Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Effect of Site Class, Tree-age and Axial Direction on Adhesion Properties of Teakwood Tibertius Agus Prayitno; Yustinus Suranto; Rieska Wahyu Indra Pratama; Dasta Dasta
Wood Research Journal Vol 4, No 2 (2013): Wood Research Journal
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51850/wrj.2013.4.2.62-67

Abstract

Teak wood is a well-known prime wood species in Indonesia. The teak forest had been managed well by PERHUTANI, a state forest company for a long time. In the teak forest the site quality has been classified according to land’s capability to grow the teak plant. This site classification had been set up from the beginning of forest management and it has not been reviewed yet. This research’s objectives are to know the effect of teak forest site quality class and axial direction on the adhesion properties of the teak wood. The research conducted using Completely Randomized Design arranged in factorial experiment. The first experiment used site quality and axial direction factors, while the second experiment used tree’s age and axial direction. The site quality factor consisted of three levels of site index III, III/IV and IV. The three levels of axial direction of the teak stem were butt, center and top. The tree’s age consisted of three age class of 25, 35 and 45 years. Three teak trees employed as replication. The adhesion properties parameter were wood specific gravity, adhesion compression shear test  and wood failure in both dry and wet condition using block test. The first research result showed that no interaction factor affected in adhesion properties. The teak growing site-class influenced significantly to the wood specific gravity and adhesion shear strength. The more fertile of teak growing site class, the lower wood specific gravity and adhesion strength. The site class of III, III/IV and IV revealed the average wood’s specific gravity of 0.54; 0.50 and 0.47 consecutively. The adhesion strength produced from the three site classes were 41.71; 32.56 and 23.52 kg/cm2 consecutively. The axial direction (from the butt to the top) showed a decreasing trend of wood specific gravity and adhesion strength. The second research showed that tree age affected significantly the wood specific gravity. The wood specific gravity increased from 0.57 to 0.67 and 0.69 produced from tree age of 25, 35 and 45 year old consecutively.
The Effect of Site Class, Tree-age and Axial Direction on Adhesion Properties of Teakwood Tibertius Agus Prayitno; Yustinus Suranto; Rieska Wahyu Indra Pratama; Dasta Dasta
Wood Research Journal Vol 4, No 2 (2013): Wood Research Journal
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51850/wrj.2013.4.2.62-67

Abstract

Teak wood is a well-known prime wood species in Indonesia. The teak forest had been managed well by PERHUTANI, a state forest company for a long time. In the teak forest the site quality has been classified according to land’s capability to grow the teak plant. This site classification had been set up from the beginning of forest management and it has not been reviewed yet. This research’s objectives are to know the effect of teak forest site quality class and axial direction on the adhesion properties of the teak wood. The research conducted using Completely Randomized Design arranged in factorial experiment. The first experiment used site quality and axial direction factors, while the second experiment used tree’s age and axial direction. The site quality factor consisted of three levels of site index III, III/IV and IV. The three levels of axial direction of the teak stem were butt, center and top. The tree’s age consisted of three age class of 25, 35 and 45 years. Three teak trees employed as replication. The adhesion properties parameter were wood specific gravity, adhesion compression shear test  and wood failure in both dry and wet condition using block test. The first research result showed that no interaction factor affected in adhesion properties. The teak growing site-class influenced significantly to the wood specific gravity and adhesion shear strength. The more fertile of teak growing site class, the lower wood specific gravity and adhesion strength. The site class of III, III/IV and IV revealed the average wood’s specific gravity of 0.54; 0.50 and 0.47 consecutively. The adhesion strength produced from the three site classes were 41.71; 32.56 and 23.52 kg/cm2 consecutively. The axial direction (from the butt to the top) showed a decreasing trend of wood specific gravity and adhesion strength. The second research showed that tree age affected significantly the wood specific gravity. The wood specific gravity increased from 0.57 to 0.67 and 0.69 produced from tree age of 25, 35 and 45 year old consecutively.
IDENTIFIKASI KAYU DAN PERANANNYA TERHADAP PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 2 No. 1 (2008): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2401.054 KB) | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v2i1.49

Abstract

-
Orisinalistas Teknologi Pengerjaan kayu pada Pemugaran BCBBK Ditinjau dari Perspektif Ilmu Pemesinan Kayu Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 3 No. 1 (2009): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v3i1.64

Abstract

-
Ilmu Kemunduran Kualitas Kayu dan Peranannya Terhadap Sosialisasi dan Revalitalisasi Teknologi Pengawetan Tradisonal Kayu Yang Terkandung Dalam Kearifan Lokal Budaya Jawa Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 4 No. 1 (2010): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v4i1.80

Abstract

-
Ilmu Tegangan Pertumbuhan Dan Peneresan Pohon Sebagai Satu Wujud Teknologi Kayu Berbasis Kearifan Lokal Budaya Jawa Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 5 No. 1 (2011): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v5i1.88

