Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Effects of Reproductive Health Education Using Video Animation Towards Reproductive Health Knowledge and Attitudes in 5th and 6th Elementary Grade Students in Serang City, Banten Edy Mustofa; I Made Arya Subadiyasa; Agus Sholahuddin; Arif Rahman Nurdianto
Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma Vol 10, No 2 (2021): SEPTEMBER 2021
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.527 KB) | DOI: 10.30742/jikw.v10i2.1230

Abstract

Introduction: Adolescent reproductive health education aims to increase knowledge and attitudes about reproductive health. Therefore, an easy, inexpensive, and standardized method of education is needed in the delivery of reproductive health material to young adolescents, one of them is audiovisual media animationMethod: The research was conducted using a pre-experimental research design pretest-posttest one group design within 31 days. This study used a total sample of 180 subjects, furthermore, the data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM).Result: Education with reproductive health animated videos increased knowledge about reproductive health immediately after education was given (P = 0.002), but after 31 days, it did not affect (P = 0.171). Education with animated videos did not affect the subjects’ attitude immediately after education was carried out (P = 0.802) but had an effect after 31 days from the start of education (P = 0.031). After analyzing the correlation including other confounding variables (R square), it was found that the effect of education with animated videos towards the increasing knowledge of reproductive health was 14.9%, and 8.4% towards changes in subject attitudes.Discussion: Health education with video animation increases knowledge, but the phenomenon of attitudes such as dating still occurs even the subjects’ knowledge have increased.Conclusion: Reproductive health education using animated videos increases knowledge but does not change attitudes in reproductive health
Korelasi Lingkar Lengan Atas (LILA) Ibu Hamil dengan Berat Badan Lahir Bayi I Made Arya Subadiyasa; Ratu Diah Koerniawati; Nadya Ariani
Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2023): June
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ghidza.v7i1.656

Abstract

Berat badan lahir rendah merupakan faktor risiko terjadinya stunting dan wasting sampai anak berusia 5 tahun. Berat badan lahir bayi berhubungan erat dengan status nutrisi ibu hamil. Status nutrisi ibu hamil diukur menggunakan Lingkar Lengan Atas (LILA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara LILA trimester 1 dan LILA saat sebelum persalinan cukup bulan dengan Berat badan lahir bayi. Studi potong lintang pada 127 ibu hamil di RS Kurnia Serang Banten periode bulan Februari 2021 sampai bulan Juli 2021 menggunakan kuesioner dan anthropometri. Nilai rata-rata dan standar deviasi Lila Semester 1 dan LILA saat sebelum persalinan adalah 26.42 ± 3.37 cm dan 26.36 ± 3.20 cm sedangkan nilai rata-rata berat badan lahir bayi adalah 3046.29 ± 421.65 gram. Uji korelasi menggunakan spearman's rho antara LILA Trimester 1 dengan Berat Badan Lahir Bayi mendapatkan koefisian korelasi 0.293 dengan sig (2-tailed) 0.001 dan antara LILA saat sebelum persalinan cukup bulan dengan berat badan lahir bayi mendapatkan koefisien korelasi 0.320 dan sig (2-tailed) 0.000. LILA berkorelasi positif dan signifikan terhadap berat badan lahir bayi. Dengan mengetahui status nutrisi ibu hamil, dapat dilakukan intervensi gizi untuk mendapatkan berat badan lahir bayi yang optimal.
Lilitan Tali Pusat Di Leher Dan Tubuh Janin Sebagai Penyebab Kematian Bayi Dalam Rahim : Laporan Kasus Subadiyasa, I Made Arya; Ariani, Nadya
Tirtayasa Medical Journal Vol 2, No 2 (2023): April
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/tmj.v2i2.19668

