Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGARUH IKLIM KOMUNIKASI DAN GAYA KOMUNIKASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI SMA DWIJENDRA DENPASAR Ni Nyoman Cipta Dewi; Redi Panuju
PROMOSI: Jurnal Program Studi Pendidikan Ekonomi Vol 6, No 2 (2018): PROMOSI
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/pro.v6i2.1695

Abstract

This study aims to determine the influence of communication climate and communication style and also the performance of employees in SMA Dwijendra Denpasar.Communication plays an important role in all aspects, including to the school organization. In the school organization education is the important thing and as the major position in development because it is oriented towards improving the quality of human resources. The quality of human resources is influenced by employee performance (teacher) itself. The communication climate approach and communication style also influenced employee performance marked by an increase in the number of new student enrollments from year to year.  This type of research is explanatory or confirmatory research. While the population in this study was employees in SMA Dwijendra and samples using saturated sample technique with total sampling is 70 peoples. Collected data were using questionnaire with Likert scale model, while the analysis used multiple linear regression analysis with SPSS 22.0 for windows software. The results of this study obtained Fcount of 73.827 where Ftable 3.132, then Fcount> Ftabel. This shows that simultaneously communication climate and communication style significantly influence employee performance in SMA Dwijendra. Results coefficient of determination or R square is 0.688 its means that communication climate and communication style variables effect the performance is 68.8%, while the rest influenced by other variables not examined in this study. Based on these findings, it can be concluded that the communication climate and communication style together significantly influence the performance of employees at SMA Dwijendra Denpasar. Keywords: communication climate, communication style, employee performance.
The Politicization of Religion, Ironi of Ideology and Clash of Discourse Approaching 2019 General Election Redi Panuju
Jurnal Penelitian Volume 15 Nomor 1 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/jupe.v15i1.1357

Abstract

Artikel ini mengkaji penggunaan wacana komunisme yang kerapkali dijadikan issu untuk merepresentasikan keberadaan individu, kelompok maupun institusi tertentu di Indonesia. Wacana digunakan oleh pihak pihak tertentu sebagai cara mengkomunikasi maksud untuk menarik perhatian, membentuk pencitraan, membelah opini publik, dan pada akhirnya sebagai saluran membangun letimasi politik. Pada akhir bulan September 2017 wacana komunisme sebagai bahaya laten bagi Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merebak kembali melalui instruksi Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo kepada jajaran TNI untuk memutar kembali film “G.30 S/PKI”. Instruksi Panglima TNI tersebut menimbulkan pro-kontra di masyarakat di luar internal TNI. Melalui analisis wacana model Althusser dan Faucoult akan dapat dikontruksi komunikasi politik yang terjadi di level individu maupun institusi berkaitan dengan ajang pemilu tahun 2019. Kajian ini dapat memberikan gambaran awal dan umum tentang issu issu yang digunakan sebagai instrument politik dalam kontestasi politik tahun 2019. Issu bahaya laten komunisme akan merecovery kelompok masa lalu yang dilabeling pada masa Orde Baru dan sebaliknya mereposisi kelompok Orde Baru yang dituduh mengaburkan sejarah dan akan muncul kelompok baru sebagai pendulum issu terdebut. Kata Kunci : Komunisme, Legitimasi, produksi wacana, reproduksi wacana, Pilpres 2019
The Politicization of Religion, Ironi of Ideology and Clash of Discourse Approaching 2019 General Election Redi Panuju
Jurnal Penelitian Volume 15 Nomor 1 2018
Publisher : LPPM UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.496 KB) | DOI: 10.28918/jupe.v15i1.1357