Abstract

-
Identifikasi Kayu Arkeologis Komponen Tongkonan Situs Buntu Pune Di Tana Toraja Dalam Kerangka Konservasi Dan Pemugaran Cagar Budaya Berbahan Kayu Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v6i1.94

Abstract

Rumah Adat Tana Toraja yang terdiri atas Bangunan Tongkonan dan Alang (BTA) merupakan Bangunan Cagar Budaya Berbahan Kayu (BCBBK). BCBBK bersama kondisi sosial budaya yang unik dan bentang alamnya yang indah telah menempatkan diri sebagai obyek wisata dunia, bahkan diusulkan sebagai Peninggalan Dunia (World Heritage). Undang-undang Negara Republik Indonesia No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya mengamanatkan, BCBBK wajib dilestarikan melalui: pemeliharaan, perawatan, konservasi maupun pemugaran dengan perspektif arkeologis, dengan mempertahankan keaslian: bahan, teknologi pengerjaan, bentuk ukuran-desain, arsitektur, budaya dan situs. Sebagai bagian dari Tana Toraja, BTA situs Buntu Pune telah mengalami konservasi oleh masyarakat dan Pemerintah, c.q Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makasar. Meski demikian, ada komponen bangunan yang mengalami kerusakan akut. Penelitian bertujuan mengidentifikasi jenis kayu yang rusak akut dan agen penyebabnya. Obyek penelitian berupa BTA pada situs Buntu Pune. Metode penelitian meliputi, (1) pengamatan komponen BTA dan (2) mengambil sampel kayu yang rusak dari komponen struktur bangunan (3) pengirisan dengan mikrotom untuk mendapatkan penampang transversal dan. potretnya secara makroskopis serta mengidentifikasi jenis kayu berdasarkan gambar struktur makroskopis. (4) menganalisis agen penyebab kerusakan kayu pada komponen struktur bangunan tersebut. Hasil penelitian menyimpulkan empat hal. Pertama, komponen struktur bangunan yang mengalami kerusakan akut pada tongkonan adalah tiang. Kedua, kerusakan tiang itu disebabkan serangan rayap tanah. Ketiga, identifikasi terhadap kayu rusak yang berfungsi sebagai komponen tiang adalah jenis kayu Casuarina Junghuhniana Miq (sinonim Casuarina montana Leschen ex Miq) dari kelas Casuarinaceae dengan nama perdagangan cemara gunung. Ke-empat, agen penyebab kerusakan kayu sebagai komponen tiang tongkonan adalah rayap tanah.
Evaluasi Berperspektif Orisinalitas Jenis Kayu Terhadap Pemugaran Cagar Budaya Bangunan Alang Pertama Sebagai Komponen Rumah Adat Tana Toraja Pada Situs Nanggala Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i1.102

Abstract

Alang dan Tongkonan merupakan bangunan penyusun Rumah Adat Tana Toraja berstatus Bangunan Cagar Budaya Berbahan Kayu (BCBBK). Bersama keunikan budaya dan keindahan bentang alam, BCBBK menempatkan Tana Toraja sebagai tujuan wisata dunia dan diusulkan sebagai peninggalan dunia (world heritage). Undang-undang Cagar Budaya mengamanatkan pelestarian BCBBK dengan aktivitas: pemeliharaan, perawatan, konservasi dan pemugaran secara arkeologis, yakni mempertahankan keaslian: bahan, teknologi pengerjaan, bentuk-ukuran-desain, arsitektur, budaya dan situs. Alang pertama Situs Nanggala baru saja dipugar oleh masyarakat pemiliknya. Penelitian bertujuan mengevaluasi penerapan prinsip arkeologis pada pemugaran dari perspektif konservasi jenis kayu. Objek penelitian berupa Alang pertama Situs Nanggala kawasan Tana Toraja. Metode penelitian meliputi: (1) pengamatan bangunan alang hasil pemugaran, (2) pengambilan sampel kayu arkeologis bekas komponen alang dan sampel kayu baru penggantinya, (3) mengidentifikasi untuk menentukan jenis kayu arkeologis dan kayu baru, (4) mengkomparasikan jenis kayu baru terhadap jenis kayu arkeologis, (5) mengevaluasi penerapan prinsip arkeologis, khususnya orisinalitas jenis bahan. Hasil penelitian menyimpulkan tiga hal. Pertama, seluruh komponen struktural dan non-struktural alang telah diganti kayu (bahan) baru. Kedua, identifikasi kayu arkeologis dan kayu baru secara berurutan menghasilkan jenis kayu: (a) wanga (Pigafetta filifera Merr) dan wanga bagi tiang, (b) cemara gunung (Casuarina Junghuhniana) dan cemara gunung bagi balok/belandar, (c) uru (Elmerrillia ovalis Dandy) dan tusam (Pinus merkusii Junghuh et de Vries) bagi papan lantai (d) uru dan sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielson) bagi papan dinding, (e) bambu dan seng gelombang bagi penutup atap. Ketiga, pemugaran alang pertama dilakukan tanpa ketaatan penerapan prinsip arkeologis, khususnya orisinalitas jenis bahan.
Pengaruh Konsentrasi Larutan dan Durasi Perendaman terhadap Efektivitas Bahan Konservan Poly Etilen Glikol dalam Pelestarian Cagar Budaya Material Kayu: (Studi Kasus pada Kayu Waru Gunung) Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v9i2.141

