Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemikiran Dawam Rahardjo terhadap Konsep Madinah dalam al-Qur’an : (Studi Analisis terhadap Buku Ensiklopedi al-Qur’an Karya Dawam Rahardjo) Zakiy, Ahmad
PAPPASANG Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v5i2.660

Abstract

Banyaknya permasalahan kontemporer berkaitan dengan aspek-aspek sosial-budaya seperti konflik, terorisme, kebodohan, krisis persamaan hak, dan lain sebagainya, berujung pada perhatian banyak pihak. Permasalahan tersebut salah satunya lahir dari tafsiran agama yang eksklusif. Dalam dunia penafsiran al-Qur’an telah dilakukan pula upaya penafsiran yang lebih inklusif dan humanis untuk merespon tafsir-tafsir eksklusif. Salah satu upaya tersebut dilakukan oleh M. Dawam Rahardjo, salah seorang sarjana ilmu-ilmu sosial yang ikut tampil dalam mewarnai dunia penafsiran al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pemikiran Dawam Rahardjo terhadap konsep madi>nah dalam al-Qur’an dengan tujuan menyingkap nilai-nilai sosial-humanis al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan (library research) dengan model penelitian deskriptif analitis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, pertama, terdapat pembahasan tentang eksistensi dan peran sentral kenabian dari analisis Dawam terhadap ayat-ayat awal tentang madi>nah. Kedua, analisis Dawam terhadap ayat-ayat akhir tentang madi>nah menunjukkan pentingnya sebuah konstitusi yang disepakati semua anggota masyarakat sebagai pembentuk ketertiban dan keteraturan dalam komunitas masyarakat, sembari membina rasa persaudaraan demi menciptakan iklim egaliter. Ketiga, dalam analisis kebahasaan dari kata madi>nah dan segala bentuk derivasinya, menunjukkan bahwa kata tersebut mengandung makna kemajuan dalam kebudayaan masyarakat, humanisasi, dan peningkatan standar moral. Upaya eksplorasi nilai-nilai sosial dan budaya dalam buku”Ensiklopedi Al-Qur’an karya Dawam Rahardjo diharapkan dapat menjadi satu formula untuk merespon aneka permasalahan sosial yang terjadi dan mampu membentuk pola masyarakat ideal berbasis al-Qur’an. Kata Kunci: Madi>nah, Dawam Rahardjo, Peradaban, Agama
Otoritas Ibn 'Asyur dalam Al-Tahrir Wa Al-Tanwir sebagai Pembentuk Wacana dalam Dunia Tafsir (Studi Pendekatan Michel Foucault) Fathoni, Ahmad; Zakiy, Ahmad
TSAQOFAH Vol 4 No 2 (2024): MARET
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/tsaqofah.v4i2.2454

Abstract

This study aims to explore aspects of Ibn 'Asyur's authority in the tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir as a discourse shaper in the scientific world of Qur'anic interpretation. This type of research is library research with descriptive-analytical method. The approach to be used to achieve the research objectives is the archaeology of knowledge approach initiated by Michel Foucault in the concept of power and knowledge relations. The result of this research is that Ibn 'Asyur's tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir has an important authority in the scientific world of tafsir. This is characterized by several things. First, the complexity of Ibn 'Asyur descriptions that contain various opinions of scholars without favoring one opinion with another opinion without rational reasons creates new developments in the science of interpretation. This creates its own authority because it is able to release the tendency of laziness by moving to the aspect of rationality. Second, his expertise in the field of maqashid al-syari'ah makes him able to understand the differences in each of the arguments of the scholars of different schools and sometimes seem contradictory. With such insight, Ibn 'Asyur was able to escape the subjetivity of the madhhab and chose to be objective by containing all opinions.
Memahami Asnaf Zakat di Era Sekarang (Analisis Qs. Al-Taubah [9]: 60 Melalui Pendekatan Qira’ah Muntijah Nashr Hamid Abu Zayd: A CRITICAL STUDY OF NĀṢR ḤĀMID ABŪ ZAYD’S QIRĀ’AH MUNTIJAH PERSPECTIVE Anshori, Muhammad Helmi; Zakiy, Ahmad
Tanzil: Jurnal Studi Al-Quran Vol. 6 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Sadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20871/tjsq.v6i2.323

