Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

UJI PERBANDINGAN EFEKTIVITAS EKSTRAK SERAI WANGI (Cymbopogon Nardus) DAN PEPERRMINT (Mentha Piperita) SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI TERHADAP KECOA AMERIKA (Periplaneta Americana) DENGAN METODE SEMPROT Laduna Aniq; Novita Sari; Nurfadilah
Jurnal Kesehatan Farmasi Manajemen Vol 3 No 1 (2025): JURNAL ILMU KESEHATAN FARMASI, KEPERAWATAN, KEBIDANAN
Publisher : JURNAL KESEHATAN FARMASI MANAJEMEN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Kecoa amerika (Periplaneta americana) termasuk jenis insecta yangberperan sebagai vektor mekanik beberapa penyakit. Penyakit yang dapat ditularkan melaluikecoa diantaranya diare, typus, asma, TBC, kolera .salah satu cara pengendalian kecoa yaituperlu dilakukan pengendalian vector secara kimia dengan menggunakan insektisida nabati.Sehigga perlu dilakukan penelitian tentang evektivitas ekstrak serai wangi (CymbopogonNardus) dan peppermint (Mentha Piperita) yang dapat digunakan sebagai insektisida nabatiterhadap kecoa amerika (Periplaneta Americana) dengan metode semprot.Tujuan : Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji perbandingan potensi efektivitas antaraekstrak serai wangi (Cymbopogon Nardus), peppermint (Mentha Piperita) yang berpotensisebagai insektisida nabati terhadap kecoa amerika (Periplaneta Americana).Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dan ditinjau darisegi tujuan. Penelitian ini bersifat verifikatif yang menguji kebenaran hasil dari penelitiansebelumnya. Obyek pada penelitian ini menggunakan hewan uji sebanyak 300 ekor kecoaamerika (Periplaneta Americana) kemudian dilakukan penyemprotan menggunakan larutanuji ekstrak serai wangi (Cymbopogon Nardus) , ekstrak papermint (Mentha Piperita) danaquadest pada konsentrasi yang sudah ditetapkan..Hasil : Berdasarkan hasil analisa univariat uji perbandingan efektivitas ekstrak serai wangi(Cymbopogon Nardus) dan ekstrak peppermint (Mentha Piperita) sebagai insektisida nabatiterhadap kecoa amerika (Periplaneta Americana) diperoleh rerata persentase dengan jumlahkematian kecoa sebanyak 12 ekor dari jumlah 15 ekor kecoa amerika perkontainernya.Sedangkan yang menggunakan konsentrasi 50:50% diperoleh jumlah kematian kecoasebanyak 9 ekor dari jumlah 15 ekor kecoa amerika perkontainernya. Dengan lama kontakselama 60 menit dengan 6 kali pengulangan.Berdasarkan hasil analisa bivariat Kruskall Walis diperoleh nilai signifikan yaitu 0.00dengan nilai signifikan ˂0.05 dengan keterangan Ha diterima dan Ho ditolak yangmenunjukan adanya pengaruh perbandingan efektivitas ekstrak serai wangi (CymbopogonNardus) dan ekstrak peppermint (Mentha Piperita) sebagai insektisida nabati terhadapkecoa amerika (Periplaneta Americana).
Efficacy and safety of antidiabetics agents in gestational diabetes mellitus (GDM): a literature review Rommy; Aldia Dwi Karinaningrum; Berliana Luthfiananda; Laduna Aniq; Lydia Sherly Evelina; Rifani Fauzi
Indonesian Journal of Pharmacology and Therapy Vol 3 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing Universitas Gadjah Mada and Indonesian Pharmacologist Association or Ikatan Farmakologi Indonesia (IKAFARI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijpther.3244

