Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Waktu Yang Dibutuhkan Pondasi Tiang Pancang Memperoleh Daya Dukung Friksi Ideal Akibat Preboring Rasdinanta Tarigan
Portal: Jurnal Teknik Sipil Vol 13, No 2 (2021): Edisi Oktober
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/portal.v13i2.2352

Abstract

Bangunan yang berdiri di atas tanah lunak biasanya menggunakan pondasi tiang. Pondasi tiang yang umum digunakan adalah pondasi tiang pancang. Adakalanya ditemukan lapisan tanah keras yang tipis (lensa tanah) yang tidak terlalu dalam. Hal ini berakibat pada saat pemancangan lapisan tersebut tidak dapat ditembus tiang pancang. Sehingga kedalaman pondasi tiang pancang tidak sesuai dengan yang direncanakan, yang berakibat pondasi tiang pancang tidak dapat memikul beban yang direncanakan. Untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan melakukan pengeboran sampai lensa tanah tersebut ditembus, kemudian dilakukan pemancangan. Metode ini sering disebut dengan preboring. Efek dari preboring ini adalah menurunnya daya dukung friksi (skin friction) pada pondasi tiang pancang dalam waktu tertentu.Dari penyelidikan tanah diperoleh bahwa jenis tanah yang ada pada titik penelitian merupakan tanah berbutir (granular soil). Dengan muka air tanah (ground water level) sebesar 0,0 meter. Dalam penelitian ini juga diketahui bahwa penurunan nilai daya dukung friksi (skin friction) akibat preboring pada umur pemancangan 7 hari sebesar 197,87 ton, pada umur pemancangan 125 hari terjadi penurunan daya dukung friksi sebesar 41,47 ton, dan pada umur pemancangan 132 hari terjadi penurunan daya dukung friksi hanya sebesar 1,67 ton. Dengan prosentase penurunan daya dukung friksi sebesar 93,88% untuk umur pemancangan 7 hari, untuk umur pemancangan 125 hari sebesar 19,68% dan untuk umur pemancangan 132 hari sebesar 0,79%. Dibutuhkan minimal 132 hari daya dukung friksi tiang pancang kembali ke kondisi ideal. Oleh karena itu pada umur 132 hari sebaiknya tiang pancang diberikan beban layannya. Sehingga dapat mencegah kegagalan struktur suatu bangunan. Kata kunci: Pondasi Tiang Pancang, Daya Dukung Friksi (Skin Friction), Waktu  
EFEK PREBORING TERHADAP DAYA DUKUNG SELIMUT PADA PONDASI TIANG PANCANG Rasdinanta Tarigan; Budi Sarbarita Damanik
Jurnal Darma Agung Vol 29 No 3 (2021): DESEMBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Darma Agung (LPPM_UDA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/ojsuda.v29i3.1217

Abstract

Bangunan yang berdiri di atas tanah lunak biasanya menggunakan pondasi tiang. Pondasi tiang yang umum digunakan adalah pondasi tiang pancang. Adakalanya ditemukan lapisan tanah keras yang tipis (lensa tanah) yang tidak terlalu dalam. Hal ini berakibat pada saat pemancangan lapisan tersebut tidak dapat ditembus tiang pancang. Sehingga kedalaman pondasi tiang pancang tidak sesuai dengan yang direncanakan, yang berakibat pondasi tiang pancang tidak memikul beban yang direncanakan. Untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan melakukan pengeboran sampai lensa tanah tersebut ditembus, kemudian dilakukan pemancangan. Metode ini sering disebut dengan preboring. Efek dari preboring ini adalah menurunnya daya dukung selimut (skin friction) pada pondasi tiang pancang dalam waktu tertentu. Dari penyelidikan tanah diperoleh bahwa jenis tanah yang ada pada titik penelitian merupakan tanah pasir (granular soil). Dengan muka air tanah (ground water level) sebesar 0,0 meter. Dalam penelitian ini juga diketahui bahwa penurunan nilai daya dukung selimut (skin friction) akibat preboring sebesar 197,87 ton, pada umur pemancangan 7 hari. Dengan prosentase penurunan daya dukung selimut sebesar 93,88%. Dengan demikian, maka pelaksanaan struktur atasnya dapat direncanakan dengan baik. Hal ini dapat mencegah kegagalan struktur bangunan pada saat pelaksanaan di lapangan
KOMPARASI KINERJA ALAT PILE DRIVING ANALYZER DAN SOFTWARE CAPWAP DALAM MENGHASILKAN DAYA DUKUNG ULTIMIT PONDASI TIANG Rasdinanta Tarigan
Jurnal Darma Agung Vol 28 No 3 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Darma Agung (LPPM_UDA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/ojsuda.v28i3.802

