Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Leaf Litter Decomposition and Nutrient Release of Three Native Tree Species in a Drained Tropical Peatland in Riau, Indonesia Ahmad Junaedi; Nina Mindawati; Avry Pribadi; Suryo Hardiwinoto
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 29 No. 2 (2022): March 2022
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.29.2.182-191

Abstract

The decomposition and its nutrient release were the key ecological process that had a broad role in the forest ecosystem. This study aimed to investigate the leaf litter decomposition rate and its nutrient release of three native tree species of tropical peat swamp forest, namely Macaranga pruinosa, Macaranga gigantea, and Cratoxylum arborescens and one exotic species i.e Acacia crassicarpa. The decomposition and nutrient release were monitored in an experimental plot using litter bag technique. The initial litter quality of each litter and micro-environment properties were also observed. The result showed that the decomposition and its nutrient release were insignificantly different among native tree species and also between native species and Acacia crasssicarpa. The litter decomposition of all tree species was slow; with the range of k was 0.98-1.19 year-1. However, the P and K release from the decomposition of native species litter after four months of incubation were quickly, ranging 70-74% and 88-93%. We were suggested that the high of lignin content in the leaf litter (36-39%) was the main factor that made slow decomposition. These findings could be used as one of the tools in tree species selection for peat swamp forest rehabilitation.
KUALITAS BIBIT MERAWAN (Hopea odorata Roxb.) ASAL KOFFCO SYSTEM PADA BERBAGAI UMUR Ahmad Junaedi; Dodi Frianto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.3.265-274

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi umur bibit merawan (Hopea odorata Roxb.) asal KOFFCO system yang siap tanam berdasarkan pertumbuhan dan kualitas fisik bibit pada tiga tingkat umur yang dikaji. Penelitian dilakukan melalui pengamatan parameter pertumbuhan dan penilaian mutu fisik bibit merawan umur lima bulan setelah tanam (5 BST), tujuh bulan setelah tanam (7 BST), dan Sembilan bulan setelah tanam (9 BST). Pengamatan dan penilaian tersebut dilakukan terhadap 10 sampel bibit pada tiap tingkat umur bibit yang dipilih dengan metode simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua parameter pertumbuhan bibit merawan asal KOFFCO system dipengaruhi secara nyata (p<0,1) oleh tingkat umur. Berdasarkan besaran pertumbuhan dan mutu fisik bibit, bibit akan siap tanam pada umur sembilan BST. Pada umur tersebut tinggi bibit lebih dari 20 cm, rasio pucuk akar (RPA) sama dengan dua dan IMB lebih dari 0,09.
KUALITAS FISIK BIBIT MERANTI TEMBAGA (Shorea leprosula Miq.) ASAL STEK PUCUK PADA TIGA TINGKAT UMUR Ahmad Junaedi; Asep Hidayat; Dodi Frianto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.3.281-288

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan dan kualitas fisik bibit meranti tembaga (Shorea leprosula Miq.) asal perbanyakan stek pucuk pada tiga tingkat umur. Penelitian dilakukan melalui pengamatan parameter pertumbuhan dan penilaian mutu fisik bibit meranti tembaga umur sebelas bulan setelah sapih (11 BSS), 12 BSS, dan 14 BSS.  Pengamatan dan penilaian tersebut dilakukan terhadap 10 sampel bibit pada tiap tingkat umur bibit yang dipilih  dengan menggunakan metode penarikan contoh acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi bibit umur 14 BSS (40,1 cm) berbeda secara nyata (p < 0,05) dengan umur 11 BSS (32,6 cm) dan 12 BSS (32,6 cm); sedangkan kualitas fisik bibit antar tingkat umur tidak berbeda nyata. Pada umur bibit 11 BSS bibit sudah siap tanam dengan tinggi 32,6 cm; kekokohan 10,79; rasio pucuk akar 2,58; dan indeks mutu bibit 0,28
PENGARUH KOMPOS DAN PUPUK NPK TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS BIBIT CABUTAN Shorea leprosula Miq. Ahmad Junaedi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.4.373-383

