Djandjang Purwo Sedjati
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Batik di Era Teknologi Digital Djandjang Purwo Sedjati
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 1, No 12: Januari-April 2011
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i12.2816

Abstract

Batik in the Era of Digital Technology. The processof Batik making (handmade batik and printed batik)operates certain techniques and equipments that arecertainly influenced by the technology development. Theeffects do not only touch the production process but alsothe distribution process. Digital technology is also appliedin this field that in one way or another promotes thebatik art. Digital technology is already used in creatingbatik design. It results in various type of design, forexample the fractal batik that makes over the geometricalforms. Digital technology applied in designing batikcauses a more effective and efficient making process.This technology completes the manual process that is stillemployed until today.
TEPUNG MAKANAN SEBAGAI ALTERNATIF PERINTANG DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI TEKSTIL Djandjang Purwo Sedjati; Agung Suhartanto
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i1.3573

Abstract

The establishment of batik as a humanitarian legacy for oral and non-material culture (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) by UNESCO on October 2, 2009 and the establishment of Yogyakarta as the World Batik City by the World Craft Council made batik gained enthusiastic in the community. On the other hand, batik has to deal with people's demands  for new products that can fulfill their desires. Thus, new creations that are creative and innovative are needed in order to fulfill theconsumers and the market needed. From the description above, there was an interest in creating creative works of art by exploring non-evening materials in the form of food flour, namely sago flour and cornstarch as other alternatives in the creation of batik and textile art. As for rice, starch and sticky rice are not used because in Japan, rice has been used as a barrier called Katazome, in Negeria, starch has been used as a barrier called Adire Eleko and in the past sticky rice was used in the manufacture of simbut fabrics in Sunda West Java. To collect data, the researcher used the library method and observation method. As for the implementation methods used the Practiced Led Research method which is a type of practical research, which is creating and reflecting new work through practical research conducted (Hendriyana, 2018: 21). The Three Step Six Step Gustami Art Pattern Creation Method is used to explore the source of ideas and design. Experiments and Improvisation Methods are also carried out by the researcher  to get new knowledge from experiments conducted mainly on non-batik material in the form of food flour. In this creation, wheat flour, cornstarch, and sago flour will be used as non-wax material then the non-wax material will be applied and the application of the non-wax material will be combined with batik wax. In this creation fast dye will be applied. There are 5 types of textile art works that will be made, namely long cloth, shawl, chair cushions, and scrafs as functional works and wall hanging or wall hangings as expressive artwork.Ditetapkannya batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 dan ditetapkannya Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Council menjadikan seni batik kembali bergairah di tengah masyarakat. Disisi lain, batik harus berhadapan dengan permintaan atau tuntutan masyarakat akan produk-produk baru yang dapat memenuhi keinginan mereka. Dengan demikian, diperlukan ciptaan-ciptaan baru yang kreatif dan inovatif dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan pasar. Berangkat dari uraian tersebut diatas, muncul ketertarikan untuk menciptakan karya seni kreatif dengan mengeksplorasi bahan non malam berupa tepung makanan yaitu sagu terigu dan maizena sebagai alternatif lain dalam penciptaan seni batik dan tekstil. Adapun beras, kanji dan ketan tidak digunakan karena di Jepang, beras sudah digunakan sebagai perintang yang disebut Katazome, di Negeria, tepung kanji sudah digunakan sebagai perintang yang disebut Adire Eleko dan pada masa lampau ketan dipakai dalam pembuatan kain simbut di Sunda Jawa Barat. Untuk mengumpulkan data digunakan metode pustaka dan metode observasi. Adapun pada pelaksanaannya digunakan metode antara lain metode Practiced Led Research yang merupakan jenis penelitian praktik, yaitu menciptakan dan merefleksikan karya baru melalui riset praktek yang dilakukan (Hendriyana,2018:21). Metode Penciptaan Seni Kriya Pola Tiga Tahap Enam Langkah Gustami digunakan untuk menggali sumber ide dan perancangan. Metode Eksperimen dan Improvisasi juga dilakukan penulis untuk mendapatkan pengetahuan baru dari eksperimen yang dilakukan terutama pada bahan non malam batik berupa tepung makanan. Pada penciptaan ini, akan digunakan tepung terigu, tepung maizena, dan tepung sagu sebagai material non malam kemudian diaplikasikan bahan perintang non malam batik dan aplikasi paduan bahan perintang non malam batik dengan malam batik. Pada penciptaan ini akan diterapkan pewarnaan fast dye. Ada 5 jenis karya seni tekstil yang akan dibuat yaitu kain panjang, selendang, sarung bantal kursi, dan scraf sebagai karya fungsional serta wall hanging atau hiasan dinding sebagai karya seni ekspresi.
KEBEN (BARRINGTONIA ASIATICA), MOTIF DAN PEWARNA BATIK Djandjang Purwo Sedjati
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1287.032 KB) | DOI: 10.24821/corak.v8i2.2789