Abstract

Penulis melaporkan kasus kematian janin dalam rahim yang diakibatkan oleh kompleksitas lilitan tali pusat pada bagian tubuh multipel pada janin. Lilitan tali pusat pada leher janin diketahui sejak usia kehamilan 27 minggu akan tetapi pola dari lilitan tidak diketahui. Pada usia kehamilan 32 minggu pasien tidak merasakan gerakan janin, denyut jantung janin sudah tidak ada yang dikonfirmasi dengan ultrasonografi (USG). Janin dilahirkan dengan seksio caesarea dan ditemukan lilitan tali pusat di leher, melintang di punggung dan melilit bagian badan janin dengan Panjang tali pusat 76 cm. Penilaian prenatal USG tali pusat yang baik, dapat memprediksi hasil luaran janin. Komunikasi yang baik juga perlu dilakukan pada pasien yang diketahui janinnya terdapat lilitan tali pusat agar pasien tidak khawatir berlebihan tetapi juga memahami bahaya dari lilitan tali pusat.
Lilitan Tali Pusat Di Leher Dan Tubuh Janin Sebagai Penyebab Kematian Bayi Dalam Rahim : Laporan Kasus Subadiyasa, I Made Arya; Ariani, Nadya
Tirtayasa Medical Journal Vol 2, No 2 (2023): April
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/tmj.v2i2.19668

Abstract

Penulis melaporkan kasus kematian janin dalam rahim yang diakibatkan oleh kompleksitas lilitan tali pusat pada bagian tubuh multipel pada janin. Lilitan tali pusat pada leher janin diketahui sejak usia kehamilan 27 minggu akan tetapi pola dari lilitan tidak diketahui. Pada usia kehamilan 32 minggu pasien tidak merasakan gerakan janin, denyut jantung janin sudah tidak ada yang dikonfirmasi dengan ultrasonografi (USG). Janin dilahirkan dengan seksio caesarea dan ditemukan lilitan tali pusat di leher, melintang di punggung dan melilit bagian badan janin dengan Panjang tali pusat 76 cm. Penilaian prenatal USG tali pusat yang baik, dapat memprediksi hasil luaran janin. Komunikasi yang baik juga perlu dilakukan pada pasien yang diketahui janinnya terdapat lilitan tali pusat agar pasien tidak khawatir berlebihan tetapi juga memahami bahaya dari lilitan tali pusat.
LAPORAN KASUS BERBASIS BUKTI: PERBANDINGAN KEBERHASILAN STAPLER HEMORRHOIDOPEXY DALAM MENCEGAH KEKAMBUHAN PADA PASIEN HEMOROID Hardi, Firly Alfiza; Sasmita, Guruh Nata; Pradyaharini, Zahra Adinda; Syifa, Nazwa; Nafan, Nabila Utiya; Subadiyasa, I Made Arya
Tirtayasa Medical Journal Vol 4, No 2 (2025): May
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/tmj.v4i2.31751

Abstract

Latar Belakang: Wasir merupakan penyakit anorektal yang disebabkan oleh pelebaran dan peradangan pada vena anus. WHO melaporkan bahwa 54% dari populasi menderita wasir, dengan angka yang lebih tinggi di negara-negara maju karena pola makan rendah serat dan gaya hidup yang tidak banyak bergerak. Pada wasir derajat III, prolaps tidak kembali secara spontan dan seringkali memerlukan pembedahan. Hemoroidopeksi Stapler (SH) dinilai kurang nyeri dan memiliki pemulihan yang lebih cepat dibandingkan dengan hemoroidektomi konvensional, tetapi tingkat kekambuhannya masih diperdebatkan. Tujuan: EBCR ini membandingkan efikasi SH dan hemoroidektomi konvensional dalam mencegah kekambuhan wasir. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada PUBMED, Cochrane, dan ProQuest dengan menggunakan kata kunci dan Operator Boolean. Penelitian yang dijelaskan merupakan RCT yang terkait dengan tingkat kekambuhan antara SH dan hemoroidektomi konvensional. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa SH memiliki tingkat kekambuhan yang lebih tinggi (18-25%) dibandingkan dengan hemoroidektomi konvensional (10-23%) dalam tindak lanjut 2-5 tahun. Namun, SH menyebabkan lebih sedikit nyeri pascaoperasi dan pemulihan yang lebih cepat, dengan pasien kembali beraktivitas dalam waktu 2 minggu. Sebaliknya, hemoroidektomi konvensional lebih menyakitkan tetapi lebih efektif dalam jangka panjang. Kesimpulan: SH lebih unggul dalam pemulihan yang cepat dan nyeri minimal, tetapi memiliki risiko kekambuhan yang lebih tinggi daripada hemoroidektomi konvensional. Pilihan prosedur harus mempertimbangkan efektivitas jangka panjang dan preferensi pasien.
LAPORAN KASUS BERBASIS BUKTI: PERBANDINGAN KEBERHASILAN STAPLER HEMORRHOIDOPEXY DALAM MENCEGAH KEKAMBUHAN PADA PASIEN HEMOROID Hardi, Firly Alfiza; Sasmita, Guruh Nata; Pradyaharini, Zahra Adinda; Syifa, Nazwa; Nafan, Nabila Utiya; Subadiyasa, I Made Arya
Tirtayasa Medical Journal Vol 4, No 2 (2025): May
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/tmj.v4i2.31751

