Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MEMBANDINGKAN CATATAN PERJALANAN PELANCONG DAN NISAN KUNO KERAJAAN PERLAK, ACEH TIMUR, ACEH: [Compairing Travel Notes and Ancient Nisan Peureulak Kingdom, East Aceh, Aceh] Ambo Asse Ajis
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 24 No 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v24i1.444

Abstract

The 11th century AD Armenian text entitled A Journals of the South China Sea refers to the tofonim Peureulak by the name Poure (Armenian) as a rich and valuable port. Marco Polo (1293 / late 13th century AD) was called Ferlec (Portuguese), which was a settlement with an Islamic population that was regularly visited by Islamic traders. The Negarakertagama manuscript of the 14th century AD mentions the name Parllak (Javanese) as one of the vassals of the Majapahit Kingdom. Likewise local texts, especially Hikayat Raja-Raja Pasai, mention that the existence of the Peureulak Kingdom ended when it merged into the power of the Samudera Pasai Kingdom (1297 AD) through the process of marriage. This paper aims to see whether the records of the above improvements have the support of archaeological remains, especially the pre-Pasai Ocean era. The research method is descriptive by comparing information with the existence of archaeological remains of two pieces of data that have the same space and time dimensions, namely the rise of the pre-13th century AD and archaeological remains in the form of ancient pre-Samudera Pasai tombstones. The final conclusion is that the results of the comparison of space and time dimensions show that there is a synchronization that confirms the record that saw the Muslim population in Peureulak before the establishment of the kingdom of Samudera Pasai, which is one of the earliest Islamic cities in Southeast Asia. Teks berbahasa Armenia abad ke-11 Masehi berjudul Suatu Catatan Perjalanan di laut Cina Selatan menyebut toponim Peureulak dengan nama Poure (bahasa Armenia) sebagai pelabuhan yang kaya dan berharga. Marco Polo (1293/akhir abad ke-13 M) menyebutnya Ferlec (bahasa Portugis) yakni sebuah lokasi permukiman berpenduduk Islam yang rutin disinggahi pedagang Islam. Naskah Negarakertagama abad 14 menyebut nama Parllak (bahasa Jawa) sebagai salah satu vasal Kerajaan Majapahit. Demikian juga naskah lokal, khususnya Hikayat Raja-Raja Pasai menyebut eksistensi Kerajaan Peureulak berakhir ketika melebur ke dalam kekuasaan Kerajaan Samudera Pasai (1297 M) melalui proses pernikahan. Tulisan ini bertujuan ingin melihat apakah catatan para pelancong di atas memiliki dukungan tinggalan arkeologis khususnya era sebelum Samudera Pasai. Metode penelitian bersifat deskriptif dengan cara melakukan komparasi informasi dengan keberadaan tinggalan arkeologis dua buah data yang memiliki kedudukan dimensi ruang dan waktu yang sama, yakni catatan pelancong abad sebelum abad 13 dan tinggalan arkeologis berupa nisan-nisan kuno era sebelum Samudera Pasai. Kesimpulan akhirnya bahwa dari hasil perbandingan dimensi ruang dan waktu menunjukan ada singkronisasi membenarkan catatan para pelancong melihat adanya penduduk Islam di Peureulak sebelum berdirinya kerajaan Samudera Pasai, yakni satu kota paling awal yang terislamisasi di Asia Tenggara.
Analisis Morfologi Nisan Sultan-Sultan Kerajaan Samudera Pasai Ambo Asse Ajis
JURNAL PANALUNGTIK Vol. 3 No. 2 (2020): Vol. 3 (2) 2020
Publisher : Kemendikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/pnk.v3i2.38

Abstract

Archaeological evidence of the existence of the sultans of Samudera Pasai Kingdom is marked by the remains of gravestones that mention their name, title and year of death. From these data we can arrange the order of the sultan’s name, title, name of his parents and the year of his death. And, not only that, this archaeological evidence can also map the morphology (form) of tomb and the type of material. As for the study of the morphology of the gravestones of the sultans of Samudera Pasai Kingdom, until now no one has done it. Therefore, this paper becomes a kind of introduction for those interested in the study of the ancient tombstone of Samudera Pasai Kingdom. The method of writing this work uses a historiographic approach in examining the time sequence of the gravestones. This paper then succeeded in recording the morphology of the gravestones and the types of materials according to the tombstone sequences of the sultans of Samudera Pasai Kingdom, starting from the first sultan to the last sultan.
STUDI POTENSI ANCAMAN PADA SITUS BENTENG GUNUNG BIRAM, ACEH BESAR, PROVINSI ACEH Ambo Asse Ajis
Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i1.179

Abstract

Situs Benteng Gunung Biram terletak di Desa Lamtemot, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar di Provinsi Aceh merupakan salah satu situs perbentengan yang dipelihara Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh. Keunikan situs ini terletak pada design arsitekturnya yang murni local genius, seperti: tidak memiliki bastion, menggunakan perekat lokal, adaptif dengan lingkungan dan fungsi yang berkelanjutan dari zaman ke zaman. Sebagai sebuah cagar budaya (CB) yang berusia lebih dari 400 Tahun, permasalahan utama yang dihadapi situs ini adalah kecenderungan ancaman terhadap kualitas fisiknya semakin menguat. Hasil dari studi lapangan memperlihatkan ada 3 (tiga) sumber ancaman yang sementara ini ditemukan, yaitu: ancaman kebencanaan, ancaman internal dan eksternal yang secara berkelanjutan memproses pelemahan struktur benteng dari waktu ke waktu.
Strategi Kebijakan Menjaga Warisan Budaya Bandar Aceh Darussalam Di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh Ambo Asse Ajis
Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i2.204

Abstract

Bandar Aceh Darussalam adalah ibukota Kerajaan Aceh Darussalam sejak intitusi pemerintahan Islam ini didirikan oleh Sultan Ali Mugahayat Syah tahun 1496 Masehi. Ketika penjajah Belanda berhasil menguasainya di Tahun 1874, ibukota ini diganti dengan nama Kutaraja. Ketika Aceh menjadi bagian Indonesia, Kutaraja berganti nama menjadi Banda Aceh pada tahun 1962. Sebagai bekas ibukota kerajaan, seluruh tanah di Bandar Aceh Darussalam tentu menyimpan deposit jejak budaya yang memiliki nilai penting bagi identitas Aceh secara khusus dan Indonesia secara umum. Meskipun demikian, karena berada dalam areal inti perkotaan Kota Banda Aceh dan sekaligus Ibukota Provinsi Aceh, potensi warisan budaya budaya tersebut sedang menghadapai ancaman yang tinggi karena terganggu akibat konflik kepentingan, baik itu atas nama kepentingan penduduk maupun kepentingan pembangunan pemerintah Kota Banda Aceh, Provinsi hingga pembangunan Nasional. Terkait dengan hal itu, tulisan ini dibuat dengan tujuan mengajukan pemikiran penangan potensi konflik dengan pendekatan cultural resource management (CRM) yang dapat diterapkan para stakeholder terkait rencana pelestarian kawasan kuno Bandar Aceh Darussalam.