Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Prevention of Aeromonas hydrophila on catfish juvenile using garlic and shatterstone herb Wahjuningrum, Dinamella; Astrini, Retno; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2843.985 KB) | DOI: 10.19027/jai.12.86-94

Abstract

ABSTRACT This study aimed to determine the dose of garlic and shatterstone herb mixed into the feed in 11-day old catfish juvenile (body length 1.53±0.26 cm, body weight of 40±16 mg). The study was divided into two steps, the first step was dose determination and the second step was the dose testing. The treatment was carried out for 21 days, then the challenge test was conducted by immersion method for 60 minutes in A. hydrophila density of 104 cfu/mL. Parameters of observation were survival, feed intake, relative growth rate, morphology of the liver, and water quality. The result showed that garlic at 25 g/kg and shatterstone herb at 5 g/kg provided higher fish viability (81.11±3.85%) compared with the control (23.00±5.77%). Feed intake and relative growth rate were not different among the treatments. Whereas the liver condition in positive control was paler than other treatments. Thus, prevention of A. hydrophila infection on catfish juvenile was effectively achieved by feeding with diet supplemented by garlic 25 g/kg and shatterstone herb 5 g/kg. Keywords: garlic, shatterstone herb, Aeromonas hydrophila, juvenile, catfish  ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis bawang putih dan meniran yang dicampur ke pakan dalam bentuk tepung pada benih lele berumur 11 hari (berukuran panjang 1,53±0,26 cm dan bobot 40±16 mg). Penelitian ini terbagi menjadi dua tahap, pertama adalah tahap penentuan dosis (dosis 20 ppt bawang putih+5 ppt meniran dan 25 ppt bawang putih+5 ppt meniran) dan kedua adalah tahap pengujian dosis. Perlakuan diberikan selama 21 hari, kemudian uji tantang dilakukan dengan metode perendaman selama 60 menit dengan kepadatan bakteri A. hydrophila 104 cfu/mL. Parameter yang diamati adalah kelangsungan hidup, jumlah konsumsi pakan, pertumbuhan relatif, morfologi organ hati, dan kualitas air. Hasil penelitian membuktikan bahwa perlakuan bawang putih 25 g/kg dan meniran 5 g/kg memberikan kelangsungan hidup benih lele sebesar 81,11±3,85%, sedangkan kontrol positif 23,00±5,77%. Jumlah konsumsi pakan dan pertumbuhan relatif tidak berbeda antarperlakuan, sedangkan organ hati berwarna pucat pada kontrol positif. Pencegahan infeksi bakteri A. hydrophila dengan pakan campuran bawang putih 25 g/kg dan meniran 5 g/kg efektif dilakukan pada benih ikan lele. Kata kunci: bawang putih, meniran, Aeromonas hydrophila, benih, ikan lele 
Workshop Pembuatan Kompos untuk Mengurangi Limbah Organik Domestik Warga Dukuh Kanigoro, Mangunan Reza, Riyan Fatur; Nurhidayati, Siti; Pratiwi, Destia Indah; Handayani, Nurul Silvia; Setyoningrum, Kurnia Dwi; Pamungkas, Devan; Putri, Meisya Aulia Rifqina; Astrini, Retno; Salsabila, Imellia; Khairunnisa, Vania Auerellya; Rofita, Pipit
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 4 No. 2 (2026): April
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v4i2.4250

Abstract

Limbah organik rumah tangga merupakan penyumbang utama sampah domestik di Indonesia, namun pengelolaannya masih belum optimal akibat minimnya pemilahan dan praktik pembakaran terbuka (open burning) yang berpotensi mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan. Kondisi ini juga ditemukan di Dukuh Kanigoro, di mana masyarakat masih memiliki keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola limbah secara mandiri. Oleh karena itu, program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan pelatihan pengomposan sederhana. Kegiatan dilaksanakan pada 21 Januari 2026 di Dukuh Kanigoro, Mangunan, melalui survei awal, wawancara, penyampaian materi, serta demonstrasi pembuatan kompos dari limbah rumah tangga dengan melibatkan perwakilan beberapa RT secara partisipatif. Hasil menunjukkan bahwa sebelum program, masyarakat belum melakukan pemilahan sampah, namun setelah sosialisasi dan praktik, pemahaman terhadap teknik pengomposan sederhana meningkat. Partisipasi aktif serta pembagian alat dan panduan turut memperkuat peluang penerapan secara mandiri. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat serta berpotensi mendorong perubahan perilaku menuju pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan mendukung ekonomi sirkular.