Abstract

Latar Belakang: Wasir merupakan penyakit anorektal yang disebabkan oleh pelebaran dan peradangan pada vena anus. WHO melaporkan bahwa 54% dari populasi menderita wasir, dengan angka yang lebih tinggi di negara-negara maju karena pola makan rendah serat dan gaya hidup yang tidak banyak bergerak. Pada wasir derajat III, prolaps tidak kembali secara spontan dan seringkali memerlukan pembedahan. Hemoroidopeksi Stapler (SH) dinilai kurang nyeri dan memiliki pemulihan yang lebih cepat dibandingkan dengan hemoroidektomi konvensional, tetapi tingkat kekambuhannya masih diperdebatkan. Tujuan: EBCR ini membandingkan efikasi SH dan hemoroidektomi konvensional dalam mencegah kekambuhan wasir. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada PUBMED, Cochrane, dan ProQuest dengan menggunakan kata kunci dan Operator Boolean. Penelitian yang dijelaskan merupakan RCT yang terkait dengan tingkat kekambuhan antara SH dan hemoroidektomi konvensional. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa SH memiliki tingkat kekambuhan yang lebih tinggi (18-25%) dibandingkan dengan hemoroidektomi konvensional (10-23%) dalam tindak lanjut 2-5 tahun. Namun, SH menyebabkan lebih sedikit nyeri pascaoperasi dan pemulihan yang lebih cepat, dengan pasien kembali beraktivitas dalam waktu 2 minggu. Sebaliknya, hemoroidektomi konvensional lebih menyakitkan tetapi lebih efektif dalam jangka panjang. Kesimpulan: SH lebih unggul dalam pemulihan yang cepat dan nyeri minimal, tetapi memiliki risiko kekambuhan yang lebih tinggi daripada hemoroidektomi konvensional. Pilihan prosedur harus mempertimbangkan efektivitas jangka panjang dan preferensi pasien.
Peran Kepemimpinan dan Kolaborasi Dalam Upaya Penurunan Jumlah Kematian Ibu di Kecamatan Waringinkurung Kabupaten Serang Banten: The Role of Leadership and Collaboration to Reduce the Number of Maternal Mortality in Waringinkurung District, Serang Regency, Banten Subadiyasa, I Made Arya; Puspita Sari, Aprillia Putrie Dewi; Al Islami, M Sultan Firdaus; Savitri, Amrita Dewi
Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jppmi.v4i2.972