Abstract

Artikel ini mengkaji penggunaan wacana komunisme yang kerapkali dijadikan issu untuk merepresentasikan keberadaan individu, kelompok maupun institusi tertentu di Indonesia. Wacana digunakan oleh pihak pihak tertentu sebagai cara mengkomunikasi maksud untuk menarik perhatian, membentuk pencitraan, membelah opini publik, dan pada akhirnya sebagai saluran membangun letimasi politik. Pada akhir bulan September 2017 wacana komunisme sebagai bahaya laten bagi Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merebak kembali melalui instruksi Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo kepada jajaran TNI untuk memutar kembali film “G.30 S/PKI”. Instruksi Panglima TNI tersebut menimbulkan pro-kontra di masyarakat di luar internal TNI. Melalui analisis wacana model Althusser dan Faucoult akan dapat dikontruksi komunikasi politik yang terjadi di level individu maupun institusi berkaitan dengan ajang pemilu tahun 2019. Kajian ini dapat memberikan gambaran awal dan umum tentang issu issu yang digunakan sebagai instrument politik dalam kontestasi politik tahun 2019. Issu bahaya laten komunisme akan merecovery kelompok masa lalu yang dilabeling pada masa Orde Baru dan sebaliknya mereposisi kelompok Orde Baru yang dituduh mengaburkan sejarah dan akan muncul kelompok baru sebagai pendulum issu terdebut. Kata Kunci : Komunisme, Legitimasi, produksi wacana, reproduksi wacana, Pilpres 2019
Karakteristik Ekspektasi Generasi Milenial Calon Walikota Surabaya 2020-2025: Peduli dan Merakyat Elis Yusniyawati; Redi Panuju
Calathu: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 2 No. 1 (2020): Calathu: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : School of Communication Science and Media Business

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/calathu.v2i1.1256

Abstract

Dengan adanya fenomena bonus demografi, kehadiran generasi milenial berpotensi membuka peluang pemanfaatan, salah satunya untuk kepentingan politik elektoral. Potensi yang ada mesti disadari dan dioptimalkan dengan tidak sekadar menjadikan generasi milenial sebagai objek, melainkan juga sebagai subjek dalam pesta demokrasi maka perlu dilakukan pengukuran keterlibatan generasi milenial dalam penyelenggaraan Pilwali Kota Surabaya 2020. Seberapa besar generasi milenial bisa terlibat serta memanfaatkan momentum politis tersebut? Apakah jumlah mayoritas generasi milenial di Kota Surabaya menentukan arah peta politik pada Pilwali Kota Surabaya 2020? Pengukuran keterlibatan dan pemanfaatan generasi milenial dalam hal ini dilakukan peneliti melalui penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Melalui metode multistage random sampling, peneliti melakukan wawancara tatap muka pada 600 reponden yang tergolong dalam kategori generasi milenial di 31 kecamatan di Kota Surabaya. Peneliti menemukan ketertarikan generasi milenial untuk terlibat dan memanfaatkan Pilwali Kota Surabaya 2020 sebagai momentum aktualisasi diri sebagai penduduk yang mendominasi jumlah populasi. Wajar jika kemudian para pelaku politik berlomba-lomba menggunakan segala cara untuk mempengaruhi publik (generasi milenial), melalui opini yang sengaja dibangun. Maka dalam penelitian ini, peneliti lebih memusatkan perhatiannya pada pembentukan opini publik generasi milenial. Opini publik untuk menentukan figur walikota pada Pilwali Kota Surabaya 2020-2025. Dengan menentukan kriteria dan beberapa standarisasi pengganti kepala daerah sebelumnya, generasi milenial menjelma wajah baru dalam peta politik Kota Surabaya. Peneliti menemukan bahwa karakteristik utama Walikota Surabaya tahun 2020-2025 memiliki kriteria yang jauh melampaui kriteria moral seperti bersih dari korupsi dan kriteria rasionalitas seperti berprestasi, melainkan sosok yang memiliki kepedulian dan merakyat.
Komunikasi Politik Jokowi: Antara Pencitraan Dan Jejaring Politik Redi Panuju
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 6 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v6i2.1709

