Mia Kosmiatin
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Propagasi Mikro dan Sambung Mikro Jeruk Keprok (Citrus reticulata) Garut Hasil Mutagenesis In Vitro dengan Batang Bawah Japansche Citroen I Made Arisudana Putra; Agus Purwito; Mia Kosmiatin
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.098 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.2.99-108

Abstract

ABSTRACTThis  study  was  aimed  at  obtaining  the  best  concentration  of  kinetin  for multiplication  of Mandarin  var. Garut  as  the  derived  from  in  vitro mutation,  determining  period  of  immersion  of Japansche citroen seed in GA3 10 mg L-1solution and getting the best sucrose concentration in agar for grafted  plant.  The  experiment  was  conducted  at  the  in  vitro  Laboratory of Cell  and  Tissue Biology,  BB  Biogen,  and  Plant  Tissue  Culture Laboratory, Faculty  of  Agriculture,  Bogor Agricultural University from January to September  2014. A  completely randomized design (CRD) was  used  in experiment  with  1  treatment  factor.  The  factor  was  kinetin  concentration in multiplication medium (MS +MW Vitamin)  consisting  of three level  of: (K1) kinetin 1  mg  L-1, (K2) kinetin 3  mg  L-1, dan (K3) kinetin 5  mg  L-1. The factor  of  the second  experiment  was time  length  of JC seed immersion in GA3 10 mg L-1solution: (δ1) 1 hour, (δ2) 2 hours, dan (δ3) 3 hours. The factor for third step is sucrose concentration in grafted plants medium which consisted of three levels: (G1) 30 g L-1of sucrose, (G2) 50 g L-1of sucrose, and (G3) 70 g L-1of sucrose. The optimum concentration of kinetin  for scion growth was  1  mg  L-1and for multiplication  was  5  mg  L-1. The best  period for rootstock immersion in GA3  solution  was  3 hours. The best percentage of success  in  micrografting occured at 70 g L-1sucrose containing medium.Key words: gibberellin, kinetin,multiplication, sucrose ABSTRAKPenelitian  ini  Penelitian  ini  bertujuan  mendapatkan  konsentrasi penambahan kinetin  terbaik pada multiplikasi jeruk keprok garut hasil  induksi mutasi, mendapatkan perlakuan  perendaman  GA3terbaik untuk  perkecambahan batang bawah  Japansche Citroen  (JC), dan mendapatkan konsentrasi gula terbaik  untuk  menumbuhkan  tanaman  hasil  sambung  mikro.  Penelitian dilaksanakan  di Laboratorium  in  vitro  kelompok  peneliti  Biologi  Sel  dan Jaringan, Balai  Besar Bioteknologi  dan Genetika  serta  Laboratorium  Kultur Jaringan, Departemen Agronomi  dan  Hortikultura,  Fakultas Pertanian, Institut Pertanian  Bogor  pada  bulan  Januari  hingga  September  2014. Rancangan penelitian  yang  digunakan  adalah  rancangan  acak  lengkap (RAL)1  faktor  untuk  ke  tiga  tahap penelitian.  Faktor  pada  percobaan multiplikasi  adalah  konsentrasi  kinetin  pada  media multiplikasi (MS+Vitamin MW)  yang  terdiri  atas  3  taraf:  K1)  kinetin  1  g  L-1,  (K2)  kinetin  3  g L-1,  dan  (K3) kinetin 5 g L-1. Faktor untuk percobaan ke dua adalah lama perendaman biji JC pada larutan GA3 10 mg L-1 yang terdiri atas 3 taraf yakni (δ1) 1 jam, (δ2) 2 jam, dan (δ3) 3 jam. Faktor pada percobaan ketiga  adalah konsentrasi  gula  pada  media  tanaman  hasil  sambung  mikro  dengan  3 taraf:  (G1) konsentrasi  gula  30  g  L-1,  (G2)  konsentrasi  gula  50  g  L-1, dan  (G3)  konsentrasi  gula  70  g  L-1. Konsentrasi  kinetin  optimal  untuk pertumbuhan  batang  atas  adalah  1  mg  L-1 sedangkan  untuk kemunculan tunas baru adalah 5 mg L-1. Lama perendaman pada larutan GA3 10 mg L-1 yang terbaik untuk  memacu  perkecambahan  biji  dan  pemanjangan kecambah  adalah  3  jam.  Persentase keberhasilan sambung mikro tertinggi diperoleh media dengan konsentrasi gula 70 g L-1.Kata kunci: giberelin, kinetin, multiplikasi, gula
Embriogenesis Somatik Jeruk Keprok (Citrus reticulata L. cv Batu 55) Asal Hasil Perlakuan Kolkisin Agus Purwito; Mohamad Prayogi; Mia Kosmiatin; Ali Husni
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.475 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.3.161-171