Abstract

Angka Kematian Ibu merupakan salah satu indikator untuk menilai derajat kesehatan suatu masyarakat. Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian kematian ibu disuatu wilayah, salah satunya adalah kurangnya peran kepemimpinan dan kolaborasi dalam pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi merupakan salah satu profesi potensial yang diharapkan mampu memimpin dan mengkolaborasikan para pemangku kepentingan yang berperan di bidang kesehatan maupun non kesehatan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu menjaga kesehatan dan mencegah kematian ibu hamil, bersalin dan nifas. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi yang biasanya berpraktek hanya di Rumah Sakit harus turun ke masyarakat untuk ikut memecahkan masalah kesehatan di wilayahnya. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah mempraktekan kepemimpinan dan mengolaborasikan para pemangku kepentingan untuk menjaga kesehatan dan mencegah kematian ibu hamil, bersalin dan nifas. Metode pelaksanaan yang dilakukan adalah menggali masalah, mencari solusi dan melaksanakan upaya pemecahan masalah diantaranya dengan melaksanakan focus group discussion antar pemangku kepentingan, pendampingan skrining pemeriksaan kehamilan dan ultrasonografi ibu hamil risiko tinggi kepada dokter umum, peningkatan pengetahuan dan keterampilan dokter, bidan, perawat dan kader, serta lomba bidan desa dan kader teladan tingkat kecamatan. Hasil kegiatan dari pengabdian masyarakat ini adalah peningkatan koordinasi antara bidan desa, puskesmas dan Rumah Sakit rujukan, peningkatan kompetensi dokter umum, bidan dan perawat dalam penanganan kasus emergensi obstetri dan neonatal, peningkatan pengetahuan kader dalam melaksanakan pelayanan kesehatan untuk ibu hamil dari nilai rata-rata pre test 57,1 menjadi 76,5 saat post test, serta pelibatan pemangku kepentingan non kesehatan dalam hal ini adalah pihak kecamatan untuk ikut serta berperan dalam menjaga kesehatan dan mencegah kematian ibu hamil, bersalin dan nifas. Melalui kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat menjadi model salah satu upaya penurunan angka kematian ibu dan model pemenuhan kewajiban Rumah Sakit dalam perannya dalam mengatasi masalah kesehatan di luar Rumah Sakit.
Hubungan Pengetahuan Mengenai Kontrasepsi dengan Kepatuhan Penggunaan Kontrasepsi pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Kasemen I Made Arya Subadiyasa; Kania Pradiva Maharani; Luluk Hermawati
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2026): Juli: Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v6i2.10467

Abstract

The prevalence of married women of childbearing age using contraception in Serang City is 53.34%, the third lowest in Banten Province. In 2023, Kasemen District was recorded as the area with the lowest number of new contraceptive acceptors in Serang City (58% of the target). One of the main challenges of the family planning program is the high unmet need due to non-compliance with contraceptive use, which can reduce the effectiveness of contraception and increase the risk of unwanted pregnancies and maternal and child mortality. This study was conducted to analyze the relationship between knowledge of contraception and compliance to contraceptive use among women of childbearing age in Kasemen District. The study used an analytical observational design with a cross-sectional approach, involving 36 respondents selected by stratified random sampling. Data were collected using a validated contraceptive knowledge questionnaire and the 2017 SDKI questionnaire in the contraception section, and analyzed using Fisher's Exact test. The results showed that 58.3% of respondents had good knowledge and 72.2% were compliant in using contraception. Fisher's Exact test showed no significant relationship between knowledge and compliance with contraceptive use with a p-value of 0.26 (>0.05). The conclusion in this study is that there is no relationship between contraceptive knowledge and compliance with contraceptive use in women of childbearing age in Kasemen District. Compliance with contraceptive use may be influenced by other factors, such as the role of family planning cadres and access to free family planning services.
Polycystic Ovary Syndrome: Pathophysiology, Risk Factors, and Clinical Management – A Literature Review Luluk Hermawati; I Made Arya Subadiyasa; Nur Bebi Ulfah Irawati; Hilizza Awalina Zulfa; Nur Ayu Virginia Irawati; Rossa Amelia
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 12 No 1 (2026): Juni
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v12i1.48386

Abstract

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is a complex endocrine disorder commonly observed in women of reproductive age and is associated with reproductive, metabolic, and psychological disturbances. This article aims to comprehensively review the pathophysiology, risk factors, and clinical management of PCOS based on current scientific evidence. The method employed was a narrative literature review, conducted through a systematic search of scientific articles in PubMed, Scopus, Google Scholar, and ScienceDirect databases. The keywords used included polycystic ovary syndrome, PCOS pathophysiology, insulin resistance, anti-Müllerian hormone, and clinical management. Publications in English and Indonesian from 2015 to 2025 were included. The selected articles comprised original research studies, systematic reviews, and relevant literature reviews. The findings indicate that the pathophysiology of PCOS is multifactorial, involving hormonal alterations, insulin resistance, hyperandrogenism, and dysfunction of the hypothalamic–pituitary–ovarian axis, which leads to chronic anovulation. The main risk factors for PCOS include obesity, insulin resistance, sedentary lifestyle, unbalanced nutritional status, as well as metabolic and genetic predispositions, all of which contribute to the heterogeneous clinical manifestations of the syndrome. The management of PCOS is individualized and multidisciplinary, with lifestyle modification as the first-line therapy, supported by dietary interventions, physical activity, and pharmacological treatment according to clinical indications. This review highlights the importance of an integrated approach in the management of PCOS to improve clinical outcomes and prevent long-term complications.
Hubungan Karakteristik Sosio-Demografi dengan Kejadian Persalinan Prematur di Rsud Cilegon Ita Marlita Sari; I Made Arya Subadiyasa; Fety Riani
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 13 No 4 (2021): JIKM Vol. 13, Edisi 4, November 2021
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v13i4.250

