Ahmad Sahidah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Islam dan Demokrasi di Malaysia: Hubungan Agama dan Negara yang Unik Ahmad Sahidah
Millah: Journal of Religious Studies Vol. X, No. 2, Februari 2011 Reformulasi Relasi Agama-Negara
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol10.iss2.art2

Abstract

Some Malaysian people has repudiated their country as an Islamic state. At the same time, the other people, especially Muslims, asserted that Malaysia already is and ought to be regarded such. The participation of Malaysia in Organization of the Islamic Conference and the enactment of syari’ah in its law system has evident in it self. From the discourse of Islamic politics, however, the Islamic state is not a monolithic concept. Interestingly, after the Pakatan Rakyat won many seats in parliament in 2008, politicians has paid attention on welfare state issues, not Islamic state, as a common denominator between Islamic party and secular party that has made a shared coalition to be an alternative from the National Front.
Epistemologi Pesantren sebagai Tradisi Pengetahuan Praksis: Otoritas, Habitus, dan Produksi Ilmu Helmi; Moh. Affan; Abd. Somad; Ahmad Basuni; Ahmad Sahidah
Al Yasini : Jurnal Keislaman, Sosial, hukum dan Pendidikan Vol 11 No 01 (2026)
Publisher : Konsorsium Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Yasini Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55102/alyasini.v11i01.7219

Abstract

Artikel ini mengkaji epistemologi pesantren sebagai sistem produksi, legitimasi, dan transmisi pengetahuan Islam yang memiliki otonomi intelektual dan berbeda secara fundamental dari epistemologi pendidikan modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan filosofis-epistemologis untuk menganalisis struktur epistemik pesantren yang terbentuk melalui interaksi kompleks antara kitab kuning sebagai medium epistemik, otoritas kiai sebagai subjek epistemik, dan tradisi sanad keilmuan sebagai mekanisme validasi pengetahuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa epistemologi pesantren mengintegrasikan tiga pilar pengetahuan Islam—Bayani (tekstual-normatif), Burhani (rasional-empiris), dan 'Irfani (intuitif-spiritual)—yang bekerja secara simultan tanpa dikotomi. Wahyu, akal, tradisi, dan sanad membentuk struktur epistemologis yang integratif dan holistik, di mana wahyu menjadi fondasi normatif, akal sebagai instrumen analisis, tradisi menjaga kesinambungan intelektual, dan sanad memastikan otoritas serta validitas ilmu. Artikel ini juga menganalisis habitus kepesantrenan seperti ta'dzim, tirakat, khidmah, dan adab sebagai mekanisme epistemologis yang membentuk subjek pengetahuan, bukan sekadar etika moral. Pesantren dipahami sebagai epistemologi praksis yang menolak pemisahan dikotomis antara knowing (mengetahui), being (menjadi), dan doing (bertindak). Secara filosofis, epistemologi pesantren menawarkan kritik fundamental terhadap epistemologi Barat-modern yang positivistik, ahistoris, dan individualistik. Penelitian ini menegaskan relevansi epistemologi pesantren bagi pengembangan filsafat ilmu Islam kontemporer dan kontribusinya dalam wacana dekolonisasi pengetahuan berbasis tradisi intelektual lokal Indonesia yang hidup dan produktif.