiga kali pertemuan, ketika jadwal kuliah tanggal merah (Idul Adha, libur fakultatif 1 Muharrom) juga dapat dimanfaatkan oleh dosen untuk menggantikan tatap muka dengan kuis dan UTS. Berikut adalah prosedur dalam pengimplementasian e-learning dalam mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi. a.       Dosen membuat deskripsi mata kuliah yang sesuai dengan silabus b.      Dosen menyiapkan materi yang fungsinya sebagai suplemen maupun komplemen yang sesuai dengan silabus. c.       Materi tersebut dibagi dalam 16 kali pertemuan, juga menyiapkan kuis, tugas dan UTS d.      Materi akan dapat didownload 1 minggu  sebelum perkuliahan karena materi sudah disiapkan sesuai jadwal e.       Mahasiswa sudah harus diberitahukan di awal pertemuan terkait dengan semua aturan f.       Perkuliahan berjalan seperti biasa yaitu dengan tatap muka, dengan demikian dalam hal ini peran dosen  menegaskan dari materi yang sudah dionlinekan g.       Ketika ada jadwal yang tidak dapat dilakukan tatap muka maka mahasiswa diminta untuk mengerjakan kuis dan UTS sehingga perkuliahan dapat berjalan sesuai jadwal h.      Untuk jawaban kuis dikirim lewat email sedangkan UTS dapat dikerjakan langsung sehingga mahasiswa akan segera tahu nilainya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebelum mengimplementasikan sebuah pembelajaran berbasis internet memegang peran penting demi kelancaran proses pembelajaran. Segala persiapan seperti penjadwalan sampai dengan penentuan teknik komunikasi selama proses pembelajaran merupakan tahapan penting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis web. Sementara itu dalam pembelajaran e-learning pada mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi yang sudah dilakukan dapat  dikatakan berjalan lancar sesuai harapan meskipun dijumpai beberapa kendala. Untuk lebih jelasnya maka hasil tanggapan, kritik dan saran  dari mahasiswa yang mengikuti kuliah geografi transportasi dan komunikasi pada semester gasal tahun ajaran 2012/2013 dapat dievaluasi sebagai disajikan pada Tabel 1. Dengan melihat tabel 1 dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran E-leaning mendapat tanggapan positif. Artinya bahwa mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran yang baru pertama kalinya dengan internet ini sebagian besar menyatakan senang. Hal ini karena sarana laptop dan modem/wifi bagi mahasiswa sudah merupakan suatu kebutuhan primer. Terlebih pembelajaran ini dilaksanakan untuk mahasiswa semester VII yang sudah mempersiapkan penenlitian  sehingga dapat dikatakan sebagian besar mahasiswa sudah memiliki sarana belajar seperti laptop.   Tabel 1.  Tanggapan Mahasiswa Terkait Pembelajaran E-learning No. Jenis Tanggapan Jumlah( mhs) Persentase (%) 1. Menyenangkan 91 86 2. Memotivasi 89 84 3. Materi lebih lengkap 90 85 4. Membantu pembelajaran 79 75 5. Efektif, efisien 87 82 6. Baik 88 83 7. Mandiri 65 61 8. Dapat mendowload materi 99 93 9. Belajar lebih mudah, kapan dan dimana saja 89 84 10. Melihat materi lebih fleksibel, 70 66 11. Memperlancar PBM 78 74 12. Mampu menerapkan gaya belajar yang berbeda 52 49 13. Dapat memilih materi 68 64 14. Menarik 90 85 15. Praktis 74 70 16. Dapat pengalaman langsung 57 54 17. Lebih mudah 65 61 18. Dapat interaksi langsung 56 53 19. Tahu materi lebih awal 92 87 20. Senang adanya pojok diskusi 48 45 Sumber : Data primer yang diolah, 2012   Disamping mendapatkan tanggapan yang positif terkait ranah kognitif, dalam pembelajaran ini juga menggali aspek afektif yang berusaha untuk mengadakan interaksi antara mahasiswa dengan dosen maupun mahasiswa dengan mahasiswa lewat  pojok diskusi. Di pojok diskusi ini dosen memberikan pernyataan sedangkan mahasiswa menanggapi disamping itu mahasiswa juga dapat bertanya langsung kepada dosen terkait dengan materi dan pengetahuan umum. Banyak mahasiswa (48 mahasiswa)  yang menggunakan pojok diskusi untuk menanyakan materi yang dirasa kurang paham. Disamping itu  fasilitas pojok diskusi dapat memberanikan mahasiswa untuk bertanya tanpa malu dan takut, jadi mahasiswa yang awalnya diam saja maka mahasiswa tersebut terbantu untuk mau bertanya lewat pojok diskusi. Dengan e-learning ini juga dapat dilihat frekuensi partisipasi mahasiswa untuk mengakses materi, kuis, tugas , UTS ataupun menggunakan fasilitas pojok diskusi. Dari hasil rekap absensi (istilah dalam menú e-learning) dapat menunjukkan  frekunesi partisipasi setiap mahasiswa untuk memanfaatkan web yang sudah disediakan tersebut baik untuk mengunggah materi, mengerjakan kuis, tugas, UTS maupun memanfaatkan pojok diskusi.  