Abstract

Buildings that stand on soft soil usually use a pile foundation. Testing the ultimate bearing capacity of pile foundations in the field is a Pile Driving Analyzer (PDA) tool. Besides being inexpensive to test, the results can also be known quickly. This tool is supported by a software called CAPWAP (CAse Pile Wave Analysis Program).In this paper, a performance comparison of the Pile Driving Analyzer (PDA) and CAPWAP (CAse Pile Wave Analysis Program) software will be presented in producing the ultimate bearing capacity of pile foundations. The results of both will be analyzed in such a way that the causes of the differences in the performance of the Pile Driving Analyzer (PDA) and the CAPWAP software are known.The results obtained show that the performance of the Pile Driving Analyzer (PDA) tool will not be optimal if the energy transferred to the pile foundation is too small. The energy given by the hammer when struck must be in the range of 1% - 2%, if it is smaller then the performance of the tool in producing the ultimate bearing capacity will not be representative. The difference in the ultimate bearing capacity between the PDA device and the CAPWAP software for energy transferred to the pile foundation (EMX) under the specified energy standard is 10.71% - 33.23%. Meanwhile, energy that meets the specified standards has a value between 0.24% - 1.80%.
Analisis dan Pengendalian Risiko dengan Metode Hazard Identification, Risk Assesmnet, dan Risk Control pada Proyek Pembangunan Living Plaza Medan Rasdinanta Tarigan; Josua Hutagalung
Portal: Jurnal Teknik Sipil Vol 14, No 1 (2022): Edisi April
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/portal.v14i1.2333

Abstract

Dilihat dari proses pekerjaannya, proyek pembangunan Living Plaza tidak akan terlepas dari risiko timbulnya kecelakaan kerja. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menilai tingkatan potensi risiko serta menganalisis upaya pengendalian yang harus dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dimana teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dengan cara observasi lapangan dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi potensi risiko, melakukan penilaian tingkatan risiko, dan yang terakhir menganalisis upaya pengendalian terhadap potensi risiko. Berdasarkan hasil penelitian, dari 9 induk pekerjaan yang di observasi, melahirkan 107 potensi risiko yang terdiri dari 22 bahaya ekstrim (20.56%), 36 bahaya tinggi (33.64%), 18 bahaya sedang (16.82%), dan 31 bahaya rendah (28.97%). Adapun pengendalian risiko yang dilakukan antara lain dengan eliminasi, substitusi, administrative control, dan alat pelindung diri. Kata kunci: Pengendalian, Risiko, Bahaya, Konstruksi, HIRARC
Analisis Potensi Likuifaksi pada Kawasan Medan Belawan Henriko Tarigan; Rasdinanta Tarigan
Portal: Jurnal Teknik Sipil Vol 14, No 1 (2022): Edisi April
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/portal.v14i1.2875

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi likuifaksi yang terjadi pada titik pengujian SPT di Kawasan Medan Belawan. Likuifaksi adalah suatu peristiwa berubahnya sifat tanah dari keadaan padat menjadi keadaan cair, yang disebabkan oleh beban siklik pada waktu terjadi gempa sehingga tekanan air pori meningkat, mendekati atau melampaui tegangan vertical. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simplified procedure yang diusulkan oleh Seed dan Idris (1971). Dengan metode tersebut dihitung nilai factor keamanan (FS) dengan membandingkan nilai Cyclic Resistensi Ratio (CRR) yang merupakan kekuatan tanah terhadap terjadinya likuifaksi dengan nilai Cyclic Stress Ratio (CSR) yang merupakan tegangan geser yang ditimbulkan olehngempa bumi. Dari hasil perhitungan yang dilakukan berdasarkan tujuh titik pengeboran SPT, dalam keadaan tanah asli sebelum dilakukan perbaikan tanah dapat disimpulkan bahwa Kawasan Medan Belawan cenderung mengalami likuifaksi. Hal ini dikarenakan dari tujuh titik pengeboran yang diuji. hanya satu titik yang tidak mengalami likuifaksi yaitu titik BH-3. Kata Kunci: Gempa Bumi, Cyclic Stress Ratio (CSR), Cyclic Resistance Ratio (CSR), Factor    Keamanan (FS).AbstractThe purpose of this study was to determine the potential for liquefaction that occurred at the SPT test point in the Medan Belawan area. Liquefaction is an event that changes the nature of the soil from a solid state to a liquid state, which is caused by a cyclic load during an earthquake so that the pore water pressure increases, approaches or exceeds the vertical stress. The method used in this study is the simplified procedure method proposed by Seed and Idris (1971). With this method, the value of the safety factor (FS) is calculated by comparing the value of the Cyclic Resistance Ratio (CRR) which is the strength of the soil against liquefaction with the value of the Cyclic Stress Ratio (CSR) which is the shear stress caused by the earthquake. From the results of calculations based on seven SPT drilling points, in the original state of the soil prior to soil improvement, it can be concluded that the Medan Belawan area tends to experience liquefaction. This is because of the seven drilling points tested. only one point that does not experience liquefaction, namely point BH-3. Keywords: Earthquake, Cyclic Stress Ratio (CSR), Cyclic Resistance Ratio (CSR), Safety Factor (FS).
KAJIAN POTENSI LIKUIFAKSI LAPISAN TANAH MENGGUNAKAN METODE KORELASI EMPRIS NILAI CSR DAN CRR Rasdinanta Tarigan
Jurnal Darma Agung Vol 30 No 1 (2022): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Darma Agung (LPPM_UDA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/ojsuda.v30i1.1404

