Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Glaheng and Sewugalur: Developing a Da'wah Center and Religious Relations in Adikarto in the Early 20th Century Athoillah, Ahmad
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 7 No. 1 (2024): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research on the center of Islamic da'wah in Adikarto during the early 20th century, particularly in Glaheng and Sewugalur, is necessary as there is a shortage of historiographic studies dedicated to this topic. The primary objective for conducting this research is to elucidate the pivotal role of the Glaheng and Sewugalur communities in da'wah efforts to propel Islamic teachings and movements in Adikarto up to Indonesia's independence period. This investigation is crucial to enhance the historiography of Islamic societies' social activism in advancing teachings and religious movements. The study utilized the historical research method, employing Max Weber's religious relations approach. The findings reveal Glaheng and Sewugalur as pivotal centers of Islamic preaching in Adikarto, influenced by religious connections with the industrial economy. Furthermore, da'wah efforts in Glaheng and Sewugalur were undertaken to ensure that the religious significance of the Islamic community in Adikarto was not marginalized amidst the onset of modernity. Keywords: Glaheng, Sewugalur, Da’wah Center, Adikarto
SOSIALISASI MEDIA EDUKATIF INTERAKTIF “BIOPORI” BERBASIS VIRTUAL REALITY BAGI PEMUDA KARANG TARUNA Naryanto, Rizqi Fitri; Delimayanti, Mera Kartika; Kriswanto, Kriswanto; Indriawan, Ari Dwi Nur; Sukoco, Imam; Subagyo, Yusuf; Eko Saputro, Wahyu Danang; Athoillah, Ahmad
ADIMAS Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6 No 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/adi.v6i1.4146

Abstract

Karang Taruna adalah salah satu organisasi pemuda yang keberadaanya terstruktur merata di seluruh Indonesia dari tingkat RT/RW, desa/kelurahan, dan kecamatan. Pemuda penerus bangsa sangat terbiasa dengan pemanfaatan teknologi terkini di bidang TIK, salah satunya adalah teknologi Virtual Reality (VR). Pada kegiatan program pengabdian dosen kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi dengan media interaktif berbasis VR kepada pemuda karang taruna tentang teknologi Biopori. Teknologi Biopori merupakan salah satu alternatif pencegah banjir yang dapat dilakukan oleh seluruh khalayak masyarakat dengan membuat lubang resapan di sekitar lingkungannya. Bencana banjir yang kerap melanda kota Semarang disebabkan salah satunya oleh resapan air yang sudah jauh berkurang jumlahnya. Oleh sebab itu, apabila terjadi hujan dengan intensitas sedang dalam kurun waktu lama, akan menyebabkan banjir. Pemberian edukasi akan lebih mengena kepada anak muda khususnya pemuda karang taruna dengan memberikan sosialiasi teknologi biopori. Hasil yang telah didapatkan adalah para peserta merasa sangat antusias dengan teknologi Virtual Reality (VR) karena dapat menggambarkan kondisi yang sebenarnya walaupun melalui sebuah film. Selain itu, para pemuda karang taruna menjadi paham dan mengerti tentang teknologi Biopori dapat mencegah banjir. Oleh sebab itu, sosialisasi kepada masyarakat khususnya tentang teknologi biopori sangat tepat diberikan dengan teknologi VR khusunya bagi pemuda karang taruna.
Kritik Sayid Utsman Bin Yahya terhadap Ideologi Jihad dalam Gerakan Sosial Islam Pada Abad 19 dan 20 Ahmad Athoillah
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 13 No. 5 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v13i5.914

Abstract

This writing describes the using of jihād ideology in the movement of social fighting in Jawa in the nineteenth and twentieth centuries during the people change within the colonial era. Such social struggle, which is called as holy war, was criticized by Sayid Utsman bin Yahya as an advisor of honorair of the Dutch government. Sayid Utsman then attempted to formulate the meaning of jihād as the religious activities.DOI: 10.15408/ref.v13i5.914