Sebagian besar mahasiswa 104 mahasiswa dapat mengerjakan kuis dengan waktu yang sudah ditentukan, demikian pula untuk pengerjaan UTS sebagian besar 105 mahasiswa dapat mengerjakan UTS dengan lancar sedangkan 1 mahasiswa mengalami kendala teknik sehingga tidak dapat tuntas mengerjakan soal UTS. Dalam pembelajaran e-learning pada mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi ini juga mendapat beberapa kritik terkait dengan pemberian kuis dan UTS yang terkesan mendadak dan beberapa kali berubah-ubah jadwal. Hal ini disebabkan karena ketika mengumumkan jadwal pelaksanaan kuis yang memang waktunya dibatasi tiba-tiba sebagian mahasiswa tidak dapat mengikuti kuis karena ikut remidi kuliah lapangan,  kejadian ini berlangsung sebanyak tiga  kali. Disamping mendapat kritik yang terkait dengan pelaksanaan kuis, juga sebagian kecil mahasiswa atau sebanyak  8 orang mengeluh  karena  tidak mempunyai laptop dan modem sehingga agar dapat mengakses internet harus ke warnet. Sementara ketika  wifi jurusan tersedia dan yang menggunakan banyak dalam waktu yang bersamaan maka  wifi menjadi lambat. Saran yang dapat diberikan dalam pembelajaran yang berbasis internet adalah perlu akses  yang lebih baik,  perlu penambahan materi dan untuk pelaksanaan UTS (ujian tengah semester) sebaiknya tetap dilaksanakan di kelas karena pengerjaan UTS di luar kelas dengan model e-learning yang tanpa pengawasan hasil yang diperoleh tidak dapat dikatakan obyektif.   PEMBAHASAN Implementasi pembelajaran E-learning dalam mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi ini dilakukan sebelum jadwal tatap muka  setiap minggunya dengan dosen pengampu. Untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berbasis internet ini memang dibutuhkan persiapan yang matang. Tanpa persiapan  yang baik maka pembelajaran ini dapat dikatakan tersendat atau bahkan gagal. Hal ini dialami ketika dalam pelaksanaan proses belajar mengajar tidak dapat dilakukan tatap muka karena jadwal kuliah yang libur yang kemudian diganti dengan waktu yang berbeda maka tidak dapat diterima oleh semua mahasiswa dengan baik. Hal ini dimaklumi karena dengan jumlah mahasiswa yang demikian banyak (106  mahasiswa) tentunya mereka juga sudah mempunyai jadwal pribadi sehingga ketika jadwal itu dirubah maka akan mengganggu jadwal mereka yang sudah tertata dengan baik. Oleh karena itu sangat diperlukan sekali persiapan yang cermat untuk meminimalkan kegagalan. Persiapan menyangkut banyak hal, mulai dari kesiapan mahasiswa maupun  persiapan dosen pengampu. Persiapan yang terkait dengan mahasiswa adalah melibatkan mahasiswa sebanyak mungkin secara aktif dan kondusif dalam proses belajar mengajar dan mengkomunikasikan agar senantiasa update supaya tidak ketinggalan. Sementara untuk dosen pengampu adalah menyiapkan materi untuk bisa diunggah, menyusun jadwal, membuat kuis, tugas, UTS dan evaluasi yang menyeluruh. Untuk menerapkan  model pembelajaran elektronik di dalam kelas (classroom instruction)  ini memiliki 3 fungsi yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi) (Siahaan, 2002). Dalam mengimplementasikan pembelajaran yang berbasis internet ini meskipun mendapatkan kendala namun banyak manfaat yang diperolehnya. Manfaat tersebut antara lain dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara dosen dengan mahasiswa (enhance interactivity) maupun mahasiswa dengan mahasiswa. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Wulf (1996) bahwa apabila dirancang dengan cermat maka pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi antara dosen dengan mahasiswa dan antarmahasiswa. Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Hal ini disebabkan karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas ditambah lagi dengan sifat malu atau takut yang dimiliki oleh mahasiswa. Manfaat yang kedua  memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility, seperti yang disampaikan oleh sebanyak 89 mahasiswa. Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja. Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada dosen begitu selesai dikerjakan. tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan dosen. Meskipun sebagian kecil dari mahasiswa juga menyatakan mendapatkan masalah misalnya sulitnya untuk mengakses di pelosok, wifi yang lambat, jaringan internet yang kadang terganggu.  