Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Sintesis

IDIOM YANG BERUNSUR KATA HATI DAN KATA KERJA TAK TRANSITIF DALAM BAHASA INDONESIA Isodarus, Praptomo Baryadi
Sintesis Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v12i1.1742

Abstract

Artikel ini menyajikan hasil penelitian tentang idiom yang berunsur kata hati dan kata kerja taktransitif dalam bahasa Indonesia. Isi artikel ini merupakan bagian dari hasil penelitian tentangobjek yang lebih luas, yaitu idiom yang berunsur kata hati dalam bahasa Indonesia. Melalui penelitianini, ditemukan 76 idiom yang berunsur kata hati dan kata kerja tak transitif dalam bahasa Indonesia.Berdasarkan strukurnya, idiom yang berunsur kata hati dan kata kerja tak transitif terdiri atas (i)idiom yang berstruktur kata asal + hati, (ii) idiom yang berstruktur ber-+kata asal + hati, (iii)idiom yang berstruktur ber-+hati + kata asal, (iv) idiom yang berstruktur ter-+kata asal + hati(nya), dan (v) idiom yang berstruktur me(N)-+kata asal + hati. Berdasarkan medan maknanya, 20idiom yang berstruktur kata kerja asal + hati terdiri atas 9 idiom yang menyatakan keadaan jiwayang baik dan 11 idiom yang mengungkapkan keadaan jiwa yang tidak baik. Delapan belas idiomyang berstruktur ber-+kata asal + hati terdiri atas 9 idiom yang termasuk dalam medan maknabersikap batin yang baik dan 9 idiom yang menyatakan bersikap batin yang tidak baik. Sembilanbelas idiom yang berstruktur ber-+hati + kata asal terdiri atas 8 idiom yang termasuk dalam medanmakna berwatak yang baik dan 11 idiom yang berada dalam medan makna berwatak yang tidakbaik. Dua belas idiom yang berstruktur ter-+kata asal + hati(nya) termasuk dalam medan maknatimbulnya keadaan kejiwaan tertentu. Lima idiom yang berstruktur me(N)-+kata asal +hatimenyatakan makna kedaan jiwa yang tidak baik.
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS TEKS Isodarus, Praptomo Baryadi
Sintesis Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v11i1.927

Abstract

Tulisan ini membahas perihal pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks yang merupakan salah satu pendekatan yang diterapkan pada pembelajaran bahasa Indonesia menurut Kurikulum 2013. Ada dua hal yang dibahas dalam tulisan ini. Hal pertama berkenaan dengan kegiatan apa saja yang dilakukan oleh peserta didik dalam belajar berbahasa Indonesia yang berbasis teks. Hal kedua bersangkutan dengan bekal pengetahuan apa saja yang berkaitan dengan teks yang harus dimiliki guru agar dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks.Kata kunci: pembelajaran bahasa, bahasa Indonesia, Kurikulum 2013, berbasis teks
DASAR PENAMAAN PENYAKIT FISIK DALAM BAHASA JAWA Agustinus Yoga Primantoro; Praptomo Baryadi Isodarus
Sintesis Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i2.3843

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan dasar penamaan penyakit fisik dalam bahasa Jawa. Objek penelitian ini adalah nama-nama penyakit dalam bahasa Jawa. Nama-nama penyakit fisik tersebut didapatkan dari Kamus Bahasa Jawa, Kamus Kedokteran Bahasa Jawa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V Daring, serta Bausastra Jawa-Indonesia Jilid I dan II. Metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode simak. Metode simak adalah pengumpulan data bahasa dengan mendengarkan atau membaca penggunaan bahasa (Kesuma, 2007:44). Selanjutnya, peneliti menggunakan teknik lanjutan, yakni teknik catat. Teknik catat adalah teknik menjaring data dengan hasil penyimakan data pada kartu data (Kesuma, 2007:44). Selanjutnya, data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan metode padan. Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya berada di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang diteliti (Sudaryanto, 1993:13; Kesuma, 2007:47). Kemudian, hasil penelitian disajikan dengan teknik informal. Penyajian analisis secara informal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993:145; Kesuma, 2007:71). Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori semantik. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan lima dasar penamaan nama penyakit fisik dalam bahasa Jawa, antara lain (i) bagian tubuh yang sakit, (ii) penyebab sakit, (iii) rasa, (iv) konvensi, dan (v) tiruan bunyi.
PENGEMBANGAN DWIBAHASAWAN YANG SEIMBANG UNTUK MEMPERTAHANKAN BAHASA-BAHASA DAERAH DI INDONESIA I. Praptomo Baryadi
Sintesis Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v8i2.1020

