Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tentang sejarah dan tradisi budaya masyarakat Alas di Kutacane Aceh Tenggara. Penelitian merupakan jenis penelitian kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa (1) sejarah masyarakat Alas yang diistilahkan dengan khang Alas atau kalak Alas, telah lama bermukim di Lembah Alas, Kutacane Aceh Tenggara. Kalak Alas mendiami daerah Aceh Tenggara jauh sebelum kolonial Belanda masuk ke Indonesia, hal ini sesuai dengan buku Karya Radermacher (orang Belanda) yang menyebutkan bahwa Islam masuk ke daerah tanoh Alas sejak tahun 1325 M. Asal muasal Lembah Alas, konon dulu kawasan itu merupakan sebuah danau yang sangat luas, akan tetapi kemudian mengering disebabkan pecahnya batu penyangga yang terdapat di daerah Singkil. Makanya danau itu pun berubah menjadi lembah. Nama Alas sejatinya diperuntukkan bagi seorang atau kelompok etnis, sedangkan daerah Alas disebut dengan kata Tanoh Alas. Kata Alas sendiri berasal dari nama seorang kepala etnis, cucu dari Raja Lambing yang bermukim di desa paling tua yaitu Desa Batu Mbulan. Raja Lambing sendiri keturunan Raja Lotung, cucu dari Guru Tatae Bulan dari Samosir, Tanah Batak. (2) Adapun salah satu tradisi budaya yang diulas dalam artikel ini ialah tradisi pemamanen.
Copyrights © 2022