Sipayung, Gerhard
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Kompetensi Seorang Penatua Gereja ( Tata Kelola Keteladanan Pribadi , Keluarga Dan Sosial Berdasarkan Titus 1: 5-10 ) Sipayung, Gerhard
Paramathetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 1: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64005/jtpk.v1i1.5

Abstract

Penatua merupakan jabatan yang diemban seseorang dalam pelayanan Gereja. Penatua memiliki peran yang penting dalam penggembalaan Jemaat agar jemaat dapat memiliki karakter moral yang baik dan iman yang benar, oleh karena itu seorang Penatua harus dapat menjadi teladan kepada anggota jemaat. Dalam melakukan tugas dan  tanggungjawab, seorang Penatua harus memiliki kompetensi. Dalam penelitian ini Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif Analisa. Adapun  hasil penelitian ini mengenai kompetensi mendasar seorang Penatua berdasarkan Titus 1:5-10  adalah : Pertama, Tata Kelola moral (self control) yaitu bukan pemarah, bukan peminum (alkoholik), tidak melakukan perbuatan asusila yang  melanggar noma sosial. Kedua, tata kelola keluarga yaitu  tidak terlibat perselingkuhan, anak-anak yang memiliki iman, anak-anak yang dikenal sebagai anak-anak yang tertib/tidak melanggar hukum, beriman dan sopan. Ketiga, tata kelola berbicara yaitu  sifat  rendah hati, tidak sembarangan berbicara. Keempat, tata kelola sosial.  Yaitu kepedulian kepada masyarakat, tidak serakah dan merugikan orang lain.  Kelima, tata kelola mengambil keputusan yaitu memiliki pengetahuan, bijaksana dalam mengambil keputusan. Keenam, tata kelola Spritual yaitu memiliki kesalehan,pengetahuan mendasar secara teologis yaitu  konsep iman Kristen dalam hal konsep anugerah.
Aspek Spiritual dan Aspek Politik Kepemimpinan Samuel sebagai Model Pemimpin dalam Membangun Sebuah Tatanan Baru pada Pilkada dan Pilpres 2024 Sipayung, Gerhard
Paramathetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1 (2023): November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64005/jtpk.v2i1.23

Abstract

Dalam konteks politik Indonesia yang akan menghadapi Pilkada serentak dan Pilpres tahun 2024, penelitian ini relevan untuk mengeksplorasi karakteristik pemimpin yang dapat membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah  kualitatif dengan tinjauan kepustakaan. Data diperoleh dari literatur mengenai kepemimpinan, literatur tentang kepemimpinan dalam konteks Alkitab, dan analisis terhadap kepemimpinan Samuel dalam aspek spiritual dan politik. Kepemimpinan Samuel meliputi dua hal. Pertama, Aspek spiritual yang dibentuk oleh keluarga yang saleh dan peran imam Eli sebagai mentor rohani. Samuel tumbuh dalam lingkungan yang hidup dalam kehidupan spiritual, menciptakan dasar yang kuat untuk kepemimpinannya. Kepemimpinan spiritual Samuel ditandai dengan ketaatan pada firman Tuhan, pembentukan mezbah, dan penolakan terhadap sinkritisme. Kedua, dalam aspek politik, Samuel menghadapi tantangan dalam memimpin bangsa Israel. Dia rela melepaskan kekuasaan, tenang dalam situasi konflik, mengakomodir aspirasi rakyat, berperan dalam transisi kepemimpinan, dan tidak menyalahgunakan kekuasaan,  mengambil risiko dalam mentransisikan kepemimpinan dari Saul ke Daud. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman kepemimpinan yang holistik, mencakup aspek spiritual dan politik. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemimpin modern, terutama dalam konteks Indonesia yang membutuhkan pemimpin yang mampu membawa perubahan positif dalam semua lapisan kehidupan.    
Kepemimpinan Daniel, Azarya, Misael, Hanaya sebagai Figur Minoritas Bangsa Yahudi di Kalangan Mayoritas Bangsa Babel : Model Kepemimpinan untuk Para Pemimpin Kristen dalam Kancah Perpolitikan Indonesia sipayung, gerhard
Paramathetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2024): November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64005/jtpk.v3i1.175

Abstract

Abstract. This research explores the leadership models of Daniel, Azarya, Misael, and Hananya as Jewish minority figures amidst the Babylonian majority, which is relevant to the challenges of Christian leadership in the context of political pluralism in Indonesia. With a qualitative approach and case study analysis of Daniel's life based on Biblical texts, this research identifies four main dimensions of leadership: holding personal spiritual values, recognizing God in every decision, faith-based team collaboration, and courage in facing opposition. Daniel demonstrated faith-based integrity, wisdom and courage in carrying out his role as a leader amidst a majority of different beliefs. The results of this research offer insight and inspiration for Christian leaders in Indonesia to lead with integrity, humility, and collaboration that reflects the principles of the Christian faith. These findings reinforce the importance of steadfastness in spiritual values ​​in facing political and cultural challenges in a plural and multicultural environment. Abstrak. Penelitian ini mengeksplorasi model kepemimpinan Daniel, Azarya, Misael, dan Hananya sebagai figur minoritas Yahudi di tengah mayoritas bangsa Babel, yang relevan dengan tantangan kepemimpinan Kristen dalam konteks pluralisme politik di Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif dan analisis studi kasus kehidupan Daniel berdasarkan teks Alkitab, penelitian ini mengidentifikasi empat dimensi utama kepemimpinan: memegang nilai-nilai spiritual secara pribadi, pengakuan Tuhan dalam setiap keputusan, kolaborasi tim berbasis iman, dan keberanian menghadapi oposisi. Daniel menunjukkan integritas, kebijaksanaan, dan keberanian yang berbasis pada iman dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin di tengah mayoritas yang berbeda keyakinan. Hasil penelitian ini menawarkan wawasan dan inspirasi bagi pemimpin Kristen di Indonesia untuk memimpin dengan integritas, kerendahan hati, dan kolaborasi yang mencerminkan prinsip-prinsip iman Kristen. Temuan ini memperkuat pentingnya keteguhan pada nilai-nilai spiritual dalam menghadapi tantangan politik dan budaya di lingkungan yang plural dan multikultural.
Dimensi-Dimensi Iman dalam Ibrani 11:1–31 : Kajian Eksegetikal Teks Yunani Koine untuk Penguatan Teologi Iman Kristen. Sipayung, Gerhard; Gultom, Patar Aprizal
Paramathetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 2 (2025): Mei 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64005/jtpk.v3i2.223

