Ronni Marthen Ndun
Universitas Persatuan Guru 1945 NTT

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

MAKNA SYAIR LEDI TUA PADA MASYARAKAT KABUPATEN ROTE NDAO Ronni Marthen Ndun
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 6, No 1 (2022): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (991.572 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menemukan, menganalisis dan mendeskripkan makna syair ledi tua agar dapat dijadikan sebagai pedoman hidup masyarakat Rote Ndao. Disamping itu sebagai upaya menjaga dan melestarikan kearifan lokal masyarakat setempat terhadap ancaman kepunahan akibat tuntutan modernisasi dan globalisasi. Keterampilan menyadap lontar (ledi tua) oleh leluhur yang diwariskan secara turun-temurun perlahan mulai tergerus akibat gengsi generasi muda Rote Ndao dengan alasan tidak atau kurang kekinian. Mereka lebih memilih menjadi tukang ojek, buruh, kurir, dan sebagainya bahkan di negeri rantauan. Kalaupun masih ada segelintir orang muda Rote Ndao yang tertarik untuk menyadap lontar namun tidak lagi disertai dengan syair. Padahal syair ledi tua tidak saja bernuansa estetis namun mengandung berbagai makna atau pesan kehidupan yang mestinya dihayati dan diamalkan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa makna yang terkandung  dalam syair ledi tua adalah makna religius yang merujuk kepada ketaatan dan keyakinan kepada Tuhan sebagai kausaprima, makna didaktis yang menekankan pada bagaimana bersikap dan berperilaku dalam konteks kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, makna sosiologis bertautan dengan hubungan antar individu dalam konteks kehidupan bermasyarakat, makna ekonomis bertautan dengan pengungkapan informasi mengenai sistem ekonomi dan mata pencarian masyarakat Rote yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, makna politis sebagai ajang mengingatkan dan membangkitkan semangat juang masyarakat Rote Ndao bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik perlu perjuangan dan kerja keras serta ketekunan, kegigihan dan kedisiplinan, dan makna reflektif membimbing masyarakat pemiliknya untuk menghargai gagasan dan nilai kebenaran. Melalui syair ledi tua masyarakat disadarkan pentingnya penghormatan kepada Tuhan dan sesama.
Penggunaan Konjungsi Antarkalimat Dalam Paragraf Oleh Siswa Kelas XI SLTA Ona Diana Bani; Ronni Marthen Ndun
Kode : Jurnal Bahasa Vol 10, No 4 (2021): Kode: Edisi Desember 2021
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.219 KB) | DOI: 10.24114/kjb.v10i4.30774

Abstract

Konjungsi antarkalimat mempunyai peranan penting dalam mengungkapkanpenalaran penulis terhadap sesuatu hal atau topik. Tanpa konjungsiantarkalimat tidak akan jelas penalaran dan pola pengembangan sebuahparagraf sebagai wadah pengungkapan gagasan yang lengkap. Penelitian inibertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan konjungsi antarkalimat dalamparagraf oleh siswa kelas XI SLTA Negeri 6 Kupang yang bermanfaat untukmeningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia untuk membentukkemampuan menulis siswa SLTA. Metode yang digunakan pada penelitian iniadalah metode deskriptif kualitatif. Dalam menulis paragraf, siswa kelas XISLTA Negeri 6 Kupang dapat membentuk paragraf yang padu berdasarkanpenggunaan konjungsi antarkalimat dalam paragraf walapun masih terdapatkesalahan-kesalahan dalam paragraf. Berikut konjungsi antarkalimat yangdigunakan (a) konjungsi kausatif seperti penggunaan oleh karena itu, dan olehsebab itu; (b) penggunaan konjungsi konsekutif seperti penggunaan akhirnya,dan dengan demikian; (c) penggunaan konjungsi penambahan sepertipenggunaan ada juga, juga, pula, dan bahkan; (d) penggunaan konjungsipertentangan seperti penggunaan akan tetapi; dan (e) penggunaan konjungsisyarat seperti penggunaan jika. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agarpembelajaran menulis di sekolah perlu diefektifkan dengan menuntun siswamenulis dengan baik terutama perumusan paragraf dengan memperhatikanpenggunaan bentuk bahasa yang baik dan benar.
Interferensi Morfologis Verba Bahasa Dawan Dalam Pemakaian Bahasa Indonesia Tulis Siswa Kelas VIII SLTP Ronni Marthen Ndun; Ona Diana Bani
Kode : Jurnal Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Kode: Edisi Maret 2022
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.773 KB) | DOI: 10.24114/kjb.v11i1.33494

