Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ketamin Kumur Efektif untuk Mengurangi Sore Throat Pascaintubasi M. Dwi Satriyanto; Husi Husaeni; A. Himendra Wargahadibrata
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1284.073 KB)

Abstract

Tindakan intubasi merupakan salah satu penyebab trauma mukosa jalan napas tersering yang mengakibatkan nyeri tenggorok pascaintubasi atau post operative sore throat (POST), telah dilaporkan insidensi ini sekitar 6–50% setelah tindakan anestesi umum endotrakeal. Salah satu cara pencegahan POST adalah dengan menggunakan ketamin kumur sebelum induksi, karena ketamin mempunyai kemampuan sebagai antinosisepsi dan antiinflamasi. Limapuluh pasien dengan ASA I-II, yang telah dilakukan tindakan operasi elektif kasus ginekologi dengan anestesi umum endotrakeal, yang dilakukan penelitian secara prospektif dengan melakukan uji klinis rancangan acak lengkap terkontrol buta ganda (double blind randomized controlled trial) di Central Operating Theatre (COT) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada April–Juli 2009. Pasien secara ancak dibagi menjadi dua kelompok dengan 25 subjek tiap kelompok, kelompok I, diberikan ketamin 0,5 mg/kgBB dalam NaCl 0,9% 30 mL; kelompok II, NaCl 0,9% sebanyak >30 mL. Pasien diminta untuk berkumur dengan cairan ini selama 30 detik, 5 menit sebelum induksi. POST dinilai pada jam T0, T2, T4, dan T24 setelah operasi dengan 4 skala (0–3). Kejadian POST lebih sering terjadi pada kelompok II dibandingkan dengan kelompok I pada T0, T2 dan T4 dan kelompok II secara signifikan lebih berat menderita POST dibandingkan dengan kelompok I (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah ketamin kumur mengurangi kejadian dan derajat POST.Kata kunci: Intubasi, ketamin kumur, post operative sore throat (POST)The Effectivity of Ketamine Gargle in Reducing Post Operative Sore Throat (POST) Following IntubationTracheal intubation is a foremost cause of trauma to the airway mucosa, resulting in post operative sore throat (POST) with reported incidences of 6–50%. We compared the effectiveness of ketamine gargles compared to placebo in preventing POST after endotracheal general anesthesia. One of the POST preventions by usingketamine gargle before induction, because ketamine has anti-nociceptive and anti-inflamatory properties Fifty, ASA I–II, patients undergoing elective surgery for gynecologic under general anaesthesia endotracheal were enrolled in a double blind randomized controlled trial study at Central Operating Theatre (COT) Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during April–June 2009. Patients were randomly allocated into two groups< of 25 subjects each: Group I, receiving ketamine 0,5 mg/kgBW in saline 30 mL; Group II, receiving saline 30 mL. Patients were asked to gargle this mixture for 30 second, 5 minutes before induction of anaesthesia. POST was graded at 0, 2, 4, and 24 h after operation on a four-point scale (0–3). POST occurred more frequently in Group II, when compared with Group I, at 0, 2, and 4 h and significantly more patients suffered POST in Group II compared with Group I (p<0.05). The conclusions of this study revealed that ketamine< gargles reduces the incidence and degree of POST.Key words: Intubation, ketamine gargle, post operative sore throat (POST) DOI: 10.15851/jap.v2n1.237
Tatalaksana Anestesi pada Pendarahan Intraserebral Spontan Non Trauma M. Dwi Satriyanto; Siti Chasnak Saleh
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2763.402 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol4i1.102

Abstract

Pendarahan Intraserebral (PIS) adalah ekstravasasi darah yang masuk kedalam parenkim otak, yang dapat berkembang ke ruang ventrikel dan subarahnoid, yang terjadi secara spontan dan bukan disebabkan oleh trauma (non traumatis) dan salah satu penyebab tersering pada pasien yang dirawat di unit perawatan kritis saraf. Kejadian PIS berkisar 10–15% dari semua stroke dengan angka kematian tertinggi tingkat dari subtipe stroke dan diperkirakan 60% tidak bertahan lebih dari satu tahun. Laki-laki 18 tahun, datang dengan keluhan penurunan kesadaran setelah sebelumnya merasakan lemas pada anggota gerak kanan yang terjadi tiba-tiba saat mengendarai kendaraan. Pada pemeriksaan didapatkan kesadaran GCS E3M5V2 dengan hemodinamik cukup stabil, dan terdapat hemiplegi dextra. Pasien dirawat di perawatan intensif selama 4 hari, karena kesadaran menurun menjadi E2M4V2 maka dilakukan MSCT ulangan, dan ditemukan PIS bertambah (kurang lebih 30cc) dibandingkan dengan MSCT sebelumnya dengan midline shift lebih dari 5mm. Diputuskan untuk dilakukan tindakan kraniotomi evakuasi segera dengan pemeriksaan penunjang yang cukup. Tindakan kraniotomi evakuasi pada pasien PIS menjadi tantangan bagi seorang spesialis anestesiologi, sehingga diperlukan pengetahuan akan patofisiologi, mortalitas PIS dan tindakan anestesi yang harus dipersiapkan dan dikerjakan dengan tepat. Anesthesia Management in Spontaneous-Non Traumatic Intracerebral HemorrhageIntracerebral hemorrhage (ICH) is the extravasations of blood into the brain parenchyma, which may develop into ventricular and subarachnoid space, that occurs spontaneously and not caused by trauma (non-traumatic), and one of the most common causes in patients treated in the neurological critical care unit. ICH represents approximately 10–15% of all strokes with the highest mortality rates of all stroke subtypes and about 60% of patients with ICH may not survive within the first year. A 18 years old male with loss of consciousness after suffering from sudden right limb weakness while driving a vehicle. On examination, the level of consciousness (GCS) was E3M5V2 with stable hemodynamic and right hemiplegia. Patients was managed in intensive care unit (ICU) for 4 (four) days, and because of the decreasing level of consciousness to E2M4V2, the MSCt test was performed and the result revealed an ICH (approximately 30cc) compared to the previous MSCt with more than 5mm midline shift. Immediate craniotomy evacuation was then performed. Craniotomy evacuation in ICH patients is challenging for an anesthesiologist.Therefor, require a thorough understanding of the pathophysiology as well as mortality of ICH and anesthetic management should be prepared and done properly.