Abstract

Abstract. This Journal examines the dimensions of faith in Hebrews 11:1–31 through an exegetical analysis of the original Koine Greek text. The study aims to explore the theological meaning of the word pistis (faith) within the various narrative contexts of Old Testament figures mentioned in the passage, as well as its implications for the life of Christian believers today. The methodology includes morphological, syntactical, and semantic analysis of the Greek text, along with a literature review of scholarly journals and reputable biblical commentaries. The findings indicate that faith in Hebrews 11 is portrayed as an active ontological-epistemological reality, encompassing an integral ethical-relational dimension, and oriented toward an enduring eschatological hope that sustains the life of the faithful. Abstrak. Jurnal ini mengkaji dimensi iman dalam Surat Ibrani 11:1–31 berdasarkan analisis teks asli Yunani Koine secara mendalam secara eksegetikal. Penelitian ini bertujuan menggali makna kata πίστις (iman) dalam berbagai konteks naratif tokoh Perjanjian Lama yang disebutkan, serta implikasi teologisnya bagi kehidupan beriman umat Kristen masa kini. Metode yang digunakan adalah analisis morfologi, sintaksis, dan semantik teks Yunani, serta kajian pustaka dari jurnal ilmiah dan komentar Alkitab terkemuka. Hasil kajian menunjukkan iman sebagai realitas ontologis-epistemologis yang aktif, dimensi etis -relasional yang integral, serta pengharapan eskatologis yang berkelanjutan.  
Pembentukan Mahasiswa Teologi sebagai Calon Pemimpin Umat : Analisis Reflektif Ketokohan Daud ‘Sebelum dan Sesudah’ menjadi Raja Gultom, Patar; Sipayung, Gerhard; Ginting, Baskita; Hutauruk, Theresia
Paramathetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2025): Vol 4 No 1 : November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64005/jtpk.v4i1.268

Abstract

The challenge of forming Generation Z theology students to become future leaders and servants of the community is increasingly urgent in the digital era with all its excesses. This study aims to prove that the formation of theology students can occur organically and progressively to prepare them with the qualities needed by the church and other service institutions. Using biblical studies by analyzing the character based on Sindunata Kurniawan's five formations: Spiritual Formation, Knowledge, Personality/Character, Leadership, and Service, the author conducts reflective analysis steps with a 'before' and 'after' perspective on the figure of David. David was chosen because he exemplifies a leader who underwent a thorough and meaningful formation process, and can be studied before and after he became king. This serves as a reflective study for student formation before and after they graduate and enter professional ministry. This research demonstrates that, like David, theology students can also develop into community leaders by undergoing in-depth, extensive, integrative, and authentic formation processes, which can be achieved through learning in theology classrooms, practical ministry, dormitory life, personal and communal worship, independent study, and relationships and interactions with the world of ministry in the light of truth. Abstrak. Tantangan formasi mahasiswa teologi generasi Z untuk menjadi pemimpin dan pelayan umat masa depan saat ini semakin urgent dihadapi di era digital dengan segala eksesnya. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa formasi mahasiswa teologi dapat terjadi secara organik dan progresif untuk mempersiapkan mereka dengan kualitas diri yang diperlukan gereja dan institusi pelayanan lainnya. Menggunakan kajian biblikal dengan melakukan analisis ketokohan berdasar 5 formasi Sindunata Kurniawan yakni Formasi Spiritual,  Pengetahuan, Kepribadian/ Karakter, Kepemimpinan dan Pelayanan, penulis melakukan langkah-langkah analisis reflektif dengan sudut pandang ‘before’ and ‘after’  terhadap tokoh Daud. Daud dipilih karena menjadi contoh pemimpin yang mengalami proses pembentukan yang baik dan dapat dikaji sebelum dan sesudah ia menjadi raja. Ini menjadi kajian reflektif bagi pembentukan mahasiswa sebelum dan sesudah mereka tamat dan terjun ke pelayanan secara profesional. Melalui penelitian ini didapati bahwa sebagaimana Daud, mahasiswa teologi juga dapat berproses menjadi pemimpin umat dengan menjalani semua proses pembentukan in-depth, ekstensif, integratif dan otentik yang bisa didapat melalui semua proses belajar di ruang kelas teologi, pelayanan praktis, kehidupan asrama, ibadah personal dan komunal, studi mandiri, relasi dan interaksi dengan dunia pelayanan dalam terang kebenaran