Abstract

Dalam tulisan ini dibahas perihal pergeseran bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang dalam satu dasa warsa terakhir ini menjadi keprihatinan banyak pihak. Pergeseran bahasa-bahasa daerah di Indonesia ini dikhawatirkan dapat mengancam kebertahanan kebhinekaan bahasa dan kekayaan budaya di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah kuatnya dominasi penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai ranah komunikasi. Selain itu, ada gejala bahasa daerah tidak diajarkan oleh orangtua kepada anaknya dan juga bahasa daerah tidak dipelajari oleh para siswa di sekolah.Solusi yang dapat ditawarkan adalah pengembangan dwibahasawan yang seimbang bagi anak bangsa Indonesia agar menguasai bahasa daerah dan bahasa Indonesia secara setara.Dwibahasawan yang seimbang itu kemudian dapat dikembangkan menjadi multibahasawan yang seimbang, yaitu menguasai bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan satu bahasa asing atau lebih. Agar tetap bertahan hidup, bahasa daerah harus diwariskan dari generasi ke generasi melalui pendidikan dalam keluarga dan di sekolah. Selain itu, masyarakat berkewajiban memperkuat pewarisan bahasa daerah itu melalui penyediaan berbagai ranah komunikasi bagi penggunaan bahasa daerah. Pewarisan bahasa daerah itu akan semakin kuat jika didukung oleh pemerintah, lembaga kebahasaan, dan peneliti bahasa sesuai dengan porsi tugasnya masing-masing.Kata kunci: pergeseran bahasa, bahasa daerah, dwibahasawan, bhineka tunggal ika, masyarakatanekabahasa
PENGGUNAAN TINGKAT TUTUR BAHASA JAWA SEBAGAI REPRESENTASI RELASI KEKUASAAN Praptomo Baryadi Isodarus
Sintesis Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v14i1.2550

Abstract

Tingkat tutur dalam bahasa Jawa yang pada masa sekarang lebih menonjol digunakan sebagai sarana sopan santun berbahasa, jika diteliti sejarah awal perkembangannya, sebenarnya dimanfaatkan untuk merepresentasikan relasi kekuasaan. Artikel ini menyajikan hasil kajian tentang penggunaan tingkat tutur dalam bahasa Jawa sebagai representasi relasi kekuasaan. Ada dua hal yang diteliti, yaitu aspek kebahasaan yang membentuk tingkat tutur dalam bahasa Jawa dan penggunaan tingkat tutur dalam bahasa Jawa untuk merepresentasikan relasi kekuasaan. Untuk menjelaskan dua hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis). Selain itu, penelitian ini juga dilaksanakan dengan menerapkan metode observasi untuk pengumpulan data, metode distribusional dan metode padan pragmatis untuk analisis data, serta metode informal dan metode formal untuk penyajian hasil analisis data. Ada dua temuan dari penelitian ini. Pertama, yang pokok dari tingkat tutur dalam bahasa Jawa adalah ngoko dan krama. Tingkat tutur ngoko dan krama dibedakan dari kosa katanya sehingga ada kosa kata ngoko dan ada kosa kata krama. Dalam penggunaannya, tingkat tutur menimbulkan berbagai variasi, yaitu ngoko lugu, antya-basa, basa-antya, wredha krama, kramantara, mudha krama madya krama, madyantara, dan madya ngoko. Temuan kedua adalah penggunaan tingkat tutur dalam bahasa Jawa merepresentasikan relasi kekuasaan penutur dengan mitra tutur. Pada mulanya, pengembangan tingkat tutur memperkuat kedudukan dinasti Mataram sebagai supremasi kekuasaan di Jawa. Pada perkembangan selanjutnya, selain sebagai wujud sopan santun berbahasa, tingkat tutur ngoko dan krama digunakan untuk merepresentasikan relasi kekuasaan personal, yaitu antara penutur dengan mitra tutur. Tuturan ngoko digunakan dalam komunikasi menurun, yaitu komunikasi penutur yang berstatus lebih tinggi kepada mitra tutur yang lebih rendah. Tuturan krama dipakai dalam komunikasi menaik, yaitu komunikasi antara penutur yang berstatus sosial lebih rendah kepada mitra tutur yang berstatus lebih tinggi.
PERUBAHAN PARADIGMA DALAM KAJIAN BAHASA Praptomo Baryadi Isodarus
Sintesis Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i1.3273