Abstract

One of the most common metabolic diseases during pregnancy period is gestational diabetes mellitus (GDM). It is associated with several perinatal complications, especially in those who have risk factors such as obesity, polycystic ovary syndrome, and a family history of type 2 diabetes mellitus (DM). Some research has shown that physical exercise and medical nutrition treatment can give beneficial effects to control glycemic and body weight for GDM affected women. Furthermore, pharmacological agents such as insulin and a specific oral antidiabetic can be prescribed safely during pregnancy to decrease maternal glucose blood. Therapy of GDM is needed to control blood for the wellness of the patient during and after the pregnancy. The main treatment therapy for GDM is lifestyle modification, which includes medical nutritional therapy and daily physical exercise. In the special case of disorder glucose level, drug therapy will be given to the patient. Insulin is the chosen drug because it is safe and does not cross the placenta. It is the gold standard pharmacological agent for GDM treatment. However, it still has some disadvantages such as the difficulties of how to use it, how many doses must be given, and the price that tends to be expensive. Consequently, the alternative drug may have to substitute it. Insulin can be substituted by metformin and glyburide (glibenclamide) in the form of oral antidiabetic. They are equal in terms of efficacy and safety compare to insulin as a treatment for GDM. Besides, they are also cheaper, and easy to use.
GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DI APOTEK Laduna Aniq; Ramita Fatia Sarah
Jurnal Kesehatan Farmasi Manajemen Vol 3 No 1 (2025): JURNAL ILMU KESEHATAN FARMASI, KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : JURNAL KESEHATAN FARMASI MANAJEMEN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Hipertensi adalah salah satu masalah kesehatan global yang prevalensinya terus meningkat dan kerap dijuluki sebagai pembunuh diam-diam karena jarang menimbulkan gejala pada tahap awal. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan terapi antihipertensi dan menilai kesesuaiannya dengan pedoman terapi. Metode Penelitian : Rancangan penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan di Apotek Nias Kota Sukabumi. Data diambil dari rekam medik dan resep secara retrospektif pada periode Januari hingga Juni 2025. Subjek penelitian adalah pasien yang terdiagnosis hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil : Hasil penelitian diperoleh sebanyak 72 pasien dengan hipertensi di Apotek Nias adalah berjenis kelamin perempuan (52,77%) dan laki-laki (47,22%), paling banyak berusia dewasa 18-59 tahun (76,38%), diikuti kelompok usia lanjut ≥60 tahun (23,61%). Hasil analisis menunjukkan bahwa Golongan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah golongan Calcium Channel Blocker (CCB) sebesar (61,29%), dan golongan Angiotensin II Receptor Blocker (ARB) (16,12%). Jenis obat terbanyak digunakan yaitu Amlodipin (61,28%) dan Kandesartan (13,97%). Sebagian besar pasien memperoleh terapi antihipertensi melalui pendekatan monoterapi (terapi tunggal) 82%, sedangkan 18% menggunakan kombinasi.  Pola penggunaan terapi antihipertensi di Apotek Nias masih cenderung mengikuti terapi bertahap (stepwise therapy) sesuai dengan pedoman terapi dengan pemilihan obat tunggal sebagai terapi awal.
Identifikasi Potentially Inappropriate Medication (PIM) Berdasarkan Beers Criteria 2023 pada Pasien Geriatri Laduna Aniq
Jurnal Kesmas Asclepius Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Kesmas Asclepius
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/a67bds39

Abstract

This study aims to identify the characteristics of geriatric patients, the types of medication administered, and evaluate the incidence of Potentially Inappropriate Medication (PIM) based on the 2023 Beers Criteria at Suryakencana Pharmacy in Sukabumi City. The study used a retrospective descriptive observational design with a quantitative approach. Data were obtained from prescriptions and medical records of geriatric patients who filled the medication between December 2024 and June 2025. Analysis was performed by matching the prescribed medication with the criteria in the 2023 Beers Criteria. A total of 100 patients were included in the study sample, with the majority aged 60–74 years (73.74%) and female (62%). Most patients received ≤5 types of medication (95%). The most common diagnoses came from the nervous system disease group, with the dominant comorbidities being hypertension and diabetes mellitus. The most common medications included in the Beers Criteria category were non-selective NSAIDs such as diclofenac (55.55%) and the anticonvulsant gabapentin (15.66%). PIM incidents were found primarily in the categories of "drugs to avoid" (47.09%) and "use with caution" (2.90%). The study's conclusion confirms that the high incidence of PIM in geriatric patients indicates the need for consistent application of the Beers Criteria in pharmaceutical care practices to improve therapeutic safety in the elderly. Keywords: Beers Criteria, Geriatri, Potentially Inappropriate Medication (PIM).