Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Karakterisasi Kayu yang Difungsikan sebagai Pasak Baru pada Pemugaran Perahu Kuna di Situs Punjulharjo, Rembang Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v11i1.170

Abstract

Pada tahun 2008, perahu kuna terbuat dari bahan kayu ditemukan di Desa Punjulharjo Kabupaten Rembang. Perahu selesai direkonstruksi pada tahun 2014 dan dilanjutkan dengan programkonservasi sampai dengan tahun 2017. Pada saat pelaksanaan rekonstruksi, seluruh pasak yang berbahan kayu kuno diganti dengan pasak baru berbahan kayu baru. Penggantian dilakukan tanpa didahului dengan studi diagnostik pasak kayu sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sehingga upaya mempertahankan orisinalitas jenis tidak diperhatikan. Pemerintah Republik Indonesia akan membangun Museum Maritim Nasional di situs Punjulharjo pada tahun 2017. Karakterisasi kayu yang difungsikan sebagai pasak baru sangat diperlukan sebagai data yang dapat diperankan sebagai sumber informasi bagi kepentingan museum tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentikasi jenis, sifat-sifat kayu serta kualitas kayu baru yang difungsikan sebagai pasak. Bahan penelitian ini adalah kayu lebihan dalam pembuatan pasak yang disimpan oleh kepala tukang rekonstruksi. Penelitian penentuan jenis kayu dilakukan dengan metode identifikasi makroskopis. Sifat sika dan mekanika kayu ditentukan dengan metode British Standard 373. Kualitas kayu ditentukan berdasarkan berat jenis dan kekuatan tekan kayu. Klasikasi kualitas kayu berdasarkan berat jenis dilakukan dengan mengikuti metode Seng (1964), sedangkankekuatan tekan sejajar serat dilakukan dengan mengikuti Anonim (1976). Hasil penelitian menyimpulkan empat hal. Pertama, jenis kayu adalah pilang (Acacia leucophloea Wild). Kedua, berat jenis kayu kering udara adalah 0,82. Ketiga, keteguhan tekan sejajar serat 778 kg/cm2. Keempat, peringkat kelas kualitas adalah kelas I-II, sehingga kayu ini berstatus sebagai kayu yang sangat baik sampai dengan baik.
KARAKTER DAN KUALITAS GONDORUKEM KUNA HASIL PENEMUAN DI PEMUKIMAN PECINAN KUTOARJO KABUPATEN PURWOREJO Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i2.188

Abstract

Pada 26 April 2016, wajan raksasa kuna berukuran besar yang berisi benda padat transparan ditemukandi kawasan Pecinan Kutoarjo Kabupaten Purworejo. Hasil pengamatan sementara di lapangan benda padattersebut adalah Gondorukem. Ciri-ciri dan kualitas Gondorukem serta latar belakang dihasilkannya benda tersebutmerupakan kasus yang menarik untuk dikaji.Bahan yang diposisikan sebagai objek penelitian adalah gondorukem kuna hasil penemuan di Kecamatan Kutoarjo.Kualitas gondorukem dan sifat-sifatnya ditentukan berdasarkan parameter: warna, titik lunak, nilai komponenmudah menguap, dan nilai bilangan asam. Secara berurutan, masing-masing parameter itu ditentukan denganmetode: Lovibond Comparator, SNI 7636: 2011, penguapan, serta RSNI3 7636: 2010 dengan titrasi kaliumhidroksida. Pengujian dilakukan dengan ulangan sebanyak tiga kali. Prediksi jenis industri yang beroperasi padamasa silam dilakukan dengan metode interpretasi berbasis analisis relasional.Hasil penelitian menyimpulkan empat hal. Pertama, benda kuna hasil temuan adalah gondorukem. Kedua,gondorukem ini berkelas mutu yang diberi kode huruf I dengan peringkat ke-10 dari 15 peringkat yang tersedia.Ketiga, gondorukem kuna memiliki sifat nilai titik lunak yang wajar, kadar komponen menguap pada peringkatyang tinggi, serta nilai bilangan asam pada peringkat yang rendah. Keempat, keberadaan gondorukem kuna yangsoliter dan murni di dalam wajan berdiameter 270 sentimeter dengan kedalaman cekungan 90 sentimeter yangberada di atas tungku terbuat dari batu merah mengindikasikan adanya kegiatan industri pengolahan getah pinusmenjadi produk gondorukem pada masa silam di kawasan Pecinan di Kecamatan Kutoarjo.