Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Humaniora

Peran Dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong Dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit Gaya Jawa Timuran Wisma Nugraha Christianto
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.436 KB) | DOI: 10.22146/jh.796

Abstract

Wayang Kulit gaya Jawa Timuran adalah sebuah seni pergelaran lakon yang mempergelarkan lakon-lakon atau cerita dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata, sama halnya dengan seni pergelaran wayang kulit di daerah lain (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan daerah lainnya). Secara geografis, tradisi pedalangan Jawa Timuran berada di dalam wilayah Provinsi Jawa Timur bagian utara di sekitar wilayah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, sebagian wilayah Kabupaten Lamongan, dan sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan. Di wilayah Malang, terdapat tradisi pedalangan yang mirip dengan tradisi yang ada di Jawa Timuran, tetapi masyarakat Malang dan kelompok masyarakat tradisi Jawa Timuran menyebut sebagai tradisi Malangan. Dunia seni pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran belum banyak menarik minat peneliti sastra dan kesenian di Indonesia karena dianggap sebagai seni daerah Pesisiran yang diasumsikan kurang menarik dibandingkan dengan dunia kesenian di lingkup keraton (Yogyakarta dan Surakarta). Seni pedalangan dan pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran merupakan sebuah dunia seni pertunjukan rakyat yang tidak banyak mendapat campur tangan kepentingan keraton dari berbagai aspek sosial, politik, kultural, dan aspek-aspek pragmatik lainnya. Ia tumbuh alami di desa-desa pewaris dan pelestari tradisinya sesuai dengan dinamika dan tataran pengetahuannya. Tokoh Semar dalam kehidupan seni pergelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran memiliki kedudukan dan fungsi yang penting dan agak berbeda dibandingkan perannya dalam dunia pergelaran wayang Jawa Tengahan dan Yogyakarta. Melalui tokoh Semar, kiranya dapat dipahami bagaimana konstruk sebuah lakon dipergelarkan dan bagaimana lakon diberi makna atau dikomunikasikan kepada publik. Sebaliknya, publik menghayati dan menangkap pesan lakon melalui peran tokoh Semar.
GENDER DI SEPUTAR PERGELARAN WAYANG JEKDONG DALAM BUDAYA JAWA TIMURAN Wisma Nugraha Christianto
Humaniora Vol 21, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3884.536 KB) | DOI: 10.22146/jh.1319

Abstract

Using an ethnographic research technique, within aninterpretive framework, this study sought to understand genderrelations in some wayang Jekdong performances from the perspectiveof the members themselves. Using interviews and observation, theresearch was carried out continuously over a period several months.Having developed categories and established themes, the data wereinterpreted using the analytic narrative. The entry of women into thefields of wayang Jekdong performances has affected gender roles anddivision of labor within households. Men argue that, while manywomen can try to "have it all," societal expectations placed uponwomen preclude them from devoting themselves fully to domesticactivities and child-rearing. Several themes were identified from themass of raw data: (a) attitudes towards participation, (b) socialinteraction and communication, (c) organisation and compliance withrules and regulations, (d) age, (e) female and male voice. Womansand childrens gave a multitude of reasons for supporting some eventsof wayang Jekdong performance those were reflected in theirbehaviour within the communities. 'The atmosphere during women'sactivities preparing and enjoy to watching wayang Jekdongperformance is very light-hearted because all the women want is tohave fun and enjoy each other's. Women are able to laugh atthemselves and enjoy the experience.