Abstract

Indonesia merupakan negeri yang rentan akan terjadinya gempa bumi. Hal ini terjadi karena Indonesia terletak di antara lempeng Australia, lempeng Eurasia dan lempeng pasifik. Selain itu juga Indonesia merupakan gugusan gunung berapi di dunia sehingga termasuk dalam cincin api pasifik. Likuifaksi merupakan fenomena dimana tanah kehilangan banyak kekuatan (strength) serta kekakuannya (stiffness) dalam waktu yang pendek. Tanah berkontraksi pada saat timbulnya beban siklik yang terjadi akibat goncangan gempa, sehingga tekanan air pori meningkat mendekati ataupun melampaui tegangan normalnya. Agar bangunan stabil berdiri di atas permukaan tanah, maka lapisan tanah tersebut harus aman terhadap bahaya likuifaksi. Kajian potensi likuifaksi ini berdasarkan nilai faktor keamanan (FS) dengan dengan membandingkan nilai Cyclic Resistensi Ratio (CRR) yang merupakan tahanan atau kekuatan tanah terhadap terjadinya likuifaksi dengan nilai Cyclic Stress Ratio (CSR) yang merupakan tegangan geser yang timbul pada saat terjadinya gempa bumi. Nilai faktor keamanan (FS) terkecil yang diperoleh pada penelitian ini di bore hole 3 (BH3) pada lapisan 7.50 – 10.00 dengan dengan nilai FS = 1.241 > 1 pada magnitude 8,5 SR. Nilai faktor keamanan (FS) lapisan tanah tersebut sudah mendekati ambang batas aman, meskipun masih aman terhadap bahaya likuifaksi.
Study of Residual Soil Permeability Coefficient Post Addition of Coal Fly Ash Tarigan, Rasdinanta; Parman; Harahap, Muhammad Ari Subhan
International Journal of Research in Vocational Studies (IJRVOCAS) Vol. 3 No. 4 (2024): IJRVOCAS - Special Issues - International Conference on Science, Technology and
Publisher : Yayasan Ghalih Pelopor Pendidikan (Ghalih Foundation)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53893/ijrvocas.v3i4.103

Abstract

Residual soil is soil that is often used as barrier cover soil at the closure of B3 waste storage facilities. This is because the shear strength of the soil is quite good. The minimum value of the soil permeability coefficient (k) for barrier hoods at the closure of B3 waste storage facilities is 10-7 cm/sec. Many residual soils have a soil permeability coefficient (k) of less than 10-7 cm/sec. Because the dominant compound in coal fly ash is silica, mixing this fly ash with residual soil can reduce the value of the soil permeability coefficient (k) and is also expected to increase the shear strength value of the soil. In this study, residual soil samples were mixed with fly ash at 5%, 10%, 15%, 25% and 35% of the dry weight of the soil. This research aims to determine the effect of adding fly ash on the parameters of dry density, shear strength and soil permeability. The tests carried out were standard proctor testing, direct shear test, and Falling-Head permeability testing. The residual soil used in this research came from Hamlet I, Bintang Meriah Village, Pancur Batu District, Deli Serdang Regency. Based on standard proctor testing, the maximum density (gd max) of original soil is 1,410 gr/cm3. The largest maximum density (gd max) was obtained when adding  15% fly ash, namely 1.471 gr/cm3. In the direct shear test, the original soil cohesion value was 0.024 kg/cm² with an internal shear angle of 37.96º. In the variation of adding 15% fly ash, the cohesion value was 0.131 kg/cm² with an internal friction angle of 53.08º. Based on the Falling-Head permeability test, the original soil permeability coefficient value was 1.98 x 10-6 cm/s. The permeability coefficient value for variations in adding 15% fly ash was obtained at 8.02 x 10-8 cm/s.
Penambahan Fasilitas Pembelajaran Untuk Mendukung Kurikulum Merdeka di SMK Swasta Putra Jaya Kota Stabat Sumatera Utara Sundawa, Bakti Viyata; Tarigan, Rasdinanta; Harahap, Muhammad Ari Subhan; Parman, Parman; Faisal Lubis
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2024): Edisi Desember
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/komposit.v2i2.1955