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study was to obtain the best method of regeneration through somatic embryogenesis of citrus cv Batu 55 from callus resulted from in vitro polyploidization by colchicine. The experiment was conducted at the Laboratory of ICABIOGRAD, Bogor and Tissue Culture Laboratory, Department of Agronomy and Horticulture, Bogor Agricultural University from March 2014 until September 2014. This study consisted of proliferation of embryogenic callus, maturation, germination of somatic embryos, growth of shoots and roots. The research were comprised of four experiments, namely: 1). The effect of Phytagel concentration (2.5, 3.0, 3.5 and 4.0 g L-1) on proliferation of embryogenic callus, with 3 replications. Each experimental unit consisted of 3 clumps of callus, 2). The effect of ABA concentration (0, 0.1, 0.3 and 0.5 mg L-1) on somatic embryo maturation with 6 replications. Each experimental unit was one culture vessel containing five somatic embryos at globular phase, 3) The effect of vitamin composition (vitamin MS and vitamin MW) on germination of somatic embryo with 16 replications. Each experimental unit was one culture vessel containing four somatic embryos at cotyledonary phase, and 4) The effect 0.5 mg L-1 of plant growth regulators (NAA, IAA, IBA) and vitamin (MS and MW) on rooting and shoot elongation of germinated somatic embryos. Experiment was repeated five times. Each experimental unit was one culture vessel containing one plantlet as explant. All experiments were arranged as a completely randomized design. The result showed that the best concentration of Phytagel for callus proliferation was 2.5 g L-1. Maturation of somatic embryos was better when the somatic embryos were planted on medium supplemented with ABA 0.5 mg L-1. The MS medium supplemented with vitamin MS was better than supplemented with vitamin MW for the formation of plantlets, while roots and shoots elongation of the plantlet was better when explant was planted on the MS medium supplemented with vitamins MS and IBA 0.5 mg L-1.Key words: proliferation, maturation, germination, embryogenic callus, plantlet.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode embriogenesis somatik terbaik dari kalus Jeruk Keprok cv Batu 55 yang mendapatkan perlakuan poliploidisasi dengan kolkisin. Penelitian dilakukan di Laboratorium Balai Besar Litbang Bioteknologi & Sumber Daya Genetik Pertanian, dan Laboratorium Kultur Jaringan, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor mulai bulan Maret 2014 hingga September 2014. Penelitian ini terdiri atas proliferasi kalus embriogenik, pendewasaan, perkecambahan embrio somatik (ES), pertumbuhan tunas dan akar. Penelitian terdiri atas empat percobaan, yaitu: 1). Pengaruh konsentrasi Phytagel (2.5, 3.0, 3.5 dan 4.0 g L-1) terhadap proliferasi kalus embriogenik, dengan 3 ulangan, dimana setiap satuan percobaan terdiri atas 3 klum kalus, 2). Pengaruh konsentrasi ABA (0, 0.1, 0.3 dan 0.5 mg L-1) terhadap pendewasaan ES dengan 6 ulangan. Setiap satuan percobaan ialah satu botol kultur yang ditanam lima ES fase globular, 3) Pengaruh komposisi vitamin (vitamin MS dan vitamin MW) terhadap perkecambahan ES dengan 16 ulangan. Setiap satuan percobaan ialah satu botol kultur yang ditanami empat ES fase kotiledon, dan 4) Pengaruh 0.5 mg L-1 zat pengatur tumbuh (NAA, IAA, IBA) dan vitamin (MS dan MW) terhadap pertumbuhan tunas dan akar pada ES yang telah berkecambah. Setiap perlakuan diulang lima kali. Setiap satuan percobaan ialah satu botol kultur yang berisi satu planlet. Seluruh percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi terbaik Phytagel untuk proliferasi kalus adalah 2.5 g L-1. Pendewasan menjadi ES fase kotiledon akan lebih baik jika ES ditanam pada medium dengan ABA 0.5 mg L-1. Untuk pembentukan planlet, ES fase kotiledon akan lebih baik ditanam dalam medium MS yang ditambah vitamin MS dibanding yang ditanam pada medium MS ditambah vitamin MW. Medium untuk pertumbuhan tunas dan akar terbaik adalah medium MS yang ditambah dengan vitamin MS dan IBA 0.5 mg L-1.Kata kunci: proliferasi, pendewasaan, perkecambahan, kalus embriogenik, planlet.
Induksi Mutasi Pada Populasi Kalus Embriogenik Jeruk Siam Pontianak Dengan Sinar Gamma Ali Husni; Mia Kosmiatin
Zuriat Vol 23, No 2 (2012)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v23i2.6869

Abstract

Jeruk siam Pontianak (Citrus nobilis var. Microcarpa) merupakan salah satu jeruk unggulan di Indonesia. Rasa jeruk Pontianak ini cukup manis tetapi belum sesuai dengan kategori yang diinginkan pasar dunia untuk dikonsumsi dalam keadaan segar karena mempunyai biji yang relatif banyak (15-20 biji per buah) dan mempunyai warna kulit yang belum begitu menarik sehingga kalah bersaing dengan jeruk produk impor. Trend kebutuhan pasar dunia akan buah jeruk keprok/siam segar saat ini perlu memenuhi kategori buah yang tidak berbiji (seedless), mudah dikupas (easy peeling), dan mempunyai tipe mandarin dengan warna yang menarik (pigmented). Jeruk mempunyai sifat heterozigositas yang tinggi, poligenik dengan masa juvenile yang panjang. Untuk melakukan perbaikan mutu buah melalui pemuliaan konvensional membutuhkan waktu yang lama dan memerlukan biaya yang besar. Pemuliaan mutasi merupakan salah satu alternatif penyelesaian masalah. Induksi mutasi pada populasi sel embriogenik jeruk siam Pontianak dilakukan dengan sinar Gamma pada dosis 0, 10, 20, 30, dan 40 Gy. Regenerasi populasi kalus embriogenik yang telah diradiasi dilakukan melalui embriogenesis somatik. Untuk mendewasakan embrio somatik dilakukan pada media MW dengan penambahan ABA (1,0; 1,5; 2,0; dan 2,5 mg/l) dan MW medium + EM 500 mg/l + ABA (0,0; 1,0; 1,5; 2,0; dan 2.5 mg/l) untuk perkecambahan samapai terbentuk plantlet dengan menambahkan GA3 0,5 mg/l. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma dapat mempengaruhi  pertumbuhan, kecepatan regenerasi kalus menjadi plantlet, dan morfologi. Dari hasil  penelitian dapat disimpulkan bahwa iradiasi sinar gamma dapat memperlihatkan keragaman berdasarkan pertumbuhan, morfologi, dan kecepatan regenerasi kalus menjadi plantlet.