Mohammad Hasan Anshori
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Linking Identity to Collective Action: Islam, History and Ethnicity in the Aceh Conflict Mohammad Hasan Anshori
Studia Islamika Vol 19, No 1 (2012): Studia Islamika
Publisher : Center for Study of Islam and Society (PPIM) Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sdi.v19i1.368

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki sejarah panjang konflik dan kekerasan etnis. Tumbangnya Orde Baru pada tahun 1998 memicu muncul dan makin besarnya eskalasi konflik dan kekerasan di berbagai daerah, seperti di Aceh, Ambon, Papua, dan Kalimantan Barat. Pada tahun 2002, semua konflik tersebut telah mengalami de-eskalasi, bahkan terselesaikan secara baik, kecuali konflik Aceh yang melibatkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia. Dibandingkan dengan konflik lain di Indonesia, konflik Aceh memiliki dua keunikan penting. Pertama, konflik tersebut secara umum digerakkan oleh dua gerakan separatis dengan dua ideologi yang berbeda, yaitu Darul Islam (1953-1959) yang cenderung Islamis, dan GAM (1976-2005) yang lebih sekuler. Kedua, konflik Aceh secara luas seringkali dianggap sebagai salah satu konflik yang paling lama dan paling banyak memakan korban di Asia.DOI: 10.15408/sdi.v19i1.368 
Linking Identity to Collective Action: Islam, History and Ethnicity in the Aceh Conflict Anshori, Mohammad Hasan
Studia Islamika Vol. 19 No. 1 (2012): Studia Islamika
Publisher : Center for Study of Islam and Society (PPIM) Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sdi.v19i1.368

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki sejarah panjang konflik dan kekerasan etnis. Tumbangnya Orde Baru pada tahun 1998 memicu muncul dan makin besarnya eskalasi konflik dan kekerasan di berbagai daerah, seperti di Aceh, Ambon, Papua, dan Kalimantan Barat. Pada tahun 2002, semua konflik tersebut telah mengalami de-eskalasi, bahkan terselesaikan secara baik, kecuali konflik Aceh yang melibatkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia. Dibandingkan dengan konflik lain di Indonesia, konflik Aceh memiliki dua keunikan penting. Pertama, konflik tersebut secara umum digerakkan oleh dua gerakan separatis dengan dua ideologi yang berbeda, yaitu Darul Islam (1953-1959) yang cenderung Islamis, dan GAM (1976-2005) yang lebih sekuler. Kedua, konflik Aceh secara luas seringkali dianggap sebagai salah satu konflik yang paling lama dan paling banyak memakan korban di Asia.DOI: 10.15408/sdi.v19i1.368