Yosep Nurdjaman Alamsyah
Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kendangan Wayang Golek Ugan Rahayu: Respon Masyarakat dan Dampak pada Kesenian Wayang Golek Yosep Nurdjaman Alamsyah
Paraguna Vol 7, No 1 (2020): DINAMIKA KHAZANAH KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.375 KB) | DOI: 10.26742/jp.v7i1.1675

Abstract

Kendangan (tepak kendang) karya Ugan Rahayu memberikan suasana yang lebih hidup dan hégar dari pola kendang sebelumnya. Untuk mencapainya, Ugan mengganti sistem tuning kendang lama dengan kendang jaipongan, memainkan tempo yang lebih cepat, dan mengisi kakawén dengan kendangan yang sebelumnya tanpa kendang. Upaya Ugan adalah untuk mengatasi kebosanan dalam pementasan Wayang Golek yang dinilai monoton dan menimbulkan suasana ngantuk pada pertunjukan dini hari hingga pagi. Suasana hégar kendangan Ugan menjadi hidup dari awal hingga akhir. Sejak 1999 hingga sekarang, salah satu muridnya Endang Rachmat (Berlin) menggantikan Ugan karena kesehatannya yang menurun. Kreativitas Ugan diterima masyarakat dan membangkitkan semangat pertunjukan Wayang Golek Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi dan wawancara dengan informan. Analisis data dalam penelitian ini menunjukkan perbedaan pola kendang Ugan Rahayu dengan pola kendang sebelumnya. Kendangan Ugan memberikan dampak negatif, antara lain para pemain kendang muda tidak mempelajari pola kendang klasik, sehingga dikhawatirkan pola kendang klasik akan semakin menghilang dari ranah Wayang Golek.
Kendangan Wayang Golek Ugan Rahayu: Respon Masyarakat dan Dampak pada Kesenian Wayang Golek Alamsyah, Yosep Nurdjaman
Paraguna Vol 7 No 1 (2020): DINAMIKA KHAZANAH KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v7i1.1675

Abstract

Kendangan (tepak kendang) karya Ugan Rahayu memberikan suasana yang lebih hidup dan hégar dari pola kendang sebelumnya. Untuk mencapainya, Ugan mengganti sistem tuning kendang lama dengan kendang jaipongan, memainkan tempo yang lebih cepat, dan mengisi kakawén dengan kendangan yang sebelumnya tanpa kendang. Upaya Ugan adalah untuk mengatasi kebosanan dalam pementasan Wayang Golek yang dinilai monoton dan menimbulkan suasana ngantuk pada pertunjukan dini hari hingga pagi. Suasana hégar kendangan Ugan menjadi hidup dari awal hingga akhir. Sejak 1999 hingga sekarang, salah satu muridnya Endang Rachmat (Berlin) menggantikan Ugan karena kesehatannya yang menurun. Kreativitas Ugan diterima masyarakat dan membangkitkan semangat pertunjukan Wayang Golek Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi dan wawancara dengan informan. Analisis data dalam penelitian ini menunjukkan perbedaan pola kendang Ugan Rahayu dengan pola kendang sebelumnya. Kendangan Ugan memberikan dampak negatif, antara lain para pemain kendang muda tidak mempelajari pola kendang klasik, sehingga dikhawatirkan pola kendang klasik akan semakin menghilang dari ranah Wayang Golek.