Danau Ranau di Kabupaten Lampung Barat merupakan salah satu sentra produksi ikan nila yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan perikanan di Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung. Namun, budi daya ikan nila dengan sistem karamba jaring apung menghadapi berbagai tantangan akibat meningkatnya pemanfaatan danau sebagai kawasan permukiman, pariwisata, dan sumber panas bumi alami. Perubahan tersebut berdampak pada kualitas perairan, khususnya meningkatnya kadar belerang dari dasar danau, yang beberapa kali menyebabkan kematian massal ikan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pembudi daya ikan dan masyarakat sekitar terhadap pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) dalam pemantauan lingkungan perairan dan pengelolaan budi daya ikan nila secara berkelanjutan. Metode yang digunakan meliputi anjangsana ke lokasi budi daya ikan nila yang belum menerapkan teknologi IoT serta kegiatan penyuluhan kepada masyarakat Desa Lumbok Seminung, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat. Hasil kegiatan menunjukkan respons positif dan antusiasme masyarakat yang beragam, tidak hanya dari pembudi daya ikan nila, tetapi juga pemilik usaha, perempuan, dan remaja usia sekolah. Penerapan teknologi IoT, seperti mesin pakan otomatis dan sistem deteksi fluktuasi kadar sulfur, dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi produksi sekaligus berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap perubahan lingkungan perairan. Kendala utama dalam penerapan teknologi IoT meliputi biaya investasi awal dan kebutuhan perubahan kebiasaan dalam praktik budi daya ikan.