Abstract

Artikel ini membahas perubahan paradigma dalam kajian bahasa. Persoalan yang dibicarakan adalah (i) perubahan paradigma apa saja yang telah terjadi dalam kajian bahasa selama ini dan (ii) apa ciri dari setiap paradigma. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, digunakan teori paradigma dari Thomas Khun (1989) dan Harimurti Kridalaksana (1993). Kajian ini dilakukan melalui studi pustaka. Dari studi pustaka, diketahui bahwa sekurang-kurangnya telah terjadi empat ragam perubahan paradigma dalam kajian bahasa, yaitu paradigma filsafat, paradigma historis, paradigma formal, dan paradigma fungsional. Paradigma filsafat dalam kajian bahasa berkembang sejak abad ke-5 sebelum Masehi. Pada masa itu kajian bahasa masih merupakan bagian dari filsafat. Paradigma historis mendominasi pengkajian bahasa pada abad ke-19. Penelitian bahasa berparadigma historis dilakukan dengan membandingkan unsur-unsur dalam dua bahasa atau lebih yang dipandang sekerabat untuk menyusun kaidah perubahan-perubahan yang terjadi. Paradigma formal berkembang selama abad ke-20. Ciri penting dari paradigma formal adalah bahasa diteliti dari struktur internalnya dalam kurun waktu tertentu. Paradigma fungsional dalam kajian bahasa mulai berkembang pada menjelang abad ke-21. Paradigma fungsional berpandangan bahwa penggunaan bahasa itu tidak semata-mata berhubungan dengan faktor-faktor internal (di dalam) bahasa, tetapi juga berkaitan dengan faktor-faktor eksternal (di luar) bahasa.
IMBUHAN PEMBENTUK KATA KERJA DALAM BAHASA DAYAK KENYAH BAKUNG Meri Tiana Yan; Praptomo Baryadi Isodarus; Maria Magdalena Sinta Wardani
Sintesis Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v13i2.2296

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan imbuhan pembentuk kata kerja dalam bahasa Dayak Kenyah Bakung. Imbuhan pembentuk kata kerja itu dianalisis bentuk, fungsi, dan maknanya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dan metode cakap. Metode yang digunakan untuk analisis data adalah metode agih dan teknik baca markah. Metode yang digunakan untuk penyajian hasil analisis data adalah metode informal dan formal. Pertama, imbuhan kata kerja yang ditemukan adalah awalan {ke-}, {le-}, {m-}, {me-}, {n-}, {ne-}, {ng-}, {nge-}, {ngem-}, {ny-}, {p-}, {pe-}, {te-}, konfiks {nge-/-en}, dan sisipan {-em-}. Kedua, fungsi imbuhan kata kerja yang ditemukan dalam bahasa Dayak Kenyah Bakung ada dua jenis, yaitu berfungsi derivatif dan berfungsi inflektif. Ketiga, makna imbuhan kata kerja dalam bahasa Dayak Kenyah Bakung, yaitu setiap imbuhan bisa menyatakan bermacam-macam makna tergantung bentuk dasar yang dilekatinya, misalnya awalan {ke-}, {le-}, {m-}, {me-}, {n-}, {ng-}, {nge-}, {ngem-}, {p-}, {ny-}, {pe-}, sisipan {-em-} menyatakan makna melakukan. Awalan {le-}, {m-}, {nge-}, {ngem-}, {ny-}, {p-}, {pe-}, konfiks {nge-/-en} menyatakan makna membuat jadi. Awalan {m-} dan {n-} mengungkapkan makna melakukan kerja dengan alat. Awalan {me-} dan {nge-} mengandung makna mengeluarkan. Awalan {n-} dan {ny-} menimbulkan makna menggunakan. Awalan {ne-}, {nge-}, dan {ngem-} mengandung maknamembuat. Awalan {ng-} dan {ngem-} menyatakan makna menjadi. Awalan {ng-} menyatakan makna mengganti. Awalan {nge-} menyatakan makna menjadikan berada di. Awalan {p-} dan {pe-} menimbulkan makna sudah terjadi. Awalan {pe-} menyatakan makna saling berada di, menyebabkan. Awalan {pe-} dan {te-} menyatakan makna tidak sengaja.
DASAR PENAMAAN KUE JAJANAN PASAR DI PASAR LEMPUYANGAN Anindita Ayu Gita Coelestia; Praptomo Baryadi Isodarus
Sintesis Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i1.3123