Abstract

Pemanfaatan cabutan alam untuk tujuan produksi bibit mempunyai kelemahan, karena pertumbuhannya lebih lambat  dibandingkan dengan bibit  yang  berasal  dari  benih  yang  dikecambahkan langsung.  Untuk itu, tambahan perlakuan seperti pemupukan diperlukan untuk meningkatkna pertumbuhan dan kualitas bibit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi kompos dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan  mutu  bibit  meranti  tembaga (Shorea  leprosula Miq.) asal  cabutan  alam.  Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok faktorial (3 x 3). Dua faktor perlakuan yang diujicobakan adalah faktor kompos (M) dan pupuk NPK (F). Faktor M meliputi : M 1  = tanpa kompos (top soil 100%) , M 2 = kompos ½ bagian dari media (kompos : top soil = 1 : 1, v/v), dan M 3 = kompos 2/3 bagian dari media (kompos : top soil = 2:1 , v/v); sedangkan faktor F meliputi F = tanpa pupuk, F2   =1 gr NPK/bibit, dan F3  = 2 gr NPK/bibit. Tiap kombinas perlakuan diulang 3 kali dengan jumlah bibit pada tiap unit pengamatan adalah 5 bibit sehingga terdapat 135 bibit yang diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan terbaik diperoleh pada M2 F3  dan M3 F3 . Masing-masing perlakuan tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter bibit sebesar 47% dan 47% pada M2 F3 serta 48% dan 38% pada M 3 F3 . Kombinasi perlakuan keduanya pun dapat meningkatkan satu tingkat mutu bibit dari mutu ketiga ke mutu kedua.
PEMBUATAN ARANG KOMPOS BIOAKTIF (ARKOBA) DARI LIMBAH PENYULINGAN NILAM Ahmad junaedi; Ahmad Rojidin; Eko Sutrisno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2211.634 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2009.27.2.106-114

Abstract

Uji coba beberapa dosis orgadec pada pembuatan arang kompos bioaktif (arkoba) nilam dilakukan untuk memperoleh dosis orgadec terbaik. Untuk proses pengomposan rancangan acak lengkap digunakan dalam penelitian ini dengan menguji tiga dosis orgadec sebagai perlakuan dan diulang tiga kali. Adapun perlakuannya adalah A1 = dosis orgadec 2,5 k, A2 = 5 kg dan A3 = 7,5 kg masing masing untuk 100 kg bobot ampas penyulingan daun nilam. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada perbedaan lama waktu pengomposan akibat perbedaan dosis orgadec. Pada semua perlakuan waktu pengomposan berlangsung selama 33 hari. Untuk keperluan efisiensi bahan bioaktivator, perlakuan A1 merupakan dosis yang terbaik dengan kandungan unsur hara : N = 2,17%; P2O5 = 1,5%; K2O = 0,69%; CaO = 0,84% and C/N ratio = 9,4.
UJI ASAL SUMBER BIBIT NILAM (POGOSTEMON CABLIN BENTH.) DI PASAMAN BARAT SUMATERA BARAT Ahmad Junaedi; Asep Hidayat
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3083.564 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2010.28.3.241-254

Abstract

Uji asal sumber bibit nilam di Pasaman Barat, Sumatera Barat perlu dilakukan sebagai salah satu tahapan untuk meningkatkan produktivitas hasil panen dan minyak nilam. Penelitian ini dilakukan untuk menguji tiga asal sumber bibit nilam di Pasaman Barat, Sumatera Barat. Rancangan acak kelompok dilakukan pada penelitian dengan menguji tiga asal sumber bibit nilam sebagai perlakuan yaitu bibit nilam asal Tapak Tuan, asal Dairi dan Sidikalang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan, potensi produksi terna kering, potensi produksi minyak nilam dan kulitas minyak terbaik ditunjukkan oleh nilam asal sumber bibit asal Dairi. Pemanenan pada umur sebelas bulan setelah tanam, nilam asal bibit Dairi menghasilkan potensi produksi terna kering 19,4 ton/ha, potensi produksi minyak 208 kg /ha dan kandungan patchouli alkohol 44,57%.
PERTUMBUHAN JABON (Anthocephalus cadamba Miq.) PADA LAHAN MARGINAL BERJENIS TANAH ULTISOL DI RIAU Ahmad Junaedi
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.708 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2018.12.1.51-63

