p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Kurios
Batlajery, Agustinus M. L.
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Reformasi dan keesaan gereja: Makna peristiwa 31 Oktober bagi Gereja Protestan dan Katolik masa kini Batlajery, Agustinus M. L.
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.326

Abstract

It has been well known that the sixteenth-century reformation of the church began on October 31st, 1517 when Martin Luther put 95 theses at the gate of Wittenburg church. That is the beginning of reformation but also starting point of church separation and split. While on October 31th 1999 the Lutheran representative and the Catholic leader signed what is called the Joint Declaration on the Doctrine of Justification in which the Protestants and the Catholics show their common understanding of the doctrine of justification. This event could be seen as an indication that unity among two churches is a possibility. So the first October 31st refers to reformation and separation but the second October 31st refers to unity. This article wants to analyze the meaning of these two events for the Protestants and Catholics nowadays. Both churches can learn much from these important events for their present and future relationship. By analyzing the meaning of the valuable historical event we can say that the way to come close to each other and to become one church in the future is open.AbstrakSebagaimana diketahui bersama bahwa reformasi gereja abad ke-16 dimulai pada 31 Oktober 1517, ketika Martin Luther memasang 95 dalil di pintu gerbang gereja di Wittenburg. Itulah permulaan reformasi sekaligus titik awal perpecahan gereja. Sementara pada 31 Oktober 1999 perwakilan dari gereja Lutheran dan pemimpin gereja Katolik menandatangani apa yang disebut Dekla-rasi Bersama Doktrin tentang Pembenaran, yang di dalamnya gereja Protestan dan Katolik memperlihatkan kesepahaman tentang ajaran pembenaran. Peristi-wa tersebut dapat dilihat sebagai petunjuk bahwa kesatuan antara kedua gereja adalah sebuah kemungkinan. Maka 31 Oktober 1517 merupakan tanggal refor-masi sekaligus perpecahan, sedangkan 31 Oktober 1999 merupakan tanggal per-damaian atau keesaan. Artikel ini hendak menganalisis makna kedua peristiwa tersebut bagi gereja Protestan dan Katolik masa kini. Kedua gereja dapat belajar banyak dari kedua peristiwa yang penting ini bagi relasi mereka masa kini dan mendatang. Melalui analisis terhadap peristiwa sejarah yang bernilai ini kita dapat mengatakan bahwa jalan kepada kedekatan satu sama lain serta keesaan keduanya telah terbuka.
Relasi hostipitalitas masyarakat multikultural dan multireligi: Sebuah upaya mendaratkan moderasi beragama Rantung, Djoys; Batlajery, Agustinus M. L.
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1419

Abstract

Multicultural and multireligious relations in Indonesia, particularly in Minahasa, display a dual nature: hospitality and hostility. Jacques Derrida refers to this as a relationship of hospitality. The Jaton and Werdhi Agung communities are real-life examples of how relationships are built on hospitality. Still, at another level, there are relationships of power, determination, and hostility toward adherents of other religions. That is why the idea of religious moderation has emerged as an alternative to hospitality, intended to foster a more hospitable relationship. Using a descriptive qualitative analysis, this study draws on books, articles, and interviews to conclude that the concept of religious moderation offers an alternative framework for intercultural and interreligious peacemaking.   Abstrak Relasi masyarakat multikultural dan multireligi di Indonesia, khususnya Minahasa, menampilkan hubungan yang berwajah ganda: keramahan dan permusuhan. Jacques Derrida menyebutnya sebagai relasi hostipitalitas. Komunitas masyarakat Jaton dan Werdhi Agung merupakan potret nyata bagaimana hubungan yang terbangun didasarkan pada keramahan, namun pada lapisan tertentu ada relasi kekuasaan, determinasi, dan permusuhan terhadap yang berbeda agama. Itu sebabnya, gagasan moderasi beragama hadir sebagai salah satu alternatif bagi hubungan hos-tipitalitas untuk dapat mencapai relasi yang hospitable. Dengan menggu-nakan pendekatan kualitatif deskriptif analisis, penelitian ini mengguna-kan referensi buku, artikel dan wawancara, maka dapat ditarik kesimpul-an bahwa konsep moderasi beragama merupakan gagasan alternatif bagi perdamaian antara kelompok yang berbeda kultur dan agama.