Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Polimorfisme Protein Darah Ayam Kedu Jengger Merah dan Jengger Hitam di Satuan Kerja Non Ruminansia Temanggung Bagus Praditya Setyo Nugroho; Sutopo Sutopo; Edy Kurnianto
Jurnal Ilmu Dan Teknologi Peternakan Indonesia (JITPI) Indonesian Journal of Animal Science and Technology) Vol 2 No 1 (2016): Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia (JITPI)
Publisher : Faculty of Animal Husbandry, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.123 KB) | DOI: 10.29303/jitpi.v2i1.27

Abstract

The objectives of this study were to determine the blood protein diversity first generation of Kedu chickens (G0)at Satuan Kerja Non Ruminansia Maron, Temanggung. The materials used in this study were each of 14 red andblack comb Kedu chickens. The methods of this study were observational and electrophoresis PAGE(Polyacrylamid Gel Electrophoresis). The observed parameters were loci of pre albumin (Palb), albumin (Alb),ceruloplasmin (Cp), transferrin (Tf), post transferrin (Ptf) and amylase-I (Amy-I). Gene structures were observedto characterize genetic diversity. Characterization of genetic diversity based on individual heterozygosity, meanheterozygosity and chi-square values for testing Hardy Weinberg equilibrium for each observed loci. The resultsshowed that red comb Kedu chickens had the highest gene frequencies of pre albumin, ceruloplasmin, transferrin,post transferrin and amylase-I those were 0,714; 0,714; 0,643; 0,643 and 0,536 respectively. The highestindividual heterozygosity of red comb Kedu chickens found in amylase-I (0,497) and also post transferrin (0,500),and amylase-I (0,500) for black comb Kedu chickens. The highest mean heterozygosity was found in black combKedu chickens (0,458). The chi-square calculation showed that the whole loci were at Hardy Weinbergequilibrium except pre albumin at red comb Kedu chickens.
Evaluasi Keunggulan Genetik Sapi Peranakan Ongole Betina Dengan Dua Metode Yang Berbeda Di Satker Sumberrejo-Kendal Arista Seftiana; Sutopo Sutopo; Edy Kurnianto
Jurnal Ilmu Dan Teknologi Peternakan Indonesia (JITPI) Indonesian Journal of Animal Science and Technology) Vol 5 No 1 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia (JITPI)
Publisher : Faculty of Animal Husbandry, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.443 KB) | DOI: 10.29303/jitpi.v5i1.42

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan keunggulan sapi Ongole Grade (PO) di Satker-Sumberrejo, Kendal menggunakan dua metode yang berbeda, yaitu MPPA dan EBV. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 48 ekor sapi.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi menggunakan rekaman untuk mendapatkan catatan silsilah sapi, kemudian digunakan dalam perhitungan.Korelasi Spearman digunakan untuk membandingkan dua metode seleksi yaitu MPPA dan EBV. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata berat lahir adalah 29,35 ± 2,13 kg sedangkan berat sapih 112,58 ± 24,17 kg. Berat badan standar untuk berat lahir adalah 30,91 ± 1,97 kg, sedangkan untuk berat menyapih adalah 110,10 ± 11,20 kg. Uji korelasi Spearman menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara MPPA dan EBV.Dapat disimpulkan bahwa MPPA dan EBV dapat digunakan dalam pemilihan sapi.
Performa berahi sapi PO pada berbagai BCS yang disinkronisasi dengan medroxy progesteron acetate di Satker Sumberejo Kendal Muhammad Jamaluddin Ma'ruf; Edy Kurnianto; Sutiyono Sutiyono
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 27, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2017.027.02.05

Abstract

The objective of this study was to evaluate estrus appearance of Ongole Grade cattle on various Body Condition Score synchronized with medroxy progesterone asetat. Material used in this study was 68 head female Ongole Grade cattle and classified into 3 based on BCS, that was low (1-<4), midle (≥4-<7), high (≥7). Parameters of study was number of cattle showing estrus, appearance of vulva, mucus, uterus erection, speed and lenght of estrus. Collecting data was done since the synchronization was stopped and estrus detection was done at 8 am, 2 pm and 7 pm on 10 day. Data of this study was analized by descriptive mode and independent t-test. The result showed that cattle showing estrus in group of BCS 1-<4, ≥4-<7 and  ≥7 were 32%, 35% and 40%, respectively. The mode of color and temperature changing on BCS 1-<4, ≥4-<7 and ≥7 were + (100%); vulva swelling each group was + (100%), + (77,78%), + and – (50%), respectively, mode of mucus all of groups were + (100%), while uterus erection at each group of BCS were  +(100%), +(77,78%) and +(100%). Average of estrus speed on BCS 1-<4, ≥4-<7 and ≥7 were 364,6±117,65, 312,89±118,01 and 372±220,62, while estrus lenght BCS 1-<4, ≥4-<7 and ≥7 were 628,71±61,43, 533±190,19 and 422±121,62. In conclution, estrus synchronization did not give significant effect on various BCS. Various BCS showed that occurrence of estrus sign tended to same, but the middle BCS had better estrus length than that of small and high BCS.
Hubungan Indeks Bentuk Telur dan Surface Area Telur terhadap Bobot Telur, Bobot Tetas, Persentase Bobot Tetas dan Mortalitas Embrio pada Itik Pengging tituk suselowati; Edy Kurnianto; Sri Kismiati
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 17, No 2 (2019): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4256.821 KB) | DOI: 10.20961/sainspet.v17i2.30212

