Neviyarni S, Neviyarni S
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi: Studi Awal Putra, Irdhan Epria Darma; Neviyarni S, Neviyarni S
Jurnal Basicedu Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v7i1.4193

Abstract

Identifikasi merupakan proses tindak lanjut untuk mengklasifikasikan anak sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak sehingga anak memperoleh penanganan dan pelayanan khusus yang tepat diberikan kepada anak. Penelitian ini dilakukan untuk membahas identifikasi anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Penggunaan metode dilakukan dengan meta-anlisis studi kepustakaan sesuai dengan sepuluh artikel di jurnal nasional berdasarkan  lima indikator, yaitu  screening, referal (pengalihtanganan), classification, perencanaan pembelajaran, dan pengawasan perkembangan pembelajaran ABK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan belum banyak guru mengetahui pentingnya proses identifikasi ABK di sekolah inklusi karena ketersediaan SDM guru di sekolah untuk mendampingi dan menangani anak berkebutuhan khusus. Disamping itu, guru perlu melakukan kolaborasi dan berkoordinasi dengan orang tua, tenaga ahli, dan guru pendamping khusus untuk anak berkebutuhan khusus agar mereka memperoleh pelayanan khusus dan bisa menerima materi pembelajaran sama dengan anak normal lainnya.
Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi: Studi Awal Putra, Irdhan Epria Darma; Neviyarni S, Neviyarni S
Jurnal Basicedu Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v7i1.4193

Abstract

Identifikasi merupakan proses tindak lanjut untuk mengklasifikasikan anak sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak sehingga anak memperoleh penanganan dan pelayanan khusus yang tepat diberikan kepada anak. Penelitian ini dilakukan untuk membahas identifikasi anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Penggunaan metode dilakukan dengan meta-anlisis studi kepustakaan sesuai dengan sepuluh artikel di jurnal nasional berdasarkan  lima indikator, yaitu  screening, referal (pengalihtanganan), classification, perencanaan pembelajaran, dan pengawasan perkembangan pembelajaran ABK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan belum banyak guru mengetahui pentingnya proses identifikasi ABK di sekolah inklusi karena ketersediaan SDM guru di sekolah untuk mendampingi dan menangani anak berkebutuhan khusus. Disamping itu, guru perlu melakukan kolaborasi dan berkoordinasi dengan orang tua, tenaga ahli, dan guru pendamping khusus untuk anak berkebutuhan khusus agar mereka memperoleh pelayanan khusus dan bisa menerima materi pembelajaran sama dengan anak normal lainnya.
Mapping the Challenges of Psychoanalytic Approaches in Group Guidance and Counseling: A Systematic Literature Review Kardo, Rici; Neviyarni S, Neviyarni S; Netrawati, Netrawati; Hariko, Rezki
Jurnal Counseling Care Vol 9, No 2 (2025): Jurnal Counseling Care, [Terakreditasi Sinta 4] No: 225/E/KPT/2022
Publisher : Universitas PGRI SUMATERA BARAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jcc.2025.v9i2.10795

Abstract

Pendekatan psikoanalitik dalam bimbingan dan konseling kelompok merupakan salah satu metode yang berupaya membantu individu memahami dinamika kepribadian, konflik intrapsikis, serta pengaruh pengalaman masa lalu terhadap perilaku masa kini. Namun, dalam praktiknya masih terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi. Permasalahan konseptual muncul karena kurangnya pemahaman konselor mengenai teori psikoanalitik dan kesulitan dalam mengintegrasikan konsep id, ego, serta superego ke dalam dinamika kelompok. Dari sisi teknis, kendala seperti keterbatasan waktu, jumlah anggota yang tidak seimbang, serta kesulitan menjaga kerahasiaan sering menjadi hambatan. Selain itu, konselor menghadapi kesulitan dalam mengelola resistensi, keterbatasan keterampilan interpretasi simbol bawah sadar, serta tantangan dalam menciptakan suasana aman untuk asosiasi bebas. Di pihak anggota kelompok, muncul resistensi, rasa enggan membuka diri, perbedaan tingkat kedewasaan psikologis, hingga potensi konflik antar anggota. Permasalahan lain juga datang dari faktor lingkungan, seperti minimnya dukungan sekolah, keterbatasan fasilitas, serta ketidaksesuaian dengan norma budaya tertentu. Berbagai permasalahan ini menunjukkan perlunya peningkatan kompetensi konselor, penyesuaian strategi, serta dukungan institusi agar pendekatan psikoanalitik dalam konseling kelompok dapat diterapkan secara lebih efektif.