Abstract

Sistem pendidikan Indonesia telah bergerak maju dengan digulirkannya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Pada pendidikan menengah juga telah mengalami perubahan kurikulum atau yang disebut dengan kurikulum merdeka. Kurikulum ini mengusung 60% Praktik di bengkel/workshop dan 40 % belajar teori di kelas. Pihak sekolah secara perlahan telah berusaha membangun fasilitas untuk mendukung kurikulum merdeka tersebut. Masih banyak sekolah yang kewalahan dan butuh dukungan dari seluruh stakeholder pendidikan. Melalui kegiatan yang telah dilaksanakan bersama mitra dari SMK Swasta Putra Jaya Stabat, secara langsung akan mendukung pelaksanaan kurikulum merdeka di sekolah-sekolah. Pada kegiatan ini, Tim POLMED akan memberikan pelatihan Bahasa Jepang kepada para siswa untuk memperkenalkan Bahasa Jepang sejak awal pendidikan. Hal ini disebabkan oleh mitra telah menjadi penyalur tenaga kerja ke Jepang secara reguler. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan modul praktikum berupa perangkat absensi, dan penambahan kapasitas jaringan internet. Kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan dan kompetensi para siswa agar bisa menang bersaing secara global.
Peningkatan Kemampuan Literasi dan Kegiatan Kerohanian Bagi Siswa SD Swasta YP HKBP Pulo Brayan Kota Medan Sumatera Utara Tarigan, Rasdinanta; Batubara, Febrin Aulia; Amrizal; Hartika, Lia; Sundawa, Bakti Viyata
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2024): Edisi Desember
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/komposit.v2i2.1958

Abstract

Dunia pendidikan telah mengalami perubahan pada saat pandemi dan pasca pandemi Covid-19. Walaupun pandemi sudah mereda, namun perubahan kebiasaan kearah penggunaan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar (PBM) masih dilakukan. Pada saat ini, PBM dilaksanakan secara blended antara luring dan daring. Hal ini membutuhkan suatu jaringan internet yang memadai. Banyak sekolah yang belum mampu menyediakan fasilitas internet dengan memadai, padahal banyak prestasi-prestasi siswa yang sudah dicapai dari sekolah tersebut. Kemampuan siswa harus ditingkatkan melalui penguatan kemampuan literasi mereka. SD Swasta YP HKBP Pulo Brayan sebagai mitra kegiatan belum memiliki jaringan internet di sekolah. Sementara untuk meningkatkan literasi bagi para siswa dibutuhkan suatu jaringan internet. Untuk itu, kegiatan ini harus didukung dengan cara menambah jaringan internet, menambah pojok-pojok baca, menambah koleksi buku-buku, dan mengadakan sound system untuk mendukung program unggulan kerohanian. Hal ini semua untuk meningkatkan kemampuan/literasi siswa agar bisa berprestasi secara regional dan nasional.
Effectiveness of Using Wire Rope Slings in Improving the Stability of Cantilever Retaining Walls Tarigan, Rasdinanta; Parman; Harahap, M. Ari Subhan; Amrizal
International Journal of Research in Vocational Studies (IJRVOCAS) Vol. 4 No. 4 (2024): IJRVOCAS - Special Issues - International Conference on Science, Technology and
Publisher : Yayasan Ghalih Pelopor Pendidikan (Ghalih Foundation)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53893/ijrvocas.v4i4.381

Abstract

A slope is a land surface that slopes and forms a certain angle to a horizontal plane. In a place where there are two land surfaces of different heights, there will be forces that push so that the higher ground tends to move downwards which is called the potential force of gravity which causes landslides. Landslides on a slope can cause loss of life and property and can hamper the economy of an area. Cantilever walls are often used as retaining walls to avoid landslides. The cost used in the construction of cantilever wall retaining walls is quite expensive. For cost efficiency of the cantilever wall construction, it is necessary to use cantilever wall reinforcement using wire rope sling. In this study, cantilever wall retaining walls were modelled with or without the use of wire rope slings. The research location is Jl. Gelugur Rimbun, Ps x Kutalimbaru Kab. Deli Serdang. Based on the results of laboratory testing, the soil classification at the location is clay (CL). According to the analysis, the use of wire rope slings contributes to an increase in the factor of safety (FS) of overturning by 12.500% - 50.026%. While increasing the factor of safety (FS) sliding by 4.165% - 16.627%. An increase in the factor of safety (FS) bearing capacity of 17.222% - 36.109%. The greatest effect of the use of wire rope slings occurs in overturning stability by 50.026%. The use of wire rope slings can reduce the dimensions of cantilever retaining walls.