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan dasar penamaan kue jajanan pasar di Pasar Lempuyangan Kota Yogyakarta. Data dikumpulkan menggunakan metode simak, yaitu metode yang digunakan dengan cara peneliti menyimak penggunaan bahasa (Mahsun, 2005: 242). Selanjutnya digunakan teknik catat dan teknik simak bebas libat cakap. Ketika menerapkan teknik simak bebas libat cakap, peneliti berperan sebagai pengamat penggunaan bahasa oleh informannya (Mahsun, 2005: 92). Selain itu, teknik wawancara juga digunakan. Data yang sudah diklasifikasikan dianalisis dengan metode padan translasional. Kemudian hasil analisis data disajikan dengan metode formal, yaitu penyajian kaidah penggunaan bahasa dengan hal-hal yang mudah dilihat, seperti tabel, diagram, bagan, gambar, dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga jenis dasar penamaan, yaitu (i) penamaan berdasarkan satu dasar, (ii) penamaan berdasarkan dua dasar, dan (iii) penamaan berdasarkan tiga dasar. Ketiga jenis tersebut dikategorikan berdasarkan referennya.This research describes the basis for the naming of the traditional snacks at Pasar Lempuyangan, Yogyakarta City. The data were collected using the listening method, which is the method used by the researcher listening to the use of language (Mahsun, 2005: 242). Furthermore, the note-taking technique and the engaging-free listening technique were used proficiently. When applying the proficient free listening technique, the researcher acts as an observer of the use of language by the informant (Mahsun, 2005: 92). Apart from that, interviewing techniques were also used. The classified data were analyzed using the translational equivalent method. Then the results of data analysis are presented with a formal method, namely presenting the rules for using language with things that are easy to see, such as tables, diagrams, charts, pictures, and graphics. The results showed that there were three basic types of naming, namely (i) naming based on one basis, (ii) naming based on two bases, and (iii) naming based on three bases. The three types are categorized based on their references.
IDIOM YANG BERUNSUR KATA KERJA DALAM BAHASA INDONESIA I. Praptomo Baryadi
Sintesis Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v7i1.976

Abstract

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa idiom yang berunsur kata kerja dalam bahasa Indonesia sangatlah produktif. Berdasarkan bentuknya, kata kerja yang digunakan sebagai unsur pembentuk idiom dalam bahasa Indonesia mencakup (i) akar, (ii) kata kerja dasar, (iii) kata kerja berawalan me(N)-, (iv) kata kerja berawalan ber-, (v) kata kerja berawalan ter-, (vi) kata kerja berawalan di-, (vii) kata kerja berimbuhan ke-an. Kata kerja yang paling produktif digunakan sebagai unsur idiom adalah katakerja berawalan me(N)-.Kategori kata yang secara dominan mengikuti kata kerja di atas sehingga membentuk idiom adalah kata benda. Kategori kata yang lain, misalnya kata kerja, kata sifat, dan frasa preposisional dapat pula mendampingi kata kerja sehingga membentuk idiom, tetapi jumlahnya amat terbatas. Dengan demikian, berdasarkan kategorinya, idiom yang berunsur kata kerja dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi tujuh tipe, yaitu (i) akar + kata benda, (ii) kata kerja dasar + kata benda, (iii) kata kerja berwalan me(N)- + kata benda, (iv) kata kerja berawalan ber- + kata benda, (v) kata kerja berawalan ter- + kata benda, (vi) kata kerja berawalan di- + kata benda, dan (vii) kata kerja berawalan ke-an + kata benda.Aspek semantik akan memperjelas perbedaan konstruksi yang termasuk idiom dan konstruksi yang bukan idiom. Rumus idiom adalah A + B menimbulkan makna C, sedangkan rumus konstruksi bukan idiom adalah A + B menimbulkan makna AB. Dari segi pragmatik, idiom digunakan untuk mengungkapkan maksud secara tidak langsung atau secara tidak harfiah. Idiom digunakan untuk menyembunyikan kenyataan. Idiom yang bersunsur kata kerja dalam bahasa Indonesia dipakai untuk menyembunyikan perbuatan, perilaku, atau keadaan manusia, baik atau buruk, biasa atau luar biasa.Kata kunci : idiom, bahasa Indonesia, kata kerja, semantik, pragmatik.
PERGULATAN MULTIKULTURALISME MASYARAKAT YOGYAKARTA DARI PERSPEKTIF BAHASA I. Praptomo Baryadi
Sintesis Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v9i1.1031

Abstract

Dalam tulisan ini dibicarakan perjuangan masyarakat Yogyakarta sebagai masyarakat yang multikultural untuk mewujudkan pandangan kesetaraan dalam perbedaan dalam kehidupannya dari perspektif bahasa. Pilihan perspektif bahasa ini didasarkan pada kenyataan bahwa masyarakat bahasa di Yogyakarta merupakan masyarakat yang masyarakat diglosik, yaitu masyarakat yang menggunakan banyak bahasa dengan fungsi yang berbeda. Pembahasan menunjukkan bahwa masyarakat Yogyakarta menggunakan bahasa untuk mengaransemen interaksi warganya yang beragam sehingga menciptakan kehidupan bersama yang saling menghargai. Dalam hal ini bahasa berperanan untuk mengaransemen hubungan baik antaranggota masyarakat dalam satu suku maupun antaranggota masyarakat yang berbeda suku. Selain itu, masyarakat Yogyakarta sebagai masyarakat diglosik terus bergulat memperjuangkan kesetaraan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain.