I Wayan Sujana
Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Prateka Sawa Dengan Upacara Ngaben Kanista Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kelurahan Abianbase Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung I Wayan Sujana
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 6 No 1 (2022)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.382 KB) | DOI: 10.37329/jpah.v6i1.1538

Abstract

One element of the aspect ceremonial that has recently received attention in religious activities is the ceremony prateka sawa at the ceremony ngaben kanista during the covid-19 pandemic period in Abianbase Village, Mengwi District, Badung Regency. In the current situation, according to government regulations through the relevant health office, if a person dies from the corona virus, the body is immediately handled by Covid-19 officers and taken to the crematorium. Because it is dangerous and can be contagious. Usually, public hospitals in Badung Regency are brought to the Santa Yana creatorium on Jalan Ahmad Yani Peguyangan or directly taken to the Bebalang Bangli Crematorium. The background of theritual prateka sawa during the covid-19 pandemic not only based on bhisama as the most important reason but also strengthened by socio-religious, cultural and economic reasons. This is accompanied by adaptations to strengthen the achievement of goals, strengthen integration and social control in the form of not daring to violate because of being cursed. Theritual system prateka sawa ritual for the diversity of Hindus in Abianbase Village continues with cremation related to the system religious, meaning that there are components such as beliefs, religious emotions, ritual systems, ritual equipment from religious people. These components synergize in a series of processes so as to give birth to the separation of the unification of the spirit into the sublime world with the mention of Dewa Hyang. The ritual of prateka sawa performed by the abianbase community has implications for variations on the abianbase community.
KULKUL SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI SEKAA TRUNA DI BANJAR BELULANG DESA ADAT KAPAL KECAMATAN MENGWI KABUPATEN BADUNG Made Wahyu Widya Nugraha; I Wayan Sujana; I Made Gde Puasa
Cangkal : Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): Mei - Oktober 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Literasi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulkul merupakan media komunikasi tradisional yang masih digunakan oleh masyarakat Bali, khususnya di Banjar Belulang, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Selain berfungsi sebagai penyampai informasi, kulkul menjadi bagian dari sistem komunikasi adat untuk menyampaikan informasi terkait kegiatan adat, sosial, keagamaan, dan organisasi sekaa truna. Namun, perkembangan media komunikasi modern menyebabkan pemahaman generasi muda terhadap fungsi dan pola bunyi kulkul semakin beragam. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemahaman sekaa truna terhadap kulkul sebagai media komunikasi, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman tersebut, serta mengkaji upaya Banjar Belulang dalam melestarikan pengetahuan tentang kulkul. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif interpretatif. Analisis didasarkan pada teori interaksionisme simbolik, teori komunikasi budaya, dan teori transmisi budaya. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Informan dipilih secara purposive, meliputi Kelihan Adat Banjar Belulang, Ketua dan anggota Sekaa Truna Truni, serta Camat Mengwi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sekaa truna memahami kulkul sebagai media komunikasi tradisional untuk menyampaikan informasi kegiatan banjar, tetapi pemahaman terhadap makna pola bunyi kulkul masih beragam; sebagian anggota memahami makna setiap pola pukulan, sedangkan sebagian lainnya hanya mengenali bunyi kulkul sebagai penanda adanya kegiatan. (2) Pemahaman tersebut dipengaruhi oleh penggunaan media sosial, pengalaman berorganisasi di banjar, serta latar belakang pekerjaan dan pendidikan yang memengaruhi tingkat keterlibatan dalam kegiatan adat. (3) Banjar Belulang meningkatkan pemahaman sekaa truna melalui pembinaan dalam paruman, pelibatan aktif dalam kegiatan banjar, dan regenerasi kepengurusan oleh prajuru sebagai upaya pewarisan pengetahuan budaya agar kulkul tetap dipahami dan digunakan sebagai media komunikasi tradisional.