Abstract

Perkembangan batik di Yogyakarta cukup menggembirakan, namun bila melihat  batik khas Yogyakarta di pasaran masih di dominasi  motif lama yang sudah ada sejak dulu. Motif baru khas Yogyakarta belum nampak secara signifikan, kalau pun ada masih sebatas mengkomposisikan tata letak beberapa motif yang dijadikan satu dalam sebuah kain. Hal ini kurang menjadi daya tarik, sehingga diperlukan karya ciptaan baru yang kreatif dan inovatif yang akan memperkaya motif batik khas Yogyakarta dan akan memantabkan kedudukan sebagai kota batik dunia. Berangkat dari kondisi tersebut, penulis ingin menciptakan motif baru dengan mengambil tumbuhan Keben (Barringtonia Asiatica) sebagai motif dan pewarna alam pada kain panjang batik tulis. Metode pustaka dan metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data. Metode Practiced Based Research digunakan untuk memperoleh pengetahuan baru melalui riset praktek dan hasil riset praktek. Metode Penciptaan Seni Kriya Pola Tiga Tahap Enam Langkah digunakan untuk menggali sumber ide dan perancangan. Metode Eksperimen dan Improvisasi juga digunakan penulis untuk mendapatkan pengetahuan baru dari eksperimen yang dilakukan terutama pada pewarna alam serta improvisasi bila dalam pelaksanaan menemukan ide-ide baru. Karya yang dihasilkan berupa 4 lembar kain panjang batik tulis sutera motif stilisasi daun,bunga dan buah Keben dengan zat warna alam Keben dikombinasikan pewarna alam lain yang menghasilkan warna khas batik Yogyakarta. Pola yang dipakai adalah pola Ceplok, Parang, dan Lung-Lungan. Kata Kunci : Keben, Batik, Warna Alam
MIX TEKNIK ECOPRINT DAN TEKNIK BATIK BERBAHAN WARNA TUMBUHAN DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI TEKSTIL Djandjang Purwo Sedjati; Vincentia Tunjung Sari
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 8, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v8i1.2686

Abstract

Ditetapkannya batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 dan ditetapkannya Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Council. Menjadikan seni batik kembali bergairah di tengah masyarakat sekaligus melegakan karena batik terhindar dari kepemilikan atas bangsa dan negara lain. Disisi lain, batik harus berhadapan dengan tuntutan dan dinamika selera masyarakat masa kini, batik harus berhadapan dengan permintaan atau tuntutan masyarakat akan produk-produk baru yang dapat memenuhi keinginan mereka. Tidak hanya kebutuhan untuk fashion dan perangkat interior yang selalu berkembang tetapi juga kebutuhan karya-karya yang dapat memberi kepuasan batin. Dengan demikian, diperlukan ciptaan-ciptaan baru yang kreatif dan inovatif dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan pasar. Berangkat dari uraian tersebut diatas, muncul ketertarikan untuk menciptakan karya seni kreatif dengan mengeksplorasi dan menggabungkan teknik ecoprint dan batik ke dalam karya seni tekstil. Untuk mengumpulkan data digunakan metode pustaka dan metode observasi. Adapun pada pelaksanaannya digunakan metode antara lain Metode Practiced Based Research (Malins, Ure, dan Gray) untuk memperoleh pengetahuan baru melalui praktek riset dan hasil praktek. Metode Penciptaan Seni Kriya Pola Tiga Tahap Enam Langkah Gustami untuk menggali sumber ide dan perancangan. Metode Eksperimen dan Improvisasi juga dilakukan penulis untuk mendapatkan pengetahuan baru dari eksperimen yang dilakukan terutama pada ecoprint. Pada penciptaan ini, akan dilakukan stilisasi atau menggubah bentuk daun jati, jambu batu, jati kebon, sukun dan daun pohon lanang digunakan sebagai material ecoprint dengan teknik batik dan kemudian dikolaborasikan dengan teknik ecoprint. Pada batik akan diterapkan pewarna dari buah keben. Ada 3 jenis karya seni tekstil yang akan dibuat yaitu stola dan scraf sebagai dua karya fungsional dan wall hanging atau hiasan dinding sebagai karya seni ekspresi. Kata kunci: ecoprint, teknik , warna tumbuhan, penciptaan,  karya tekstil
Pelatihan Seni Membatik Bagi Masyarakat Desa Ngluwar, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang Djandjang Purwo Sedjati; Yuni Estikasari
Jurnal Pengabdian Seni Vol 2, No 2 (2021): NOVEMBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v2i2.5925

