Qasanah, Iswatun
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UJI BANDING SENSITIVITAS DAN SPESIFISITAS CONFUSION ASSESSMENT METHOD-INTENSIVE CARE UNIT, INTENSIVE CARE DELIRIUM SCREENING CHECKLIST DAN THE NURSING-DELIRIUM SCREENING SCALE UNTUK MENGKAJI PASIEN DELIRIUM DI RUANG ICU Khanafi, Khamid; Suhartini, Suhartini; Qasanah, Iswatun
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 17, No 1 (2026): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v17i1.3261

Abstract

Delirium pada pasien kritis terjadi karena ada kumpulan sindrom pada pasien dengan gangguan pernafasan, kardiovaskuler, persarafan, post operasi. Delirium  menyebabkan perubahan status mental yang fluktuatif, gangguan perhatian dan berfikir. Pengkajian delirium diperlukan mengetahui kondisi pasien sejak awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sensitivitas dan spesifisitas antara CAM-ICU (Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit), ICDSC (Intensive Care Delirium Screening Checklist), dan Nu-DESC( Nursing Delirium Screening Scale) untuk mengkaji pasien delirium di Ruang ICU. Penelitian ini menggunakan desain penelitian komparasi dengan pendekatan cross sectional study. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan sampel 83 subjek penelitian berdasarkan kriteria inklusi. Analisa data menggunakan receiver operating characteristic (ROC) untuk menilai sensitivitas dan spesifisitas dengan membandingkan Area Under curve ( AUC). Hasil penelitian menunjukkan CAM-ICU mempunyai nilai sensitivitas sebesar  97,05% dan spesifisitas 87,75% , ICDSC mempunyai sensitivitas 87,5% spesifisitas 98,3% dan Nu-DESC mempunyai sensitivitas 56,4% dan spesifisitas 100% dengan nilai AUC semuanya 96 %. Ketiga Instrumen CAM-ICU, ICDSC,Nu-DESC dapat digunakan dalam mengkaji pasien delirium di ruang ICU tetapi lebih direkomendasikan CAM-ICU karena mempunyai sensitivitas yang tertinggi, lebih mudah digunakan, dan cepat dalam pelaksanaannya.AbstractDelirium in critically ill patients occurred because there were the syndrome clusters in patients with respiratory disorders, cardiovascular, neurological disease, and postoperative status. Delirium causes fluctuating mental status changes, impaired attention and disorganized thinking. Delirium assessment was necessary to know the patient's condition earlier. The purpose of this research to determine the sensitivity and specificity of CAM-ICU (Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit), ICDSC (Intensive Care Delirium Screening Checklist), and Nu-DESC ( Nursing Delirium Screening Scale) in assessing delirium patients in the ICU. This study were a comparative study design with a cross sectional study approach. The sampling technique were purposive sampling with 83 subjects who met the inclusions criteria. Data analysis were used receiver operating characteristics (ROC) by comparing the Area Under curve (AUC) of each tool. The results showed that CAM-ICU had sensitivity value of 97.05% and specificity of 87.75%. ICDSC had sensitivity of 87.5% and specificity of 98.3% . Nu-DESC had a sensitivity of 56.4% and specificity of 100% with all value of AUC 96%. The three of instruments (CAM-ICU, ICDSC, Nu-DESC) can be used to assess delirium phase for critically ill patients in.  However, CAM-ICU has been recommended more as it has the highest sensitivity, easier to use, and faster in its implementation.
BRISK WALKING MENURUNKAN KADAR GULA DARAH DIABETESI DI WILAYAH PEDESAAN Farida, Nana Umi; Lestari, Diana Tri; Jauhar, Muhammad; Rohmaniah, Faridha Alfiatur; Qasanah, Iswatun; Irwansyah, Mohamad Khafidh Rio
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 16, No 2 (2025): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v16i2.3022

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) saat ini menjadi masalah kesehatan yang mengancam masyarakat. DM disebabkan pola hidup kurang sehat atau faktor keturunan. DM berdampak pada penyakit kardiovaskuler, penyakit ginjal, kebutaan, disabilitas, hingga kematian. Salah satu intervensi nonfarmakologi sebagai terapi komplementer yang dapat dilakukan untuk mengontrol kadar gula darah yaitu Brisk Walking. Tujuan penelitian untuk menganalisis pengaruh durasi Brisk Walking terhadap kadar gula darah pada pasien DM. Desain Penelitian menggunakan eksperimen semu dengan pendekatan pretest and post-test with control group. Variabel independen yaitu durasi Brisk Walking dan variabel dependen yaitu kadar gula darah. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-April 2024 di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Dawe Kabupaten Kudus dengan jumlah sampel 19 Responden untuk masing-masing kelompok intervensi dan kontrol. Kriteria inklusi yaitu terdiagnosa DM oleh tenaga kesehatan, hasil pemeriksaan GDS³140 mg/dl, tidak memiliki komplikasi, mengkonsumsi obat anti DM. Kriteria ekslusi memiliki gangguan mobilitasfisik/ disabilitas dan menerima terapi nonfarmakologi lain. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi kadar GDS dan alat pengukur kadar gula darah dengan merk Easy Touch Glucose tipe 301. Analisis data menggunakan paired t-test dan Independent t-test. Bentuk intervensi yang diberikan yaitu Brisk Walking selama 30 menit sebanyak 3 kali dalam seminggu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik durasi Brisk Walking terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien DM dengan nilai p= 0,032 (p0,05).  Durasi Brisk Walking dapat menurunkan kadar gula darah pada pasien DM. Model intervensi menjadi terapi komplementer dan dapat diintegrasikan dalam pelayanan Kesehatan masyarakat di puskesmas misalnya posbindu PTM, posbindu lansia, dan prolanis. AbstractDiabetes Mellitus (DM) is currently a public health problem threatening the community. DM is caused by unhealthy lifestyles or hereditary factors. It can lead to cardiovascular disease, kidney disease, blindness, disability, and even death. One non-pharmacological intervention as a complementary therapy that can be implemented to control blood sugar levels is diabetes.Brisk WalkingThe aim of this study was to analyze the effect of the duration of brisk walking on blood sugar levels in DM patients. The research design used a quasi-experimental approach.pretest and post testwith control group. The independent variable is duration Brisk Walking and the dependent variable was blood sugar levels. This study was conducted from February to April 2024 in the Dawe Community Health Center (UPT) working area of Kudus Regency, with a sample size of 19 respondents for each intervention and control group. Inclusion criteria were a diagnosis of diabetes mellitus by a health worker, and blood glucose (GDS) test results. ³ 140 mg/dl, no complications, taking anti-diabetic medication. Exclusion criteria included impaired physical mobility/disability and receiving other non-pharmacological therapy. The instruments used were a GDS level observation sheet and a blood sugar measuring device with the brand Easy Touch Glucose type 301. Data analysis using paired t-test andIndependent t-test. The form of intervention provided isBrisk Walking for 30 minutes, 3 times a week. The results showed a statistically significant effect of the duration of brisk walking on reducing blood sugar levels in diabetes patients with a p value of 0.032 (p 0.05). Brisk Walking can lower blood sugar levels in DM patients. The intervention model is a complementary therapy and can be integrated into public health services at community health centers, such as PTM Posbindu, Elderly Posbindu, and Prolanis.