Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Borobudur

STUDI POTENSI ANCAMAN PADA SITUS BENTENG GUNUNG BIRAM, ACEH BESAR, PROVINSI ACEH Ambo Asse Ajis
Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i1.179

Abstract

Situs Benteng Gunung Biram terletak di Desa Lamtemot, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar di Provinsi Aceh merupakan salah satu situs perbentengan yang dipelihara Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh. Keunikan situs ini terletak pada design arsitekturnya yang murni local genius, seperti: tidak memiliki bastion, menggunakan perekat lokal, adaptif dengan lingkungan dan fungsi yang berkelanjutan dari zaman ke zaman. Sebagai sebuah cagar budaya (CB) yang berusia lebih dari 400 Tahun, permasalahan utama yang dihadapi situs ini adalah kecenderungan ancaman terhadap kualitas fisiknya semakin menguat. Hasil dari studi lapangan memperlihatkan ada 3 (tiga) sumber ancaman yang sementara ini ditemukan, yaitu: ancaman kebencanaan, ancaman internal dan eksternal yang secara berkelanjutan memproses pelemahan struktur benteng dari waktu ke waktu.
Strategi Kebijakan Menjaga Warisan Budaya Bandar Aceh Darussalam Di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh Ambo Asse Ajis
Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i2.204

Abstract

Bandar Aceh Darussalam adalah ibukota Kerajaan Aceh Darussalam sejak intitusi pemerintahan Islam ini didirikan oleh Sultan Ali Mugahayat Syah tahun 1496 Masehi. Ketika penjajah Belanda berhasil menguasainya di Tahun 1874, ibukota ini diganti dengan nama Kutaraja. Ketika Aceh menjadi bagian Indonesia, Kutaraja berganti nama menjadi Banda Aceh pada tahun 1962. Sebagai bekas ibukota kerajaan, seluruh tanah di Bandar Aceh Darussalam tentu menyimpan deposit jejak budaya yang memiliki nilai penting bagi identitas Aceh secara khusus dan Indonesia secara umum. Meskipun demikian, karena berada dalam areal inti perkotaan Kota Banda Aceh dan sekaligus Ibukota Provinsi Aceh, potensi warisan budaya budaya tersebut sedang menghadapai ancaman yang tinggi karena terganggu akibat konflik kepentingan, baik itu atas nama kepentingan penduduk maupun kepentingan pembangunan pemerintah Kota Banda Aceh, Provinsi hingga pembangunan Nasional. Terkait dengan hal itu, tulisan ini dibuat dengan tujuan mengajukan pemikiran penangan potensi konflik dengan pendekatan cultural resource management (CRM) yang dapat diterapkan para stakeholder terkait rencana pelestarian kawasan kuno Bandar Aceh Darussalam.