Multicultural and multireligious relations in Indonesia, particularly in Minahasa, display a dual nature: hospitality and hostility. Jacques Derrida refers to this as a relationship of hospitality. The Jaton and Werdhi Agung communities are real-life examples of how relationships are built on hospitality. Still, at another level, there are relationships of power, determination, and hostility toward adherents of other religions. That is why the idea of religious moderation has emerged as an alternative to hospitality, intended to foster a more hospitable relationship. Using a descriptive qualitative analysis, this study draws on books, articles, and interviews to conclude that the concept of religious moderation offers an alternative framework for intercultural and interreligious peacemaking. Abstrak Relasi masyarakat multikultural dan multireligi di Indonesia, khususnya Minahasa, menampilkan hubungan yang berwajah ganda: keramahan dan permusuhan. Jacques Derrida menyebutnya sebagai relasi hostipitalitas. Komunitas masyarakat Jaton dan Werdhi Agung merupakan potret nyata bagaimana hubungan yang terbangun didasarkan pada keramahan, namun pada lapisan tertentu ada relasi kekuasaan, determinasi, dan permusuhan terhadap yang berbeda agama. Itu sebabnya, gagasan moderasi beragama hadir sebagai salah satu alternatif bagi hubungan hos-tipitalitas untuk dapat mencapai relasi yang hospitable. Dengan menggu-nakan pendekatan kualitatif deskriptif analisis, penelitian ini mengguna-kan referensi buku, artikel dan wawancara, maka dapat ditarik kesimpul-an bahwa konsep moderasi beragama merupakan gagasan alternatif bagi perdamaian antara kelompok yang berbeda kultur dan agama.
Copyrights © 2025