Abstract

This paper departs from Q.S. At-Taubah [9]: 60 which requires zakat for a Muslim to be distributed to the recipients of zakat as a way to purify themselves. If we understand the verse textually, there will certainly be no significant problems, because the target of the verse is indeed relevant to the needs of the Prophet’s society 14 centuries ago. However, what if one of the eight groups mentioned in the Qur’an is no longer found today? Departing from this anxiety, the author wants to reinterpret the concept of zakat and the recipients of zakat with the Qirā’ah Muntijah approach of Naṣr Ḥāmid Abū Zayd. This paper is a literature study, whose data source is through the verses of the Qur’an that specifically discuss the concept of zakat. Then the verses are analyzed using Qirā’ah Muntijah which is then described as the result of contextual interpretation of zakat. The result of this paper is that the eight groups of zakat recipients in Q.S. At-Taubah [9]: 60 is a mustaḥiq concept that is by the social context when the verse is revealed. At that time the groups of zakat recipients as mentioned in the verse, still existed. Furthermore, the purpose of the verse is to empower weak communities in terms of financial needs, which was the need of the community at that time. In the present context, the verse can be allocated to other groups such as: the insane, the blind, the homeless, people with disabilities, the Palestinian mujahids, the students, the teachers, the domestic assistants who are abused by their employers, the lowly laborers who are still shackled by their employers, and the refugees of other natural disasters.  
PANDANGAN THABATHABA’I TENTANG IMPLIKASI POTENSI MANUSIA TERHADAP MISI FUNGSIONALNYA Zakiy, Ahmad; Ali, Rijal
Jalsah : The Journal of Al-quran and As-sunnah Studies Vol. 3 No. 2 (2023): October
Publisher : LPPM IIQ An Nur Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37252/jqs.v3i2.564

Abstract

Kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi di zaman sekarang ternyata belum benar-benar mampu menjawab mengenai persoalan asal usul kejadian manusia. Salah satu cara untuk mengisi kekosongan tersebut adalah dengan menggali ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan penciptaan. Ayat-ayat tersebut memiliki muatan yang filosofis, sehingga perlu dikaji dengan pendekatan filosofis agar mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan mendalam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Muhammad Husein Thabathaba’i. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menjelaskan dua hal, yaitu (1) bagaimana penafsiran Thabathabai terhadap QS. al-Baqarah [2]: 30 dan QS. al-Ahzab [33]: 72 (2) bagaimana pandangan Thabathaba’i tentang konsep penciptaan manusia. Ada dua sumber data yang digunakan dalam penelitian ini. Sumber data primer diambil dari Tafsir al-Mizan karya Thabathaba’i, sedangkan literatur lainnya, seperti buku dan artikel jurnal dijadikan sebagai sumber sekunder. Dengan menggunakan metode deskriptif analitis, penulis terlebih dahulu memaparkan penafsiran Thabathaba’i terhadap QS. al-Baqarah [2]: 30 dan QS. al-Ahzab [33]: 72. Hasil penafsiran tersebut kemudian dianalisis untuk melihat bagaimana pandangan dan pemahaman Thabathaba’i mengenai potensi manusia dan implikasinya terhadap misi fungsional penciptaan manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemilihan manusia sebagai khalifah dan pemegang mandat al-amanah dari Allah Swt. dikarenakan keberadaan potensi dalam dirinya. Potensi ini pula lah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya seperti malaikat, gunung, bumi, dan langit. Adapun mandat tersebut merupakan ibadah yang berupa kehadiran hamba di hadapan Allah, rabb al-‘alamin, dengan penuh kerendahan diri dan penghambaan kepada-Nya, serta kebutuhan sepenuhnya kepada Tuhan Pemilik kemuliaan mutlak.