Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Naditira Widya

JEJAK BAHASA PROTO-AUSTRONESIA PADA PRASASTI GUNUNG TUA (LOKANĀTHA) Churmatin Nasoichah; Dwi Widayati; Mulyadi
Naditira Widya Vol. 15 No. 1 (2021): Naditira Widya Volume 15 Nomor 1 April Tahun 2021
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada prasasti Gunung Tua (Lokanātha) ditemukan sejumlah kata yang mengindikasikan bahasa Proto-Austronesia. Jejak bahasa Proto-Austronesia tersebut berupa kata turunan dan/atau kalimat-kalimat, yang dapat dianalisis pada tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis. Permasalahan penelitian ini adalah mengetahui tataran fonologi dan morfologi bahasa Proto-Austronesia pada prasasti Gunung Tua (Lokanātha), dan tataran sintaksis dari struktur kalimat bahasa Melayu kuno pada prasasti tersebut. Tujuan penelitian ini untuk memahami signifikasi bahasa Proto-Austronesia pada Prasasti Gunung Tua (Lokanātha). Metode penelitian ini bersifat kualitatif yang dijabarkan secara deskriptif, serta analisis data yang dilakukan dengan metode padan dan agih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tataran fonologi, terdapat dua kata, yaitu juru atau ‘orang pandai’, dan pāṇḍai atau ‘pandai (terampil)’. Pada tataran morfologi, ditemukan dua kata, yaitu tatkala atau ‘ketika’, dan barbwat atau ‘membuat’. Ternyata, kata juru dan tatkala merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta, sedangkan kata pāṇḍai dan barbwat merupakan kata turunan dari bahasa Proto-Austronesia. Berdasarkan tataran sintaksis, dapat disimpulkan bahwa struktur kalimat pada prasasti Gunung Tua (Lokanātha) berbentuk kalimat aktif transitif atau kalimat yang memerlukan objek. The Gunung Tua (Lokanātha) inscription contained words indicating the Proto-Austronesian language. Traces of the Proto-Austronesian language were evident from derivative words and/or sentences written in the inscription, and these could be analyzed at levels of phonology, morphology, or syntax. This research was carried out to recognize the phonological and morphological level of the Proto-Austronesian language on the Gunung Tua (Lokanātha) inscription, and the syntactic level of sentence structure of the ancient Malay language. The purpose of this study was to understand the significance of the Proto-Austronesian language in the Gunung Tua (Lokanātha) inscription. This research method is qualitative, and data were portrayed descriptively. Data analysis was carried out using methods of identity and distributional. Research results showed that at the phonological level, two words were recognized, which were ‘juru’ or smart person, and ‘pāṇḍai’ or smart (skilled). At the morphological level, two words were identified, which were ‘tatkala’ or when, and ‘barbwat’ or make. Apparently, the words ‘juru’ and ‘tatkala’ were loanwords from Sanskrit, while the words ‘pāṇḍai’ and ‘barbwat’ were derivative words of the Proto-Austronesian language. At a syntactic level, it could be concluded that the sentence structure of the Gunung Tua (Lokanātha) inscription was transitive active.
PRASASTI RAJA SORITAON DAN LATAR BELAKANG PENULISANNYA Churmatin Nasoichah
Naditira Widya Vol. 11 No. 1 (2017): Naditira Widya Volume 11 Nomor 1 April Tahun 2017
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak prasasti di Indonesia, masih harus diteliti dengan seksama karena sekalipun sudah dibaca dan diterbitkan, tetapi masih dalam bentuk alih aksara dan alih bahasa, seperti Prasasti Raja Soritaon. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui Prasasti Raja Soritaon dan latar belakang penulisannya. Penelitian ini menggunakan penalaran induktif, dengan mengumpulkan fakta yang dianalisis dengan pendekatan kritik teks, hasilnya digunakan untuk membantu membuat interpretasidan kesimpulan. Prasasti Raja Soritaon berbahan batu, dibuat dengan cara dipahat, dan bentuknya pipih persegi. Prasasti ini dituliskan menggunakan aksara dan bahasa Batak Angkola. Inskripsi berada di makam Batak kuno, makam pendiri huta/kampung yang bernama Raja Soritaon, dan prasasti tersebut berfungsi sebagai penanda kubur. Isi prasasti menggambarkan Raja Soritaon sebagai sosok orang kaya, pendiri kampung Padang Bujur, orang yang dituakan dan dihormati, serta orang yang dapat memutuskan segala permasalahan tanpa bisa diganggu gugat. Many of inscriptions in Indonesia still need to be carefully examined, though many of it have been read and published, but still in the form of transcription and translation, such as Raja Soritaon inscription. This paper purposes todescribe Raja Soritaon inscription and its writing background. The study was done through inductive reasoning by fact collecting, then the data are analyzed by text-critical approach to sum up interpretation and conclusion. The inscription is from stone, made by chiseled, and has flat square shape. This inscription is written using Angkola Batak script and language, at the Bataknese ancient tomb of huta (village) founder, namely Raja Soritaon, and the inscription was served as a tomb marker. The inscription portrayed Raja Soritaon as a rich man, the founder of Padang Bujur village, respected elder person, and one who can decide all the problems without inviolable.