This Author published in this journals
All Journal Humaniora
Hans J. Daeng
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Reba, Tahun Baru Adat Orang Bajawa Hans J. Daeng
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.358 KB) | DOI: 10.22146/jh.1911

Abstract

Perayaan tahun baru tradisional pada sub-kelompok etnlk Bajawa disebut reba. Perayaan reba tentu bukan ada dengan sendirinya, me1ainkan terikat pada berbagai latar belakang peristiwa pendukung adanya perayaan reba.Reba berpangkal mula dari satu keluarga petani yang hidup dari bertanamubi, Discorea Alata. Pada suatu hari ketika menggali ubi, Discorea Alata, atau uwi ditemukan ubi ajaib. Uwi itu demikian panjangnya, sehingga harus digali sangat dalam sebelum menemukan ujung ubi. Diperkirakan telah terjadi suatu hal yang ajaib, pemberian leluhur dan dewa. Karena keanehannya, setiba di kampung ubi diarak berkeliling penuh kegembiraansebagai rasa syukur dan terima kasih.
UPACARA PERALIHAN PADA MASYARAKAT NAGE KEO Hans J. Daeng
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1355.246 KB) | DOI: 10.22146/jh.2024

Abstract

Keberadaan dan masa depan suaru masyarakat biasanya dipersiapkan dengan teliti dan saksama oleh suatu masyarakat melalui pranata-pranata sosial yang ada. Hal itu dilaksanakan dengan menggembleng individu-individu untuk menjadi anggota yang baik dan bertanggungjawab dalam masyarakat. Pandangan dan pendirian tidak saja dipertahankan pada masyarakat suku bangsa yang diidentikkan dengen tradisional melainkan juga pada masyarakat modern. Masyarakat Nagekeo adalah masyarakat yang berdiam di mantan zellbesturende landschap atau radjaschap yang berada di bawah kekuasaan seorang radja yang diangkat berdasarkan Korte Verklanng semasa penjajahan dahulu. Kini mantan ullbesturende landschap atau radjaschap Nagekeo itu bersama radjaschap-radjaschap Ngada dan Riung membentuk Daerah Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Nagekeo terdiri atas beberapa daerah Kecamatan ialah Boawae, Mauponggo dan Aesesa. Masyarakat Nagekeo adalah masyarakat agraris. Masyarakat Nagekeo mengenal pembagian masyarakatnya ke dalam golongan bangsawan, golongan menengah dan golongan hamba. Golongan bangsawan disebutmosa tana laki watu atau tuan tanah, ialah ket urunan cikal bakal yang sekaligus menguasai suatu daerah yang luas: golongan menengah adalah keturunan orang bebas, mereka yang bukan kerurunan dan menjadi milik golongan bangsawan; golongan hamba adalah mereka yang merupakan keturunan dari orang-orang menjadi budak/hamba golongan mosa tana laki watu. Pada masyarakat Nagekeo berlaku garis kerurunan yang patrilineal dan patrilokal.