Abstract

Jauh sebelum Jokowi terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia (2014-2019), komunikasi politik telah dilakukan dengan cara memadukan antara kegiatan dan ekspose media. Kegiatan menunjukkan karakteristik personal seseorang, seperti apa yang menjadi visinya, pemikiran apa yang melatar belakanginya, dan citra seperti apa yang diinginkan. Komunikasi politik Jokowi tersebut dikenal dengan sebutan “blusukan”, istilah dari bahasa Jawa yang artinya kurang lebih terjun langsung ke tangah masyarakat atau turun ke bawah (turba). Berdasarkan fakta informasi yang dapat kita peroleh dari media, nampaknya Jokowi akan ambil bagian lagi dalam kontestasi Pemilihan Presiden tahun depan (2019). Tulisan ini menganalisis bagaimana komunikasi politik Jokowi dalam dua sisi, yakni membangun citra dan memelihara koalisi partai pendukung. Citra sangat dibutuhkan untuk mempertahankan dan menguatkan popularitas hingga elektabilitas. Sedangkan memelihara jejaring partai politik dibutuhkan karena partai politik atau gabungannya yang berwewenang mengusung calon Presiden dan calon wakil presiden. Kajian ini menggunakan pendekatan interpretatif berdasarkan data informasi yang diperoleh dari media (media on-line maupun media massa). Analisis berdasarkan terori citra dan teori opini publik. Kajian ini menujukkan bahwa citra yang dibangun Jokowi sangat kuat pada citra kini, citra keinginan (visi), dan citra penampilan. Sementara Jokowi lemah pada citra cermin dan citra koorporasi. Sedangkan komunikasi politik dalam menjaga dukungan partai, menunjukkan partai yang semula mengusung pencalonannya pada 2014 yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menunjukkan ada jarak, sehingga Jokowi lebih merapat ke partai lain.
The The Silent Classroom Phenomenon: An Analysis of Generation Z's Nonverbal Communication in the Learning Process: Fenomena Silent Classroom: Analisis Komunikasi Nonverbal Generasi Z Dalam Proses Pembelajaran Salman Al Farizi; Iwan Djoko Prasetyo; Redi Panuju
Jurnal Spektrum Komunikasi Vol 13 No 4 (2025): Jurnal Spektrum Komunikasi : December 2025
Publisher : LPPM Stikosa - AWS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37826/spektrum.v13i4.1186

Abstract

The phenomenon of silent classroom has become a significant challenge in the world of education, especially for Generation Z students who have different communication characteristics from previous generations. This qualitative research was conducted at SMK Negeri 1 Kamal Bangkalan by involving 64 students and 31 teachers as research subjects. Data collection was conducted through participatory observation and in-depth interviews to identify nonverbal communication patterns that emerged when students tended to be verbally passive. The results of the study show that students' silence is not an indication of involvement, but a shift in the form of communication from verbal to nonverbal which is manifested through facial expressions, body gestures, eye contact, and the use of digital media. The dominant factors that cause verbal passivity include fear of being wrong, feelings of embarrassment, lack of confidence, and a preference for digital communication that is characteristic of Generation Z. Research found that 75% of students experience a fear of making mistakes, while 59.4% are more comfortable expressing themselves through digital symbols. Although 90.3% of teachers admitted to paying attention to nonverbal communication, 58% had experienced misunderstandings in interpretation. Learning strategies that integrate technology, gamification, and creating a supportive psychological environment have proven effective in increasing student participation by up to 79.7%. This study concludes that understanding of nonverbal communication of Generation Z is the key to learning effectiveness in the digital era.
Wacana Korupsi vs. Retorika Pajak: Etnografi Komunikasi Petugas PBB-P2 di Ruang Publik Desa Muslim; Redi Panuju; Didik Sugeng W
HERITAGE Vol 14 No 1 (2026): Inpress: Jurnal Heritage
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/ft3vfj28

Abstract

This research is motivated by low PBB-P2 compliance in Tempuran Village, Pasrepan, caused by a public trust crisis. The study aims to analyze the clash between corruption discourse and tax rhetoric in village public spaces using Dell Hymes' SPEAKING model. Employing a qualitative ethnographic method, data were collected through observation and interviews at the village hall, residential porches, coffee shops, and social media. Findings reveal sharp fragmentation of meaning; formal spaces produce only pseudo-compliance, while informal spaces serve as hubs for symbolic resistance where corruption issues are used as a moral shield to delay taxes. In conclusion, corruption discourse acts as a communication noise distorting government development messages. It is recommended that the village government transform its communication strategy into a more persuasive and transparent approach within informal spaces to restore institutional credibility and voluntary compliance.