Agus Zulkarnain Arief
Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSEP "SUMBA LOCALISM" PADA PERANCANGAN PASOLA CULTURAL PARK DI KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA Ebenhaezer Kambe; A Tutut Subadyo; Agus Zulkarnain Arief
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 20, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.961 KB) | DOI: 10.26905/mj.v20i2.3799

Abstract

Pasola cultural park merupakan sebuah ide pengembangan area pasola yang awalnya hanya sebuah acara tradisi lokal menjadi salah satu tempat / gerbang pengenalan budaya sumba khususnya tradisi pasola yang sedikit baru, menarik, bersifat rekreatif-edukatif dan juga dengan mempertimbangkan keunikan atau kekhasan lokal bagi pengujung domestik, mancanegara masyarakat dan bahkan generasi-genarasi muda sumba yang datang agar budaya ini dapat terus di jaga dan dilestarikan kedepannya. Permasalahan dalam perancangan Pasola Cultural Park terdapat yaitu:(1) Bagaimana mengembangkan tempat pasola yang awalnya hanya merupakan tempat pagelaran atraksi masyarakat lokal menjadi salah satu wadah atau tempat / gerbang pengenalan budaya sumba sumba khususnya tradisi pasola yang sedikit baru, menarik, bersifat rekreatif-edukatif bagi pengujung domestik, mancanegara masyarakat dan bahkan generasi-genarasi muda sumba yang datang agar budaya ini dapat terus di jaga dan dilestarikan kedepannya dan (2)Bagaimana merancang area pasola cultural park yang dapat berdampingan atau selaras dengan lingkungan social masyarakat sekitar tanpa merusak, merubah atau menganggu lingkungan masyarakat sekitar. Tema yang digunakan dalam perancangan Pasola Cultural Park tersebut yaitu “ Sumba localism”., Tema ini dipilih dengan pertimbangkan kesesuaian latar belakang dan masalah perancangan. “ Sumba localism” yaitu tema arsitektur yang berwawasan lokalitas dengan focus mengangkat kekhasan dan kondisi lingkungan sekitar sumba. Jadi dapat di katakan arsitektur localism merupakan nama lain dari arsitektur tradisional atau vernacular.
Sustainability in Architecture of traditional Sasak settlements in Lombok Agus Zulkarnain Arief; Achmad Tutut Subadyo
International Conferences SDGs 2030 Challenges and Solutions Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : International Conferences SDGs 2030 Challenges and Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1526.248 KB)

Abstract

Sasak is one of the Indonesian indigenous tribes who live in the island of Lombok. Until now, they still maintain the customs and culture as well as settling in Sembalun, Senaru, Segenter, and Sade. The Large of Sasak traditional settlement area in Lombok is not increased so that it feared the carrying capacity will be exceeded and could lead to a shift of customs and culture. This paper (1) to formulate the concept of a traditional Sasak sustainability settlement, (2) reconstruct the conception and typology of layout, mass configuration, space-organization, structure and building construction homes custom of Sasak, to analyze the sustainability level of Sasak traditional settlement used questionnaires Community Sustainability Analysis. The results obtained in this study is the traditional settlement of the Sasak people - PTSDS is in conformity with the ecovillage concept of Global Ecovillage Network. It is evident from the analysis of data by CSA which finds the total in 1226; with the value of the ecological aspect, the social aspect and the spiritual aspect, respectively 432, 373 and 421, which means the Sasak people - PTSDS shows very good progress on sustainability.