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Persalinan prematur merupakan salah satu tantangan penting yang menghambat penurunan angka kematian neonatal sejalan dengan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030. Pada tahun 2015, sekitar 1 juta bayi di seluruh dunia meninggal karena komplikasi persalinan prematur. Indonesia sendiri menempati posisi ke-9 di dunia dengan angka kejadian persalinan prematur sebesar 15,5 bayi per 100 kelahiran hidup. Morbiditas bayi prematur berpengaruh secara fisik hingga tahap perkembangan selanjutnya dan menjadi beban psikologis dan finansial bagi bayi, ibu dan keluarga. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan persalinan prematur adalah karakteristik sosial demografi yang meliputi usia ibu, latar belakang pendidikan ibu, dan status pekerjaan ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik sosio-demografis dengan kejadian persalinan prematur di RSUD Cilegon. Metode: Desain penelitian adalah studi kasus-kontrol dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis RSUD Cilegon periode Januari 2015 sampai Juni 2016. Sampel kasus dipilih secara total sampling, sedangkan sampel kontrol dipilih secara simple random sampling dan mencocokkan jumlah sampel kontrol berdasarkan jumlah kasus per sampel per bulan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis bivariat dengan uji chi-square, menilai odds ratio dan interval kepercayaan. Hasil: Analisis bivariat menghasilkan OR 1,44 (95% CI: 0,68-3,03) dengan p-value 0,34 pada ibu usia > 35 tahun, OR 1,76 (95% CI: 0,68-4,55) dengan p-value 0,24 pada ibu hamil wanita berlatar belakang pendidikan SD/sederajat, dan OR sebesar 0,72 (95% CI: 0,30 -1,72) dengan p-value 0,42 pada wanita hamil yang bekerja. Kesimpulan: Karakteristik sosiodemografi tidak berhubungan dengan persalinan prematur. Kata kunci: Persalinan prematur, Karakteristik sosio-demografi, Studi kasus-kontrol, Cilegon Abstract Background: The premature delivery is one of crucial challenges which hinders the reduction neonatal mortality aligned with the 2030 Sustainable Development Goals (SDGs) target. In 2015, around 1 million babies worldwide died due to complications of premature labor. Indonesia itself occupies the 9th position in the world with the incidence of premature birth of 15.5 babies per 100 live births. Morbidity of premature babies affects physically until the next stage of development and becomes a psychological and financial burden for the baby, mother and family. One of factors thought to be associated with prematur birth is socio-demographic characteristics which includes maternal age, educational background of mother, and working status of mother. The aim of this study was to determine the relationship between socio-demographic characteristics and premature delivery at RSUD Cilegon. Methods: The research design was a case-control study using secondary data from the medical records of RSUD Cilegon for the period January 2015 to June 2016. The case sample was selected by total sampling, while the control sample was selected by simple random sampling and matched the number of control samples based on the number of cases per sample by month. The analytical method was bivariate analysis with the chi-square test, assessing odds ratios and confidence intervals. Result: The bivariate analysis yielded OR of 1.44 (95% CI: 0.68-3.03) with p-value 0.34 in maternal age > 35 years old, OR of 1.76 (95% CI: 0.68 -4.55) with p-value 0.24 in pregnant women who was elementary school/equivalent for educational background, and OR of 0.72 (95% CI: 0.30 -1.72) with p-value 0.42 in pregnant women who was working. Conclusion: Sociodemographic characteristics were not associated with premature delivery. Keywords: Premature delivery, Socio-demographic characteristics, Case-control studies, Cilegon