Abstract

Study on growth of jabon (Anthocephalus cadamba Miq) as native tree species that suitable for pulpwood on ultisol-soil land is required, as most pulpwood plantation occur in this type of soil. The experiment was conducted in ex Acacia mangium (second rotation) in Riau to evaluate the growth performance of jabon on marginal land ultisol soil. This study assigned experiment plots of jabon with three planting spaces (2 m × 2 m; 2 m × 3 m and 3 m × 3 m) and four blocks in Randomized Block Design. The poor growth was exhibited by jabon on marginal land ultisol. It was suggested that the poor growth related to the negative effects of low N and P soil, high Al soil, and threats of pest, disease, weed as well. The result study indicated that jabon was not suitable to be developed as pulpwood species in marginal lands ultisol of pulpwood plantation in Riau.
PEMBUATAN ARANG KOMPOS BIOAKTIF (ARKOBA) DARI LIMBAH PENYULINGAN NILAM Ahmad junaedi; Ahmad Rojidin; Eko Sutrisno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2211.634 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2009.27.2.106-114

Abstract

Uji coba beberapa dosis orgadec pada pembuatan arang kompos bioaktif (arkoba) nilam dilakukan untuk memperoleh dosis orgadec terbaik. Untuk proses pengomposan rancangan acak lengkap digunakan dalam penelitian ini dengan menguji tiga dosis orgadec sebagai perlakuan dan diulang tiga kali. Adapun perlakuannya adalah A1 = dosis orgadec 2,5 k, A2 = 5 kg dan A3 = 7,5 kg masing masing untuk 100 kg bobot ampas penyulingan daun nilam. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada perbedaan lama waktu pengomposan akibat perbedaan dosis orgadec. Pada semua perlakuan waktu pengomposan berlangsung selama 33 hari. Untuk keperluan efisiensi bahan bioaktivator, perlakuan A1 merupakan dosis yang terbaik dengan kandungan unsur hara : N = 2,17%; P2O5 = 1,5%; K2O = 0,69%; CaO = 0,84% and C/N ratio = 9,4.
UJI ASAL SUMBER BIBIT NILAM (POGOSTEMON CABLIN BENTH.) DI PASAMAN BARAT SUMATERA BARAT Ahmad Junaedi; Asep Hidayat
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2010.28.3.241-254

Abstract

Uji asal sumber bibit nilam di Pasaman Barat, Sumatera Barat perlu dilakukan sebagai salah satu tahapan untuk meningkatkan produktivitas hasil panen dan minyak nilam. Penelitian ini dilakukan untuk menguji tiga asal sumber bibit nilam di Pasaman Barat, Sumatera Barat. Rancangan acak kelompok dilakukan pada penelitian dengan menguji tiga asal sumber bibit nilam sebagai perlakuan yaitu bibit nilam asal Tapak Tuan, asal Dairi dan Sidikalang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan, potensi produksi terna kering, potensi produksi minyak nilam dan kulitas minyak terbaik ditunjukkan oleh nilam asal sumber bibit asal Dairi. Pemanenan pada umur sebelas bulan setelah tanam, nilam asal bibit Dairi menghasilkan potensi produksi terna kering 19,4 ton/ha, potensi produksi minyak 208 kg /ha dan kandungan patchouli alkohol 44,57%.
Potensi Tiga Jenis Kayu Tanah Gambut Sumatera sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas (The Potential of Three Peat Land Woods of Sumatera as Pulp and Paper Raw Material) Kanti D Rizqiani; Yeni Aprianis; Ahmad Junaedi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 17, No 2 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51850/jitkt.v17i2.192

Abstract

The growth of pulp and paper industries has encouraged the expansion of the industrial plantation forests for pulp wood. The  exotic species planted for pulp wood initially maintained a relatively high productivity, however it decreases in the following rotation cycles.  The peat land wood species of Sumatera could be an alternative for exotic species. However, the insufficient information on the wood properties has brought about they are less considered. This paper examined the fiber quality of Sumatran local peat-wood and its possibility as a raw material of pulp and paper. For specific gravity, samples were selected based on three different diameter groups in each plot. Fiber properties (dimension and fiber derivative values) used to asses the suitability of the wood for pulp and paper raw material were determined in accordance with the method of the Forest Product Laboratory (FPL). The resulted data and information were compared to those of krasikarpa (Acacia crassicarpa Benth.). The results showed that the fiber quality of sekubung wood was classified into grade II, while gerunggang and mahang putih were classified into grade III. The specific gravity of gerunggang wood was higher than these of other woods and comparable to that of krasikarpa. Although the growth of Sumatran local peat-wood is still low, however, conformity with government regulations (Government Regulation Number 57-2016 and Ministry of Environment and Forestry Regulation Number 17-2017) and fiber quality, the local peat-wood could potentially substitute the exotic wood species.