Beberapa gangguan yang disampaikan tersebut akan mengganggu proses pengerjaan kuis, tugas dan UTS yang waktunya sudah sangat terbatas sekali. Manfaat lainnya bagi dosen adalah mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Fasilitas yang tersedia dalam teknologi  internet dan berbagai perangkat lunak (software) yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan  perkembangan materi keilmuan-nya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan berdasarkan atas umpan balik dari mahasiswa. Apabila dilihat dari  efektivitasnya, dapat dikatakan bahwa hasil pembelajaran dengan menggunakan  internet ini dikatakan sangat efektif karena hasil yang diperoleh oleh mahasiswa menunjukkan partisipasi mahasiswa untuk berkunjung ke web rata-rata 68 kali, sebanyak 2 mahasiswa dengan jumlah kunjungan minimal 2 kali dan 1 mahasiswa terbanyak berkunjung dengan jumlah 226 kali. Sementara itu untuk nilai UTS  rata-rata mahasiswa memperoleh nilai rata-rata 85,2 sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran model ini secara nyata dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa.  Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Depdiknas (2002) bahwa efektivitas adalah berasal dari kata efektif yang berarti membawa hasil, berhasil guna, ada efeknya, pengaruhnya, akibatnya/ kesannya (Depdiknas, 2002). Pengertian efektivitas secara umum menunjukkan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan pengertian efektivitas menurut Hidayat (1986), menjelaskan bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasarannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa pembelajaran efektif  merupakan suatu pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk dapat belajar  dengan mudah, menyenangkan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian pembelajaran dikatakan efektif apabila tujuan dari pembelajaran tersebut tercapai. Vietzal (1999) mengemukakan bahwa efektivitas tidak hanya dilihat dari sisi produktivitas, tetapi juga dilihat dari sisi persepsi seseorang. Dengan demikian dalam pembelajaran, efektivitas bukan semata-mata dilihat dari tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai konsep yang ditunjukkan dengan nilai hasil belajar tetapi juga dilihat dari respon siswa terhadap pembelajaran yang telah diikuti. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Vietsal bahwa dalam pembelajaran elektronik ini memberiskan respon yang positif. Berdasarkan uraian diatas disimpul-kan bahwa efektivitas pembelajaran adalah  ukuran keberhasilan dari suatu proses interaksi antar mahasiswa maupun antara mahasiswa dengan dosen dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat dilihat dari aktivitas mahasiswa selama  pembelajaran berlangsung, respon siswa terhadap pembelajaran dan penguasaan konsep oleh mahasiswa. Aktivitas mahasiswa dapat dilihat dari partisipasi mahasiswa  ketika mengunjungi web yang menunjukkan rata-rata 68 kali kunjungan yang digunakan baik untuk mengunggah materi, membuka tugas, mengerjakan kuis ataupun mengerjakan UTS. Respon mahasiswa menunjukkan sebagian besar mahasiswa atau sebanyak  91 orang (86%) menyatakan senang dengan pembelajaran ini. Dan untuk mengetahui penguasaan konsep dapat dilihat dari hasil nilai yang diperoleh mahasiswa selama mengerjakan tugas yang rata-ratanya 85,5 sedangkan UTS rata-ratanya adalah 85,2. Berdasarkan hasil seperti di atas, dapat dikatakan bahwa dalam pembelajaran sistem e-learning ini ternyata memberikan banyak tanggapan positif terhadap mahasiswa yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya nilai yang diperoleh baik komponen nilai partisipasi, nilai tugas nilai kuis maupun nilai UTS.   SIMPULAN 1.    Untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berbasis internet dibutuhkan kesiapan yang matang untuk memperoleh hasil yang maksimal baik persiapan  untuk mahasiswa maupun persiapan untuk  dosen pengampu. 2.    Banyak hal positif yang dapat diperoleh mahasiswa terkait dalam pembelajaran yang berbasis internet ini, misalnya: menyenangkan, mandiri, praktis, baik, fleksibel, efisien, efektif, bisa chatting, dapat materi lebih awal,  memotivasi, materi lebih lengkap, membantu pembelajaran, dapat mendownload, lebih berinteraksi, dapat menerapkan pembelajaran baru, dan mendapatkan pengalaman seara langsung, 3.    Pembelajaran yang berbasis elektronik ini secara nyata dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa dengan jumlah kunjungan partisipasi rata-rata 68 kali, nilai tugas 85,5 dan nilai UTS rata-rata 85,2.   SARAN 1.    Perlu adanya sosialisasi kepada dosen  di lingkungan Unesa untuk  menerapkan pembelajaran e-learning mengingat banyak mahasiswa yang memberikan tanggapan yang positif yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar 2.    Untuk mendukung kegiatan yang berbasis internet perlu adanya  sarana pendukung seperti hot spot di lingkungan Unesa yang konsisten   DAFTAR PUSTAKA   Suyanto,  Asep, H., 2005. Mengenal e-learning. http://www.asep hs.web.ugm.ac.id   Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Depdiknas, Jakarta   Koran, J.K.C. 2002. Aplikasi E-learning dalam Pengajaran & Pembelajaran di Sekolah-sekolah Malaysia: Cadangan Pelaksanaan pada Senario Masa Kini. Pasukan Projek Rintisan Sekolah Bestari Bahagian Teknologi Pendidikan, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kualalumpur   Oetomo, B.S.D. dan Priyogutomo, Jarot. 2004. Kajian Terhadap Model e-Media dalam Pembangunan  Sistem e-Education. Makalah Seminar Nasional Informatika 2004. Universitas Ahmad Dahlan 21 Februari 2004, Yogyakarta   Purbo, Onno, W., 2002. E-Learning Berbasis PHP & MySQL. Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta   Pannen, Paulina, 1999. Cakrawala Pendidikan. Universitas Terbuka, Jakarta   Siahaan, Sudirman. 2002. Studi Penjajagan Tentang Kemungkinan Pemanfaatan Internet Untuk  Pembelajaran SLTA di Wilayah Jakarta dan Sekitarnya. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun Ke-8, No. 039, November 2002. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta   Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta, Jakarta   Soekartawi, 2002. Pembelajaran Elektronik (E-Learning). Rafa Pustaka, Jakarta   Sugandi, Achmad, 2000. Belajar dan Pembelajaran. IKIP PRESS, Semarang   Sugandi, Achmad, dkk. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK     UNNES   Sukarmin, 2011, Petunjuk Penggunaan Situs E Learning Unesa bagi Dosen. Surabaya:  UPT P4 Universitas Negeri Surabaya   Tim PLPG Unesa, 2011. Modul PLPG Geografi Rayon 114 Universitas Negeri Surabaya. Unipress, Surabaya   Tim UPT P4 UNESA, 2008. Buku Pedoman Program Pengalaman Lapangan Universitas Negeri Surabaya. Unipress, Surabaya   Wikipedia, 2009, Pengertian E-Learning, wikipedia.com.   Wulf, 1996. Training via Internet: Where Are We? Training & Development 50 No.5.   ______________, 2011. Buku Pedoman Akademik Tahun 2011. Surabaya: Unipress Universitas Negeri Surabaya   Arikunto, Suharsimi, 2000. Manajemen Penelitian. PT. Rineka Cipta, Jakarta.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN PLATFORM LUMIO BY SMART UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK SMP NEGERI 40 SURABAYA Intan Maulina, Safira; Agus Sutedjo; Pras Setyawati
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 04 (2024): Volume 09 No. 04, Desember 2024.
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i04.18427

Abstract

The problem currently being faced in social studies learning for class IX-E of SMP Negeri 40 Surabaya is that 17 out of 31 students or around 54.83% (fifty four point eighty three percent) of students have not reached the Learning Goal Achievement Criteria (KKTP). So this has a continuous impact on students' knowledge and hampers the process of achieving classical completion. So this research was carried out with the aim of improving the learning outcomes of class IX E students at SMP Negeri 40 Surabaya through the application of the Problem Based Learning (PBL) learning model which is supported by the Lumio by Smart digital learning platform. This Classroom Action Research (PTK) was carried out in two cycles, each of which consisted of planning, implementation, observation and reflection stages. The research results showed a significant increase in student learning outcomes. In the pre-cycle, the average learning outcome reached 60.32 with classical completeness of 45.16%. After implementing the first cycle, the average learning outcome increased to 74.67 with classical completeness of 58.06%. In the second cycle, learning outcomes increased more significantly with an average of 85.48 and classical completeness reached 93.54%. The conclusion of this research is that the application of the PBL model supported by Lumio by Smart effectively improves student learning outcomes, as well as having a positive impact on their involvement and motivation in the learning process.