Ronny Yudhi Septa Priana
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IMPLEMENTASI “BANTEN CINTA SILAT” DALAM PROGRAM SIARAN TELEVISI LOKAL Ronny Yudhi Septa Priana; Darwis Sagita
Jurnal Riset Komunikasi Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31506/jrk.v8i2.6026

Abstract

Perkembangan tekhnologi dan informasi mendorong semua pihak untuk dapat menerima informasi yang seluas-luasnya. Televisi merupakan media massa yang dapat memberikan kontribusi terhadap kehausan informasi publik. Semenjak reformasi dan diberlakukannya otonomi daerah serta berdasarkan pada undang-undang tentang kebebasan pers maka mulai bertaburan pula media massa terutama televisi lokal dengan keragaman programnya. Begitu pula di Kota Serang Provinsi Banten setidaknya terdapat televisi lokal yaitu Baraya TV.Pada prakteknya televisi lokal khususnya televisi komersil sama dengan televisi nasional yang sama-sama memberikan informasi pada penontonnya. Dalam Prosesnya Informasi yang diberikan tentu haruslah informasi yang sehat, dan layak siar. Yang menjadi kajian dalam tulisan ini bagaimanakah Program Banten Cinta Silat KPID Provinsi Banten direpresentasikan dan diimplementasikan dalam Program dan isi siaran televisi lokal khususnya melalui penggunaan bahasa dan konten budaya dalam program siaran. Metode yang digunakan adalah analisis wacana kritis (critical discourse analysis) dari Norman Fairclough (1995). Analisis wacana kritis Fairclough dilakukan dalam tiga tahap yaitu analisis teks, praktik wacana (discourse practice) dan praktik sosiokultural (sosiocultural practice). Hasil penelitian menujukkan bahwa terdapat upaya pemertahanan bahasa dan budaya dalam program siaran media sebagai wujud implementasi program siaran yang sehat dan maslahat (Silat) Kata Kunci : Pemertahanan Bahasa, Pengawasan isi Siaran, Program Televisi.
Digital Mediation and Identity Negotiation in the Outer Baduy Community in the Social Media Era A.S. Haris Sumadiria; Dian Wardiana Sjuchro; Ronny Yudhi Septa Priana
Mediator: Jurnal Komunikasi Vol. 18 No. 2 (2025): Mediator: Jurnal Komunikasi (Sinta 2)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v18i2.7173

Abstract

Digital transformation has reshaped the ways in which indigenous communities engage with the outside world, particularly in constructing and negotiating their cultural identities. This study explores how the Outer Baduy community in Banten employs social media as both a tool of digital mediation and a space for negotiating cultural identity in the midst of modern influences and cultural commodification. Adopting a qualitative approach through media ethnography, the research draws on in-depth interviews with four key informants: one traditional leader (jaro) and three local digital content creators, supplemented by field observations and social media content analysis. The findings reveal that younger generations strategically use social media to produce visual narratives highlighting local cultural practices, such as weaving, farming, and communal living. These digital expressions serve not only as a means of promoting cultural and economic activities but also as a medium for representing identity. At the same time, challenges emerge regarding the commodification of sacred values and the influence of algorithmic pressures, which shape both aesthetics and cultural meanings. In response, the community employs strategies of symbolic selection, guidance from traditional leaders, and digital literacy grounded in local wisdom to safeguard cultural integrity. This study underscores the importance of preserving the narrative sovereignty of indigenous communities within digital spaces and recommends fostering a communication ecosystem that remains attentive to local cultural values.