Abstract

Interferensi merupakan suatu gejala dalam proses belajar bahasa kedua karena faktor sistem kebahasaan yang telah dikuasai oleh pembelajar yang sedang belajar bahasa kedua. Gejala ini terindikasi dalam pemakaian bahasa tulis siswa kelas VIII SLTPN 4 Nekamese Kabupaten Kupang tahun pelajaran 2020/2021 sebagai subjek didik berbahasa ibu bahasa Dawan yang sedang mempelajari bahasa Indonesia. Penelitian ini didasari konsep dasar interferensi sebagai suatu gejala kesalahan berbahasa melalui identifikasi, klasifikasi, penjelasan kesalahan, dan interpretasi daerah kesulitan serta perbaikan kesalahan. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Interferensi morfologis verba bahasa Dawan dalam penggunaan verba bahasa Indonesia disebabkan perbedaan sistem morfolgis verba bahasa Indonesia dan bahasa Dawan; (2) Siswa kelas VIII SLTPN 6 Nekamese Kabupaten Kupang tahun pelajaran 2020/2021 masih mengalami kesulitan dalam membentuk kata kerja bahasa Indonesia karena pengaruh interferensi bahasa ibu siswa yaitu bahasa Dawan. Interferensi verba dimaksud adalah (a) Interferensi verba berprefiks {me-}; (b) Interferensi verba berprefiks {ber-}; (c) Interferensi verba berprefiks {me-kan}; (d) Interferensi verba berprefiks {me-i}. (3) Interferensi yang terjadi terhadap bentuk verba bahasa Indonesia adalah penggunaan bentuk verba dasar sebagai predikat dalam berbagai konstruksi kalimat verbal bahasa Indonesia siswa. (4) Interferensi ini menghasilkan bentuk verba yang tidak menyatakan peran morfologis subjek dan objek.
Makna dan Nilai Tuturan Sasaok Pada Masyarakat Rote Ronni Marthen Ndun; Ona Diana Bani
Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 16, No 4: November 2021
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nusa.16.4.368-382

Abstract

This study aims to identify, interpret and describe in order to obtain a clear picture of the meaning and value contained in the sasaok speech by using cultural linguistic theory and qualitative descriptive methods. The Sasaok traditional ceremony for the Rote community is a series of very sacred processes that must be passed by each prospective husband and wife which includes the lu'u inak stage (introductory stage), the natane inak stage (proposal stage), the nggani eik stage (confirmation stage) and the mbeda dode stage (intermediate stage) where each stage has its own speech and has meaning and value that must be maintained and respected by every married couple that is legalized by custom and cannot be separated except death.
Tuturan Ritual Songgo Kamba pada Masyarakat Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao Ona Diana Bani; Ronni Marthen Ndun
Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 16, No 4: November 2021
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nusa.16.4.397-410

Abstract

The purpose of this study is to identify, interpret and describe in order to provide an objective picture of the meaning and function contained in the ritual speech of songgo kamba in the people of Lobalain District, Rote Ndao Regency. This study uses cultural linguistic theory and qualitative descriptive methods. The songgo kamba ritual is a form of ritual for the people of Rote Ndao Regency to ask for protection and strength and health, especially for the cattle in the form of buffalo during the process of cultivating the fields. This ceremony is led by a mana songgo and is carried out in the uma lai section of the traditional house (the second stage of the traditional house). The songgo kamba ritual should not be done arbitrarily because this ritual is very sacred for the people of Rote.