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi bobot telur, bobot tetas, persentase bobot tetas dan mortalitas embrio berdasarkan ukuran indeks bentuk dan surface area telur itik Pengging. Penelitian menggunakan 1112 butir telur itik Pengging yang berasal dari 78 ekor jantan dan 772 ekor betina itik Pengging (nisbah perkawinan jantan : betina = 1:10). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari 3 kategori indeks bentuk telur atau surface area dengan 7 periode penetasan sebagai ulangan. Indeks bentuk adalah lonjong (68,78-78,93), normal (78,94-86,45) dan bulat (86,46-98,59) dan surface area adalah sempit (66,94-74,58 cm2), sedang (74,59-84,85 cm2) dan luas (84,86-110,70 cm2). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model klasifikasi satu arah dan regresi-korelasi antara indeks bentuk telur (X) dan surface area telur (Y). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara indeks bentuk telur dengan surface area telur, yang memiliki model persamaan regresi sederhana Y = 121,59998 – 0,50643X, R2 = 0,1376 dan berkorelasi negatif yaitu -0,37097. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa bobot telur, bobot tetas dan mortalitas total dipengaruhi oleh indeks bentuk telur maupun surface area telur (P<0,05). Mortalitas hari ke 8-25 tidak dipengaruhi oleh indeks bentuk telur, namun dipengaruhi oleh surface area telur (P<0,05). Persentase bobot tetas, mortalitas hari ke 1-7 dan hari ke 26-28 tidak dipengaruhi oleh indeks bentuk telur maupun surface area telur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah indeks bentuk telur lonjong serta surface area telur luas dipilih untuk mendapatkan bobot telur, bobot tetas dan persentase bobot tetas yang tinggi serta mortalitas embrio yang rendah pada itik Pengging. Kata Kunci: Itik Pengging, Indeks bentuk, Surface area, Regresi, Korelasi, Produktivitas
Karakterisasi Morfometrik dan Pendugaan Jarak Genetik Kelinci New Zealand, Rex dan Flemish Giant Nida Fithrotun Nisa; Edy Kurnianto; Sutopo Sutopo
Jurnal Ilmu Ternak Vol 22, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v22i1.39310

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui spesifikasi ukuran morfometrik bagian kepala dan telinga antar bangsa kelinci New Zealand, Rex dan Flemish Giant dan menduga jarak genetik antar bangsa kelinci. Penelitian dilaksanakan tanggal 1 Agustus – 28 Oktober 2021 di daerah Jawa Tengah (Kabupaten Semarang, Kendal, Temanggung, Magelang) dan Yogyakarta. Materi yang digunakan 388 ekor kelinci, 229 ekor New Zealand, 99 ekor Rex dan 60 ekor Flemish Giant dengan kelompok umur yaitu (a) < 9 bulan; (b) 9 – 14 bulan; (c) 15 – 20 bulan; (d) > 20 bulan. Peneltian menggunakan alat yaitu pita ukur, ukur 0,1 cm dan jangka panjang yaitu 0,01 mm dan parameter yaitu panjang kepala, lebar kepala, panjang telinga dan lebar telinga. Data dianalisis dengan Analisis Multivariat pada Sistem Analisis Statistik (SAS) ver. Universitas dan MEGA 11 . Hasil analisis Komponen Utama menunjukkan parameter pembeda yaitu panjang kepala, lebar kepala, panjang telinga dan lebar telinga. Peta persebaran menunjukkan kelinci Rex berada di bawah axis X dan kiri axis Y, New Zealand berada di atas axis X dan di kiri axis Y, Flemish Giant berada di antara atas dan bawah axis X dan kanan axis Y. Nilai kesamaan yang besar pada kelinci Flemish Giant (98,33%,) New Zealand dan Rex tidak berbeda (82,10%) (81,82%). Jarak genetik terbesar kelinci Rex dengan Flemish Giant (38.015), kelinci New Zealand dengan Flemish Giant (32.394), jarak terkecil pada New Zealand dengan Rex (2.417).
Pendugaan Nilai Heritabilitas Bobot Badan pada Sapi Bali di BPTU-HPT Denpasar-Bali Andara, Dhita Indah; Setiaji, Asep; Edy Kurnianto
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 19 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.19.1.7-10

Abstract

Estimating heritability values can be used to implement selection programs and evaluate more targeted breeding programs in Bali cattle. This study aims to estimate the heritability value of birth weight, weaning weight and yearling weight of Bali cattle at Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Denpasar Bali. The research material used is the recording data of 500 Bali cows originating from 24 males  (sire)with 500 Bali cows (dam) that produce offspring of as many as 500 calves. The data was secondary data, obtained by taking records of body weight data, including birth weight, weaning weight, and yearling weight, along with pedigree data of Bali cattle raised from 2017 to 2021 at BPTU-HPT Denpasar. Estimating the heritability value is done using a one-way unbalanced layout model. The results showed that the heritability values of birth, weaning, and yearling weights were 0.25±0.09, 0.23±0.08, and 0.16±0.07, respectively. Based on these results, it can be concluded that the heritability value of birth weight, weaning weight and yearling weight in BPTU-HPT Denpasar Bali is included in the moderate category so that it can be used as a selection guide to increase the productivity of Bali cattle as local Indonesian cattle.