Abstract

Indonesia memiliki kekayaan cagar budaya berbahan kayu maritim yang sangat besar. Upaya pelestarian dilakukan dengan secara murni dan diterapkan pada perahu kuna Punjulharjo. Keberadaan PEG yang terbatas dan harganya yang mahal mendorong pencarian bahan konservan lain yang banyak tersedia dan murah harganya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh komposisi campuran urea dan PEG sebagai bahan konservan dan durasi perendaman terhadap efektivitas konservasi kayu waru gunung. Efektivitas konservasi diukur berdasarkan parameter stabilitas dimensi kayu. Penelitian dilakukan dengan prosedur berikut. Empat kelompok contoh uji disediakan, yakni satu kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan. Disediakan tiga macam konservan campuran urea dan PEG 1000 dengan proporsi 10 dan 10 gram (larutan A1), 20 dan 10 gram (larutan A2), serta 30 dan 10 gram (larutan A3). Kelompok contoh uji direndam dalam larutan konservan dengan durasi perendaman masing-masing 1, 3 dan 5 hari. Penyusutan tangensial, radial, ASE tangensial, ASE radial, jumlah retak, dan panjang retak diukur. Data dianalisis dengan rancangan acak lengkap disusun faktorial dan analisis lanjutan dengan metode beda nyata terkecil. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa proporsi bahan konservan mempengaruhi penyusutan tangensial, penyusutan radial, ASE tangensial dan ASE\ radial. Semakin tinggi proporsi urea dalam bahan konservan semakin rendah penyusutan tangensial dan penyusutan radial, dan semakin tinggi nilai ASE tangensial dan ASE radial. Lama perendaman kayu dalam konservan mempengaruhi penyusutan tangensial. Semakin lama durasi perendaman semakin rendah penyusutan tangensial. Interaksi antara proporsi bahan konservan dan durasi perendaman berpengaruh terhadap penyusutan radial dan nilai ASE radial.
Studi Diagnostik Konservasi Tempat Tidur Etnik Madura Koleksi Museum Kayu Wanagama I Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v9i1.163

Abstract

Kayu merupakan bahan yang terbaik untuk digunakan sebagai bahan dalam pembuatan benda-benda budaya, baik berupa benda fungsional maupun benda untuk mengekspresikan rasa seni. Benda-benda budaya mengandung nilai luhur dalam aspek-aspek: budaya, sosial, arkeologi, sejarah, ilmu pengetahuan dan teknologi serta ekonomi. Benda budaya ada yang tersimpan sebagai koleksi museum. Koleksi museum berfungsi sebagai sarana untuk menyelenggarakan pendidikan dalam suasana rekreasi bagi masyarakat dalam rangka menanamkan nilai-nilai luhur budaya dan jati diri sebagai bangsa yang majemuk serta memupuk rasa bangga sebagai warga Negara Indonesia. Nilai dan fungsi koleksi museum diharapkan dapat memberi inspirasi pemunculan suatu pemikiran baru. Keberadaan koleksi museum wajib dipertahankan, apalagi kayu sangat mudah mengalami kerusakan. Konservasi koleksi museum dan benda cagar budaya bahan kayu mencakup konservasi secara preventif dan kuratif dengan tujuan untuk mempertahankan keberadaan koleksi. Salah satu koleksi Museum Kayu Wanagama I adalah mebel yang berupa Tempat Tidur Etnik Madura. Koleksi yang diduga sebagai cagar budaya ini telah mengalami kerusakan pada beberapa komponen, sehingga perlu dilakukan tindakan konservasi secara kuratif. Tindakan konservasi wajib dilakukan dengan mengikuti prosedur tertentu, yakni studi diagnostik konservasi dan pelaksanaan konservasi koleksi. Studi diagnostik konservasi kayu terdiri atas lima tahapan, yaitu (1) deskripsi kondisi koleksi pada saat sebelum dilakukan konservasi, (2) deskripsi koleksi pelaksanaan konservasi koleksi. Hasil penelitian diagnostik konservasi koleksi menyimpulkan empat hal. Pertama, bagian koleksi yang mengalami degradasi adalah komponen gelagar depan bagian bawah dan komponen rusuk. Kedua, kerusakan komponen disebabkan serangan rayap kayu kering. Ketiga, jenis kayu bahan gelagar dan rusuk adalah jati (Tectona grandis Linn). Keempat, komponen galar terbuat dari bambu telah musnah. Berbasis studi tersebut, pemugaran dilakukan dengan mengganti gelagar bagian depan dan rusuk dengan kayu baru yang kualitasnya sama serta mengadakan komponen galar baru yang terbuat dari bambu.