Abstract

Keterampilan seni membatik yang diberikan kepada anggota PKK Desa Ngluwar dari proses menggambar di atas kertas sampai melepaskan malam (nglorod), sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan pemberdayaan perempuan anggota PKK Desa Ngluwar, menambah keterampilan, meningkatkan sumber daya manusia, melestarikan batik, dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Metode pengabdian berupa ceramah, diskusi, praktik, dan evaluasi. Hasil yang dicapai dari penyuluhan seni batik ini adalah peserta dapat membuat batik sesuai prosedur pembuatan batik sehingga peserta yang belum pernah membatik menjadi bisa membatik. Peserta menghasilkan dua produk batik berupa sapu tangan ukuran 50 x 50 cm yang diproses dengan pewarna naptol dan kain panjang 2 meter yang diproses dengan pewarnaan remazol teknik colet dan celup.
Analisis Faktor yang Berpengaruh terhadap Kualitas Jiwa Kewirausahaan Perajin Stagen Inovasi Dian Retnaningdiah; Djandjang Purwo Sedjati; Titiana Irawani
Telaah Bisnis Vol 16, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.936 KB) | DOI: 10.35917/tb.v16i1.32

Abstract

AbstractThe aim of this research is want to know the effect of creativity and innovation of the entrepreneurship’s quality. The survey methode has been used in this research. The sample number used is 30 respondents from the small medium entrepreneurs with the purposive random sampling technique. The data analysis uses reliability and validity for measuring the questionares. The regression analysis is used as well. By using 5% level of significant, the results show that in partially and simultaneously both creativity and innovation are shown affecting the entrepreneurship’s quality.
Sun Block Technique In Indigosol Dyeing For Textile Artwork Djandjang Purwo Sedjati; Hidayatun Nurfiani
Corak Vol 11, No 1 (2022): MAY 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v11i1.6392

Abstract

Indigosol is one of the chemical color substances widely used in textile coloring through coletan (brushing) or celupan (dipping) to result in bright color. The coloring process requires the sun's ultraviolet rays. Early observations about the process of coloring fabric with indigosol indicate the importance of using the gap in the heating process with the sun as a new technique in decorating the fabric. It is assumed that when the radiation process occurs, if there is something attached to the fabric exposed to the sun, then the indigosol dye can not appear because it is blocked by an object so that the part attached to an object maintains the original color. The process of heating with the sun in indigosol dyeing technique is a diversification technique or transfer of function in fabric decoration. This study employs the library and observation methods to collect data. The practice-led research method is used to create and reflect on new work. The method focuses on the practice of scientifically written creation processes. Experimental methods are carried out mainly on the indigosol dyeing process combined with remazol and batik techniques. Improvisation is made in cultivation to find new ideas to create works. In applying indigosol, the coloring techniques will be done with blocks using such unique and artistic objects as flora, especially leaves and flowers, and such materials as brocade, tule, or terawang woven combined with remazol color. In addition, dyes will also be involved in batik techniques. The works are all functional and made in silk and cotton sheets. Six types of works are made with engineering techniques obtained from the results of experiments.
Eksperimentasi Kluwih (Artocarpus camansi) sebagai Warna Alam pada Tekstil Djandjang Purwo Sedjati; Zahra Azkia Putri Yantari
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 24, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v24i1.4469

Abstract

Berbagai macam tumbuhan dapat digunakan sebagai pewarna tekstil. Namun sejak ditemukannya zat warna sintetis pada abad 19, maka produksi tekstil di Indonesia beralih ke zat warna sintetis. Sayangnya dampak yang ditimbulkan dari limbah zat warna sintetis ini mencemari lingkungan hidup manusia. Pelarangan penggunaan pewarna sintetis di Eropa dan Amerika, serta isu global yaitu Back to Nature, merupakan hal yang tidak mungkin dihindari, bahkan harus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. Produk tekstil juga berhadapan dengan tuntutan selera masyarakat masa kini, yaitu kebutuhan  fashion dan interior, serta kebutuhan karya-karya yang dapat memberi kepuasan batin, sehingga diperlukan ciptaan karya baru yang kreatif dan inovatif. Dalam rangka mencari keberagaman dan pengkayaan warna dari tumbuhan yang ada di Indonesia, penulis ingin mengambil tumbuhan Kluwih (Artocarpus camansi) sebagai pewarna alam untuk tekstil dengan teknik celup dan cetak langsung (ecoprint). Metode pustaka, observasi dan eksperimentasi digunakan untuk mengumpulkan data. Metode practice based research digunakan untuk memperoleh pengetahuan baru melalui riset praktek dan hasil riset praktek. Metode eksperimen digunakan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru terutama pada pewarna alam serta improvisasi jika dalam pelaksanaan menemukan ide-ide baru. Pada terapan warna ini akan dilakukan dengan teknik batik, celup dan ecoprint.