Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JOGED

MANTODEA: KOREOGRAFI VISUALISASI SIKLUS HIDUP BELALANG SEMBAH Agung Yunandi Kristianto; Raja Alfirafindra; Erlina Pantja Sulistijaningtijas
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6336

Abstract

RINGKASANMANTODEA merupakan karya tari yang memvisualisasikan siklus hidup dan gerak-gerik Belalang Sembah dewasa hingga Nimfa (bayi Belalang Sembah). Kata MANTODEA diambil dari ordo mantodea, yang dalam bahasa Yunani berarti satu jenis Belalang Sembah. Gerak-gerik yang dihadirkan dalam karya tari ini adalah simbolisasi sikap Belalang Sembah disaat diam, gerakan merangkak dan gerakan ngoyok kanan dan kiri (badan seperti tertiup angin). Ide koreografi MANTODEA mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan tersebut terdapat pada postur tubuh penata tari sendiri yang ternyata mirip Belalang Sembah. Selain kemiripan postur tubuh, penata juga tertarik pada kehidupan Belalang Sembah yang mandiri dan memiliki cinta sejati. Kemandirian disaat menjalani kehidupan. Cinta sejati disaat Belalang Sembah jantan rela mati demi membuahi sel telur. Melalui karya tari ini diharapkan memberikan inspirasi untuk belajar mandiri dan rela berkorban untuk kehidupan selanjutnya.ABSTRACTMANTODEA is the title of this dance work. The concept presented is a visualization of the life cycle and movements of Praying Mantis. The word MANTODEA is taken from the order of mantodea. The order of mantodea adapted from Greek which means one type of praying Mantis. The life cycle that is visualized in this dance work is from adult Mantiss to nymphs (Praying Mantis baby). The movements that are presented in this dance work are symbolic of the attitude of the Praying Mantis while still, crawling movements and movements of the right and left (body like blowing in the wind). The compilation of the MANTODEA choreography is unique. The uniqueness is found in the posture of the dance stylist himself who turns out to be like the Praying Mantis as the main object. Besides the similarity of the same posture the stylist is also interested in his life. The interest of the dance stylist in the life of Praying Mantis is independence and true love. Independence while living life. True love when male locusts are willing to die to fertilize an egg. Through this dance work is expected to be able to learn independently and be willing to sacrifice.
CEMBENGAN KOREOGRAFI YANG TERINSPIRASI DARI TRADISI UPACARA TEBU MANTEN Nugratama, Anas Faizal; Alfirafindra, Raja; Sulistijaningtijas, Erlina Pantja
Joged Vol 24, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i1.15206

Abstract

RINGKASANKarya “Cembengan” adalah koreografi yang terinspirasi dari makna nilai-nilai tradisi budaya pada upacara tradisi Cembengan. Upacara tradisi Cembengan merupakan ritual yang dilakukan oleh para pekerja di dalam pabrik gula Madukismo untuk meminta keselamatan dan hasil produksi yang baik. Upacara tradisi Cembengan dilaksanakan pada saat panen tebu sebelum dimulainya produksi penggilingan tebu. Keseluruhan prosesi dan simbol-simbol yang memiliki makna filosofis pada upacara tradisi Cembengan, terdapat 3 bagian prosesi upacara tradisi Cembengan yang menarik perhatian penata untuk diulas kedalam bentuk konsep koreografi kelompok, yaitu prosesi Petik Tebu Manten, prosesi Pingit Tebu Manten, prosesi Arak-arakan Cembengan. Karya tari berjudul “Cembengan” ini digarap dalam bentuk koreografi kelompok, ditarikan oleh lima penari putri dan empat penari putra.ABSTRACTThe work "Cembengan" is a choreography inspired by the meaning of cultural tradition values in the Cembengan traditional ceremony. The Cembengan tradition ceremony is a ritual performed by workers at the Madukismo sugar factory to ask for safety and good production results. The Cembengan tradition ceremony is carried out during the sugarcane harvest before the start of sugarcane milling production. The entire procession and symbols that have a philosophical meaning in the Cembengan traditional ceremony, there are 3 parts of the Cembengan traditional ceremony procession that attract the attention of the stylist to be reviewed in the form of a group choreography concept, namely the Manten Sugar Cane Picking Procession, the Manten Pingit Cane Procession, the Cembengan Procession. The dance work entitled "Cembengan" is worked on in the form of group choreography, danced by five female dancers and four male dancers.