Kendangan (tepak kendang) karya Ugan Rahayu memberikan suasana yang lebih hidup dan hégar dari pola kendang sebelumnya. Untuk mencapainya, Ugan mengganti sistem tuning kendang lama dengan kendang jaipongan, memainkan tempo yang lebih cepat, dan mengisi kakawén dengan kendangan yang sebelumnya tanpa kendang. Upaya Ugan adalah untuk mengatasi kebosanan dalam pementasan Wayang Golek yang dinilai monoton dan menimbulkan suasana ngantuk pada pertunjukan dini hari hingga pagi. Suasana hégar kendangan Ugan menjadi hidup dari awal hingga akhir. Sejak 1999 hingga sekarang, salah satu muridnya Endang Rachmat (Berlin) menggantikan Ugan karena kesehatannya yang menurun. Kreativitas Ugan diterima masyarakat dan membangkitkan semangat pertunjukan Wayang Golek Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi dan wawancara dengan informan. Analisis data dalam penelitian ini menunjukkan perbedaan pola kendang Ugan Rahayu dengan pola kendang sebelumnya. Kendangan Ugan memberikan dampak negatif, antara lain para pemain kendang muda tidak mempelajari pola kendang klasik, sehingga dikhawatirkan pola kendang klasik akan semakin menghilang dari ranah Wayang Golek.
Copyrights © 2020