Tujuan penelitian ini untuk menemukan, menganalisis dan mendeskripkan makna syair ledi tua agar dapat dijadikan sebagai pedoman hidup masyarakat Rote Ndao. Disamping itu sebagai upaya menjaga dan melestarikan kearifan lokal masyarakat setempat terhadap ancaman kepunahan akibat tuntutan modernisasi dan globalisasi. Keterampilan menyadap lontar (ledi tua) oleh leluhur yang diwariskan secara turun-temurun perlahan mulai tergerus akibat gengsi generasi muda Rote Ndao dengan alasan tidak atau kurang kekinian. Mereka lebih memilih menjadi tukang ojek, buruh, kurir, dan sebagainya bahkan di negeri rantauan. Kalaupun masih ada segelintir orang muda Rote Ndao yang tertarik untuk menyadap lontar namun tidak lagi disertai dengan syair. Padahal syair ledi tua tidak saja bernuansa estetis namun mengandung berbagai makna atau pesan kehidupan yang mestinya dihayati dan diamalkan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa makna yang terkandung dalam syair ledi tua adalah makna religius yang merujuk kepada ketaatan dan keyakinan kepada Tuhan sebagai kausaprima, makna didaktis yang menekankan pada bagaimana bersikap dan berperilaku dalam konteks kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, makna sosiologis bertautan dengan hubungan antar individu dalam konteks kehidupan bermasyarakat, makna ekonomis bertautan dengan pengungkapan informasi mengenai sistem ekonomi dan mata pencarian masyarakat Rote yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, makna politis sebagai ajang mengingatkan dan membangkitkan semangat juang masyarakat Rote Ndao bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik perlu perjuangan dan kerja keras serta ketekunan, kegigihan dan kedisiplinan, dan makna reflektif membimbing masyarakat pemiliknya untuk menghargai gagasan dan nilai kebenaran. Melalui syair ledi tua masyarakat disadarkan pentingnya penghormatan kepada Tuhan dan sesama.