Stunting merupakan masalah gizi utama di Indonesia, khususnya wilayah timur. Di Provinsi Gorontalo, prevalensi tahun 2022 mencapai 23,9%, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Kondisi ini menegaskan perlunya intervensi nyata tidak hanya melalui layanan kesehatan formal, tetapi juga program pengabdian masyarakat berbasis komunitas. Kelompok paling rentan adalah ibu–balita, sehingga peningkatan literasi gizi dan keterampilan pengolahan pangan sehat di rumah tangga sangat penting. Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui Program Rumah Gizi di Desa Piloliyanga, Kabupaten Boalemo, bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan ibu–balita dalam pencegahan stunting. Sebanyak 11 ibu–balita terlibat aktif. Tahap awal dilakukan asesmen pengetahuan terkait gizi seimbang, pemberian makan bayi dan anak (PMBA), serta pemahaman dasar stunting. Selanjutnya diberikan edukasi gizi menggunakan media interaktif, seperti piramida gizi, sudut gizi, dan media Edu TV untuk memudahkan pemahaman. Selain itu, kegiatan inti lainnya berupa demo masak berbasis pangan lokal dengan memanfaatkan bahan sekitar, seperti ikan, umbi, sayur, dan buah. Melalui kegiatan ini, ibu tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis mengolah dan menyajikan makanan sehat. Pendekatan ini meningkatkan keberagaman pangan rumah tangga sekaligus mendukung empat pilar ketahanan pangan: ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas pangan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi dari kategori rendah–sedang, serta keterampilan dalam praktik pengolahan makanan sehat. Perubahan sikap terlihat pada pemilihan bahan pangan, penyusunan menu keluarga, dan penerapan prinsip gizi seimbang. Program Rumah Gizi terbukti meningkatkan literasi gizi sekaligus ketahanan pangan rumah tangga. Program ini dapat direkomendasikan sebagai model pengabdian masyarakat yang efektif, aplikatif, dan berkelanjutan dalam pencegahan stunting.