Made Mika Mega Astuthi
Program Magister Bioteknologi Pertanian, Program Pascasarjana Universitas Udayana

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PRILAKU PETANI TERHADAP USAHATANI CABE RAWIT : KASUS DI BANJAR TAMAN TANDA, DESA BATUNYA, KECAMATAN BATURITI, KABUPATEN TABANAN Parwata, I Gede; Astuthi, Made Mika Mega
dwijenAGRO Vol 5 No 1 (2015): dwijenAGRO
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.139 KB) | DOI: 10.46650/dwijenagro.5.1.325.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap petani, tingkat pengetahuan petani, dan  menganalisa hubungan antara sikap dan pengetahuan petani terhadap usaha tani cabe rawit di Banjar Taman Tanda, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan. Jumlah petani sampel yang diambil adalah sebanyak 50 dari 128 populasi. Hasil analisis tujuan pertama menunjukkan bahwa Rata-rata sikap petani di Banjar Taman Tanda Desa Batunya Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan terhadap usahatani cabe  adalah tergolong setuju, yaitu dengan rata-rata pencapaian skornya adalah 82,40 % dari skor maksimal. Indikator-indikator yang diukur adalah pemupukan berimbang, penggunaan benih, irigasi, dan pengendalian hama dan penyakit. Hasil analisis tujuan kedua menunjukkan bahwa Rata-rata tingkat pengetahuan petani di Banjar Taman Tanda, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan mengenai usahatani cabe adalah tergolong tinggi yaitu dengan pencapaian skor 76,50 % dari skor maksimal.  Indikator yang diukur pada variabel pengetahuan ini adalah pengertian usahatani tanaman cabe, pemupukan berimbang, penggunaan, irigasi dan pengendalian hama dan penyakit tanaman cabe. hasil analisis tujuan ketiga menunjukkan bahwa Hasil analisa statistikan dengan menggunakan uji Chi Square diperoleh bahwa terdapat hubungan yang nyata antara tingkat pengetahuan dengan sikap petani mengenai usahatani cabe. Nilai X2 hitung pada hubungan antara variabel sikap dengan pengetahuan tersebut adalah 7,94 yang lebih besar dari pada angka X2 tabel (0,05), yaitu 3,841.Kata Kunci : Sikap petani, pengetahuan petani, dan Cabai rawit
ANALISIS USAHATANI KACANG TANAH : KASUS DI SUBAK PELADUNG, KECAMATAN KARANGASEM, KABUPATEN KARANGASEM Astuthi, Made Mika Mega; Adnyana, I Made Ardi Utama
dwijenAGRO Vol 7 No 1 (2017): dwijenAGRO
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.509 KB) | DOI: 10.46650/dwijenagro.7.1.502.%p

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah : 1) untuk mengetahui besarnya biaya usahatani tanaman kacang tanah di tingkat petani yang ada di Subak Peladung, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, 2) Untuk mengetahui besarnya  penerimaan dan pendapatan petani dari usahatani kacang tanah di Subak Peladung, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, dan 3) Untuk mengetahui tingkat keuntungan petani pada usahatani kacang tanah di Subak Peladung, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem.Lokasi penelitian diSubak Peladung, Desa Padangkerta Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani yang mengembangkan usahatani kacang tanah di Subak Peladung,  di Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem yang jumlahnya sebanyak 35 KK petani. Dengan memperhatikan keterbatasan dana, waktu dan tenaga, maka tidak seluruh unit populasi dijadikan sebagai unit penelitian. Tetapi, dilakukan teknik sampling untuk memperoleh sampel yang representatif terhadap populasi. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling untuk mendapatkan sampel sebanyak 25 orang. Asumsi dalam penelitian ini adalah seluruh unit populasi memiliki tingkat homogenitas yang tinggi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Rata-rata biaya total yang dikeluarkan petani untuk usahatani kacang tanah pada setiap luas garapannya adalah sebesar Rp 2.464.500 atau Rp 7.701.562,5/ha. 2) Rata-rata penerimaan usahatani kacang tanah adalah Rp.5.248.000/luas garapan, atau Rp 16.400.000/ha. Rata-rata pendapatan yang diterima oleh 25 petani sampel adalah Rp. 2.783.500. Hasil penelitian tersebut diperoleh dari rata-rata penerimaan dikurangi dengan rata-rata biaya yang dikeluarkan. Atau dengan lain, rata-rata pendapatan petani dalam adalah sebesar Rp.8.698.437,7/ha. 3) RC rasio usahatani kacang tanah adalah 2,129, bernilai lebih besar dari pada 1 (satu) maka dapat dikatakan bahwa usahatani kacang tanah yang dilakukan di Subak Peladung Kecamatan Karangasem tersebut adalah menguntungkan.Kata kunci: Kacang tanah, usahatani, biaya, penerimaan dan pendapatan
Struktur Komunitas dan Sebaran Populasi Kutu Putih (Hemiptera: Pseudococcidae) pada Tanaman Ubi Kayu di Bali: Implikasi Pengelolaan Hama Berkelanjutan Astuthi, Made Mika Mega; Marsadi, Dicky; Dirgayana, I Wayan
Jurnal Proteksi Tanaman (Journal of Plant Protection) Vol. 9 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Plant Protection Department, Faculty of Agriculture, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpt.9.2.83 - 94.2025

Abstract

Mealybugs (Hemiptera: Pseudococcidae) are important pests that threaten cassava in Bali; however, detailed information on their community structure and spatial distribution remains limited. This study aimed to analyze the community structure and spatial distribution patterns of mealybugs infesting cassava across Bali Province, Indonesia. Field sampling was conducted in nine regencies—Jembrana, Tabanan, Buleleng, Badung, Denpasar, Gianyar, Bangli, Klungkung, and Karangasem—using a diagonal sampling method. In each regency, five sampling units were established, with five cassava plants observed per unit. On each plant, three upper, middle, and lower leaves were examined. The results of the study showed four mealybug species: Phenacoccus manihoti, Paracoccus marginatus, Ferrisia virgata, and Pseudococcus jackbeardsleyi, with species richness index values ranging from 0.368 to 0.388. All species were recorded in all surveyed regencies and exhibited a predominantly random spatial distribution pattern, as indicated by a variance-to-mean ratio (S²/X ≈ 1). Overall dominance was highest for P. marginatus (46.23%), particularly in Karangasem, followed by P. manihoti (45.72%) in Denpasar. The mealybug community structure was characterized by a diversity index (H′) ranging from 0.73 to 1.22, an evenness index (E) ranging from 0.16 to 0.24, and a dominance index (C) ranging from 0.32 to 0.54, indicating spatially variable communities that ranged from relatively stable to less stable conditions. These findings provide the baseline data on the community structure and spatial distribution of mealybugs on cassava in Bali, offering important insights for developing targeted monitoring and sustainable pest management strategies