Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMASANGAN JEMBATAN GIRDER BAJA TRANSYOGI MENGGUNAKAN INCREMENTAL LAUNCHING METHOD DI PROYEK JALAN TOL ELEVATED CIMANGGIS–CIBITUNG, STA +28.600–STA +28.800 Basuki Muchlis; Demy Yuni Cahyadi
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v8i2.5996

Abstract

Abstract The Transyogi Bridge is a steel bridge that connects the Cimanggis-Cibitung Toll Road. This bridge consists of 2 units of a series of steel tub girders on pier 37-pier 38-pier 39, which crosses the Cikeas river, with the lengths of the bridges being 57 m and 65 m, respectively. This study discusses the basis for choosing the method of installing a steel tub girder bridge using the incremental launching method. This method is used to overcome the limitations of field conditions, due to the presence of high-voltage overhead lines, gas pipeline crossings, and river crossings on the bridge installation route. This study shows that the use of incremental launching method is very appropriate compared to using other methods. Keywords: bridge; steel bridge; bridge installation; incremental launching method Abstrak Jembatan Transyogi merupakan jembatan baja yang menghubungkan Jalan Tol Cimanggis–Cibitung. Jembatan ini terdiri atas 2 unit rangkaian steel tub girder pada pier 37-pier 38-pier 39, yang melintas di atas sungai Cikeas, dengan panjang masing-masing jembatan adalah 57 m dan 65 m. Pada studi ini dibahas dasar pemilihan metode pemasangan jembatan steel tub girder menggunakan incremental launching method. Metode ini digunakan untuk mengatasi batasan kondisi lapangan, karena adanya saluran udara tegangan tinggi, crossing pipa gas, dan crossing sungai pada jalur pemasangan jembatan. Studi ini menunjukkan bahwa penggunaan incremental launching method ini sangat tepat dibandingkan dengan menggunakan metode-metode yang lain. Kata-kata kunci: jembatan; jembatan baja; pemasangan jembatan; incremental launching method
PEMBANGUNAN JEMBATAN BENTANG PANJANG DI INDONESIA (Studi Kasus: Jembatan Bentang Panjang Pulau Balang) Basuki Muchlis
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 1 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i1.10041.81-90

Abstract

Abstract A long-span bridge is a bridge with a very wide distance between pillars. This type of bridge is very much needed in Indonesia, because it plays a vital role in connecting the archipelago regions in Indonesia and speeding up land transportation, reducing logistics costs, supporting regional economic growth, and facilitating the distribution of goods and tourism connectivity. Many long-span bridges have been built in Indonesia, but the type of structure chosen needs to consider technical, non-technical, and cost aspects. In principle, there are three challenges in the construction of long-span bridges, namely: (1) technical and structural challenges, (2) challenges related to logistics and location, and (3) non-technical and social challenges. Based on observations made on the Balang Island Bridge Construction Project, this study shows that the main technical and structural challenges during the construction of the Balang Island Bridge are the condition of the waters in the Balikpapan Strait with strong currents and the need for large-diameter deep foundations to withstand extreme loads from waves, wind, and earthquakes. In addition, there are challenges related to the procurement of materials from outside Kalimantan Island and the need for multi-agency coordination to expedite the construction process. Meanwhile, non-technical and social challenges relate to land acquisition, local social and economic impacts, environmental issues, and bridge operations and governance. Keywords: bridge; long-span bridge; bridge construction; land acquisition Abstrak Jembatan bentang panjang merupakan suatu jembatan dengan jarak antarpilar yang sangat lebar, Jembatan seperti ini sangat dibutuhkan di Indonesia, karena berperan vital dalam menghubungkan wilayah kepulauan yang terdapat di Indonesia serta mempercepat transportasi darat, menekan biaya logistik, mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, dan mempermudah distribusi barang dan konektivitas pariwisata. Jembatan bentang panjang sudah banyak dibangun di Indonesia, namun tipe struktur yang dipilih perlu memperhatikan aspek-aspek teknis, nonteknis, dan biaya. Pada prinsipnya, terdapat 3 tantangan dalam pembangunan jembatan bentang panjang, yaitu: (1) tantangan yang bersifat teknis dan struktural, (2) tantangan yang terkait dengan logistik dan lokasi, dan (3) tantangan yang bersifat nonteknis dan sosial. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada Proyek Pembangunan Jembatan Pulau Balang, studi ini menunjukkan bahwa tantangan utama yang bersifat teknis dan struktural saat pelaksanaan konstruksi jembatan Pulau Balang adalah kondisi perairan di Selat Balikpapan yang berarus deras serta kebutuhan akan fondasi dalam berdiameter besar untuk menahan beban ekstrem gelombang, angin, dan gempa. Selain itu, terdapat tantangan yang terkait dengan pengadaan material dari luar Pulau Kalimantan dan perlunya koordinasi multilembaga untuk mempercepat proses konstruksi. Sedangkan tantangan yang bersifat nonteknis dan sosial terkait dengan pembebasan lahan, dampak sosial dan ekonomi lokal, masalah lingkungan, dan operasional dan tata kelola jembatan. Kata-kata kunci: jembatan; jembatan bentang panjang; konstruksi jembatan; pembebasan lahan