Tanjung, Ikhwana
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sejarah dan Tradisi Budaya Masyarakat Alas di Kabupaten Aceh Tenggara Sekedang, Andika Syahputra; Sitorus, Marety; Tanjung, Ikhwana; Ardiansyah, Arva Tri; Pasaribu, Muhammad Partahanan; Harahap, Syahrawali
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.828 KB)

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tentang sejarah dan tradisi budaya masyarakat Alas di Kutacane Aceh Tenggara. Penelitian merupakan jenis penelitian kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa (1) sejarah masyarakat Alas yang diistilahkan dengan khang Alas atau kalak Alas, telah lama bermukim di Lembah Alas, Kutacane Aceh Tenggara. Kalak Alas mendiami daerah Aceh Tenggara jauh sebelum kolonial Belanda masuk ke Indonesia, hal ini sesuai dengan buku Karya Radermacher (orang Belanda) yang menyebutkan bahwa Islam masuk ke daerah tanoh Alas sejak tahun 1325 M. Asal muasal Lembah Alas, konon dulu kawasan itu merupakan sebuah danau yang sangat luas, akan tetapi kemudian mengering disebabkan pecahnya batu penyangga yang terdapat di daerah Singkil. Makanya danau itu pun berubah menjadi lembah. Nama Alas sejatinya diperuntukkan bagi seorang atau kelompok etnis, sedangkan daerah Alas disebut dengan kata Tanoh Alas. Kata Alas sendiri berasal dari nama seorang kepala etnis, cucu dari Raja Lambing yang bermukim di desa paling tua yaitu Desa Batu Mbulan. Raja Lambing sendiri keturunan Raja Lotung, cucu dari Guru Tatae Bulan dari Samosir, Tanah Batak. (2) Adapun salah satu tradisi budaya yang diulas dalam artikel ini ialah tradisi pemamanen.
Sejarah dan Tradisi Budaya Masyarakat Alas di Kabupaten Aceh Tenggara Sekedang, Andika Syahputra; Sitorus, Marety; Tanjung, Ikhwana; Ardiansyah, Arva Tri; Pasaribu, Muhammad Partahanan; Harahap, Syahrawali
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v6i1.2834

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tentang sejarah dan tradisi budaya masyarakat Alas di Kutacane Aceh Tenggara. Penelitian merupakan jenis penelitian kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa (1) sejarah masyarakat Alas yang diistilahkan dengan khang Alas atau kalak Alas, telah lama bermukim di Lembah Alas, Kutacane Aceh Tenggara. Kalak Alas mendiami daerah Aceh Tenggara jauh sebelum kolonial Belanda masuk ke Indonesia, hal ini sesuai dengan buku Karya Radermacher (orang Belanda) yang menyebutkan bahwa Islam masuk ke daerah tanoh Alas sejak tahun 1325 M. Asal muasal Lembah Alas, konon dulu kawasan itu merupakan sebuah danau yang sangat luas, akan tetapi kemudian mengering disebabkan pecahnya batu penyangga yang terdapat di daerah Singkil. Makanya danau itu pun berubah menjadi lembah. Nama Alas sejatinya diperuntukkan bagi seorang atau kelompok etnis, sedangkan daerah Alas disebut dengan kata Tanoh Alas. Kata Alas sendiri berasal dari nama seorang kepala etnis, cucu dari Raja Lambing yang bermukim di desa paling tua yaitu Desa Batu Mbulan. Raja Lambing sendiri keturunan Raja Lotung, cucu dari Guru Tatae Bulan dari Samosir, Tanah Batak. (2) Adapun salah satu tradisi budaya yang diulas dalam artikel ini ialah tradisi pemamanen.
Penanganan Limbah Sampah Plastik Berbasis Kearifan Lokal di Kelurahan Sirandorung Kabupaten Labuhanbatu Munthe, Rahmad Nur; Tanjung, Ikhwana; Munthe, Indah
Inspiratif Pendidikan Vol 11 No 2 (2022): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ip.v11i2.24988

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Oleh sebab itu, peran pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam penanganan permasalahan mengenai sampah, terutama pemanfaatan sampah plastik yang baik dan benar agar dapat menghasilkan output yang memuaskan bagi masyarakat sekitar. Kesadaran dari semua pihak masyarakat sangat diperlukan dalam hal pemanfaatan sampah, sebab tidak selamanya sampah plastik itu berdampak buruk dan tidak bernilai, jika diatasi dengan solusi yang tepat. Oleh karena itu memanfaatkan sampah plastik menjadi ecobrick adalah jalan untuk mengurangi sampah plastik yang ada, serta mendaur ulang dengan media botol plastik untuk dijadikan barang atau benda yang berguna (reuse) dan bernilai jual. Terobosan atau inovasi ecobrick ini dapat dijadikan sebagai taman baca untuk anak-anak dan masyarakat sekitar linkungan Pasuruan Jaya, Kelurahan Sirandorung, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara