Eka Afrima Sari
Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Persepsi Terhadap Penyakit pada Pasien Hemodialisis di Bandung Sri Hartati Pratiwi; Eka Afrima Sari; Titis Kurniawan
Sehat MasadaJurnal Vol 14 No 2 (2020): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v14i2.136

Abstract

Gagal ginjal terminal yang dialami pasien hemodialisis dapat menimbulkan berbagai perubahan dalam kehidupannya. Persepsi yang positif terhadap penyakit dapat membantu pasien hemodialisis dalam menerima keadaannya dan meningkatkan motivasi untuk menjalankan berbagai tindakan pengobatan. Apabila pasien hemodialisis memiliki persepsi yang negatif terhadap penyakit, maka akan cenderung mudah mengalami berbagai masalah psikologis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi terhadap penyakit pada pasien hemodialisis di Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan kepada pasien hemodialisis di salah satu Rumah Sakit di Bandung. Teknik sample yang digunakan adalah consecutive sampling sebanyak 126 orang. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis dan memiliki tanda-tanda vital yang stabil. Instrumen yang digunakan untuk mengukur persepsi terhadap penyakit adalah kuesioner persepsi penyakit singkat (Brief-IPQ) yang dikembangkan oleh Broadbant, et.al. tahun 2005, dan sudah dilakukan back translate ke dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hemodialisis memiliki persepsi terhadap penyakit yang negatif (50,4%). Sebagian besar pasien merasakan berbagai dampak penyakit terhadap kehidupannya dan mengalami perubahan secara emosional semenjak mengalami gagal ginjal terminal. Persepsi terhadap penyakit yang negatif pada pasien hemodialisis dapat mempengaruhi kualitas hidup, angka kesakitan dan capaian pengobatan yang dijalaninya. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan keluarga dan sosial. Petugas kesehatan khususnya perawat diharapkan dapat memberikan edukasi dan konseling pada pasien hemodialisis untuk meningkatkan persepsi pasien terhadap penyakit.
Community Self-Efficacy of Coronary Heart Disease Based on Characteristic Risk Factors Eka Afrima Sari; Seizi Prista Sari; Sri Hartati Pratiwi
NurseLine Journal Vol 3 No 2 (2018): November 2018
Publisher : Faculty of Nursing, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/nlj.v3i2.8341

Abstract

Coronary heart disease is one of the main causes of mortality rate in the world. This disease is affected by several risk factors. People who have high or moderate risk factors for coronary heart disease should have good preventive behavior, but this also requires a good level of self-efficacy as well, so that the expected behavior can be performed. This study aimed to determine the level of community self-efficacy of coronary heart disease based on characteristic risk factors. This research used a descriptive quantitative approach. Participant consisted of 70 people in Desa Limusgede, West Java, Indonesia acquired through a non-probability technique of purposive sampling. Self-efficacy was measured using a self-efficacy questionnaire (validity value in the range of 0.484 to 0.773 and reliability value 0.862) while risk factor data were determined by age, body mass index, blood pressure, smoking behavior, diabetes mellitus, and physical activity which were referenced by Jakarta Cardiovascular Score. Data were analyzed using median and frequency distribution. The results showed that median (minimum-maximum score) of self-efficacy is 26.00 (11-41), most of the respondent (62.86%) had high self-efficacy of coronary heart disease and more than a half respondent (47.14%) had moderate and high-risk factors for cardiovascular disease. Further, almost half the respondent who had high self-efficacy also had moderate and high-risk factors for cardiovascular disease. So, the health professional must concern in activities to decrease the level of cardiovascular risk factors, such as health education, health promotion, and disease prevention.
GAMBARAN KUALITAS TIDUR PADA PENDERITA HIPERTENSI QUALITY OF SLEEP AMONG HYPERTENSION PATIENTS Putwi Rizki Sakinah; cecep eli kosasih; Eka Afrima Sari
Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Vol 13, No 2 (2018): Media Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.412 KB) | DOI: 10.32382/medkes.v13i2.663

Abstract

AbstractPeople with hypertension experience symptoms of dizziness, headache, obstructive sleep apnea, shortness of breath, nocturia, and restless legs syndrome which disturb sleep and reduce its quality. This research’s objective was to describe the sleep quality overview of Puskesmas Rancaekek’s hypertension patients. Using descriptive quantitative method with purposive sampling technique, this research aimed at 79 Puskesmas Rancaekek’s patients who had been diagnosed with hypertension for at least one month long. The data were collected using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire and analysed using the total score resulted; ≤5 was good while >5 was poor. Results showed 94.6% of respondents had poor sleep quality. The dimensions that contribute to the poor sleep quality included >30 minutes sleep latency, <5 hours sleep duration, <65% of sleep efficiency, sleep disturbance due to waking up at midnight or early morning and waking up to toilet, and activity disturbance at daylight. The conclusion was that Puskesmas need to develop preventive and promotive efforts to minimize the complication of hypertension patients and optimize their quality of life by helping them improve their quality of sleep. Meanwhile, the self-management that should be done by the patients were avoiding the consumption of coffee and cigarettes, limiting physical activities, and doing physical exercise and relaxation therapies. Key Words: Hypertension, Sleep Quality, PSQI  AbstrakPenderita hipertensi mengalami gejala pusing, nyeri kepala, obstructive sleep apnea, sesak napas, nokturia, restless legs syndrome yang mengganggu tidur dan berdampak pada kualitas tidur serta mempengaruhi kualitas hidup dan tekanan darah. Penelitian bertujuan untuk melihat gambaran kualitas tidur pada penderita hipertensi di Puskesmas Rancaekek. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling sebanyak 79 penderita hipertensi di Puskesmas Rancaekek yang telah didiagnosis dokter minimal 1 bulan. Pengambilan data menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan dianalisis menggunakan total skor, jika skor ≤ 5 baik dan skor > 5 buruk. Hasil menunjukan 94,6% responden memiliki kualitas tidur buruk. Dimensi yang berkontribusi terhadap kualitas tidur buruk yaitu latensi tidur tidak dapat tertidur dalam waktu 30 menit, durasi tidur <5 jam, efisiensi kebiasaan tidur <65%, gangguan tidur karena terbangun tengah malam atau pagi sekali dan terbangun karena ingin ke toilet, serta gangguan aktivitas pada siang hari. Puskesmas perlu mengembangkan upaya preventif dan promotif untuk meminimalisir komplikasi penderita hipertensi dan pencapaian kualitas hidup optimal salah satunya dengan membantu meningkatkan kualitas tidur. Dengan mengedukasi penderita untuk menghindari konsumsi kopi dan rokok, membatasi aktivitas fisik, melakukan latihan fisik, dan terapi relaksasi. Kata Kunci: Hipertensi, Kualitas Tidur, PSQI
Pasien Paska Stroke Pada Fase Subacute: Informasi Yang Dibutuhkan Sri Hartati Pratiwi; Eka Afrima Sari; Ristina Mirwanti
Malahayati Nursing Journal Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.474 KB) | DOI: 10.33024/mnj.v4i2.5901

Abstract

ABSTRACT: POST STROKE PATIENTS IN THE SUBACUTE PHASE: INFORMATION REQUIRED Introduction: Post-stroke patient care in the subacute phase is carried out independently by the patient and family at home. Post-stroke patients must have adequate knowledge to carry out self-care at home. The lack of information obtained by post-stroke patients can affect the patient's ability to carry out self-care so that his health status decreases. Therefore, nurses as educators must be able to provide information according to the needs of post-stroke patients.Purpose: This study was conducted to determine the information needs of post-stroke patients in the sub-acute phase so that the nursing care provided is in accordance with the patient's needs.Method: This study is a quantitative descriptive study conducted on post-stroke patients at the Neurology Polyclinic, one of the hospitals in Bandung. The sample technique used was consecutive sampling as many as 83 people. The inclusion criteria of post-stroke patients in this study were having full awareness and not experiencing aphasia. The instrument used in this study was based on the concept of the needs of post-stroke patients Kevitt (2009) and Moreland (2009) with a validity coefficient of 0.73 and an r of 0.75.Result: The information needs of post-stroke patients in a row include information about self-management to prevent recurrence or stroke recurrence ( = 1,59), nformation about nutrition that must be taken ( = 1,54), information about risks and side effects of treatment ( = 1,49), information about certainty of disease condition ( = 1,48), and information about stroke   ( = 1,45).Conclusion: Post-stroke patients need all information related to stroke, especially regarding self-management. Therefore, health workers are expected to provide education according to patient needs. Education for stroke patients can be done using various media and focuses on the patient. Keywords: Informations needs, Subacute, Stroke Patients         INTISARI: PASIEN PASKA STROKE PADA FASE SUBACUTE: INFORMASI YANG DIBUTUHKAN Latar Belakang: Perawatan pasien post stroke pada fase subacute dilakukan secara mandiri oleh pasien dan keluarga di rumah. Pasien paska stroke harus memiliki pengetahuan yang adekuat untuk menjalankan perawatan diri di rumah. Kurangnya informasi yang didapatkan pasien paska stroke dapat mempengaruhi kemampuan pasien menjalankan perawatan diri sehingga status kesehatannya menurun. Oleh karena itu, perawat sebagai edukator harus mampu memberikan informasi sesuai kebutuhan pasien paska stroke.  Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan informasi pasien paska stroke pada fase subacute agar asuhan keperawatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien.Metoda Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan kepada pasien paska stroke di Poliklinik Saraf dua Rumah Sakit di Bandung. Teknik sample yang digunakan adalah consecutive sampling sebanyak 83 orang. Kriteria inklusi pasien paska stroke dalam penelitian ini adalah memiliki kesadaran penuh dan tidak mengalami aphasia. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan konsep kebutuhan pasien paska stroke khususnya bagian kebutuhan informasi yang dikembangkan oleh Kevitt (2009) dan Moreland (2009) dengan koefisien validitas 0,73 dan r 0,75.Hasil: Kebutuhan informasi pasien paska stroke secara berturut-turut diantaranya adalah informasi mengenai manajemen diri untuk mencegah kekambuhan atau stroke ulang ( = 1,59), informasi mengenai nutrisi yang harus dijalani ( = 1,54), informasi mengenai resiko dan efek samping pengobatan ( = 1,49), informasi mengenai kepastian kondisi penyakit ( = 1,48), dan informasi mengenai penyakit stroke ( = 1,45).Kesimpulan: Pasien paska stroke membutuhkan semua informasi yang berkaitan dengan stroke khususnya mengenai manajemen diri. Oleh karena itu, petugas kesehatan diharapkan dapat memberikan edukasi sesuai dengan kebutuhan pasien.  Edukasi pada pasien stroke dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai media dan berfokus pada pasien. Kata Kunci : Kebutuhan informasi, Pasien Stroke, subacute
Laporan Aktivitas Perawatan Diri Pasien Hipertensi di Kota Bandung Eka Afrima Sari; Sri Hartati Pratiwi
Malahayati Nursing Journal Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.533 KB) | DOI: 10.33024/mnj.v4i2.5885

Abstract

ABSTRACT: REPORTS OF SELF-CARE ACTIVITIES OF PATIENT’S WITH HYPERTENSION IN BANDUNG CITY Introduction: Hypertension can be controlled by self-care. Self-care is an effort that can be done by both hypertensive patients and the patient's environment to prevent complications and improve the quality of life.Purpose: This study aimed to identify reports of self-care activities by hypertensive patients. Method: It used a descriptive quantitative approach  Participants consisted of 115 people with hypertension in primary health care, acquired through purposive sampling with inclusion criteria was aged > 18 years old and in the treatment of hypertension. Reports of self-care activities were measured using a Self-Reported Self-Care Activities on the Hypertension Self-Care Profile Instrument. Data were analyzed using frequency distribution.Results: The results showed that as many as 52% of patients also measure blood pressure besides time to control in primary health care but do not record blood pressure readings regularly (87.83%), as many as 59.13% of patients measure weight regularly but do not record weight readings regularly (96.52%), patient’s do not keep a food diary (99.13%), the patient’s do not use any mobile apps to maintain a healthy lifestyle (86.96%), and as many as 80.87% of patients were never reduced by their doctor’s dose of medicine.Conclusion: This condition shows that self-reported self-care activities are not optimal, so efforts are needed to improve self-care that involves not only patients but also families and health services. Keywords: hypertension, self-reported, self-care activities  INTISARI: LAPORAN AKTIVITAS PERAWATAN DIRI PASIEN HIPERTENSI DI KOTA BANDUNG Latar Belakang: Hipertensi dapat dikendalikan dengan perawatan diri. Perawatan diri pasien hipertensi merupakan upaya yang dapat dilakukan baik oleh pasien hipertensi maupun lingkungan pasien untuk mencegah terjadinya komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Tujuan: mengidentifikasi laporan aktifitas perawatan diri yang dilakukan oleh pasien hipertensi.Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif pada 115 orang pasien hipertensi di Kota Bandung yang dipilih dengan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi usia > 18 tahun dan dalam pengobatan hipertensi. Laporan aktifitas perawatan diri dilihat berdasarkan instrumen Self-Reported Self-Care Actvities pada Hypertension Self-Care Profile Instrument. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi.Hasil: Didapatkan sebanyak 52% pasien memeriksakan tekanan darah selain pada jadwal kontrol di puskesmas namun tidak mencatat hasil pengukuran tekanan darah secara teratur (87,83%), sebanyak 59,13% pasien menimbang berat badan secara teratur namun tidak mencatat hasil pengukuran berat badan secara teratur (96,52%), sebanyak 99,13% pasien tidak menyimpan buku harian yang berisi makanan yang dikonsumsi, sebanyak 86,96% pasien tidak menggunakan aplikasi kesehatan pada handphone untuk menjaga gaya hidup sehat, dan sebanyak 80,87% pasien tidak pernah dikurangi dosis obatnya oleh dokter.Simpulan: Hal tesebut menunjukkan bahwa perawatan diri yang dilaporkan oleh pasien hipertensi masih belum optimal, sehingga diperlukan adanya upaya untuk meningkatkan perawatan diri tersebut yang melibatkan tidak hanya pasien hipertensi, namun juga keluarga dan pelayanan kesehatan. Kata kunci: Hipertensi, Laporan, Perawatan Diri
Pemberdayaan Kader Kesehatan dalam Mengkaji Self-Care pada Pasien Hipertensi Eka Afrima Sari; Ristina Mirwanti; Yusshy Kurnia Herliani
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 4 Agustus 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i4.3996

Abstract

 ABSTRAK Hipertensi merupakan merupakan penyakit kronis yang dapat dikendalikan salah satunya dengan perawatan diri (self-care). Sehingga diharapkan dengan self-care akan meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup. Untuk mencapai keberhasilan dalam mengendalikan hipertensi, diperlukan keterlibatan unsur masyarakat, salah satunya kader kesehatan. Kader kesehatan dapat berperan serta dalam mendampingi dan men-support pasien hipertensi dalam self-care hipertensi. Namun, belum ada program yang secara khusus melatih kader kesehatan dalam mengkaji self-care hipertensi. Sehingga program pengabdian masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan kader kesehatan dalam self-care hipertensi diperlukan guna mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien hipertensi. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan kader dalam mengkaji self-care pada pasien hipertensi. Metode kegiatan berupa pendidikan masyarakat yaitu pelatihan kader kesehatan dalam mengkaji self-care pasien hipertensi. Target dan sasaran pada kegiatan ini adalah kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pasundan Kota Bandung sebanyak 37 orang. Luaran kegiatan ini adalah peningkatan pengetahuan kader dalam mengkaji self-care pada pasien hipertensi. Evaluasi dilaksanakan dengan mengukur pengetahuan kader kesehatan sebelum dan setelah dilakukan pelatihan. Hasil kegiatan didapatkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan (α 0.000) setelah mengikuti pelatihan. Kegiatan pengabdian pada masyarakat berupa pelatihan kader kesehatan dalam mengkaji self-care hipertensi ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan kader kesehatan mengenai hipertensi dan self-care hipertensi. Kata Kunci: Hipertensi, Kader Kesehatan, Self-Care  ABSTRACT Hypertension is a chronic disease that can be controlled by self-care. It is hoped that self-care will improve the health and quality of life. To achieve success in controlling hypertension, it is necessary to involve one element of the community (health cadre). Health cadres can participate in assisting and supporting hypertensive patients in self-care hypertension. However, there is no program that specifically trains health cadres in assessing hypertension self-care. So that community service programs oriented to empowering health cadres in hypertension self-care are needed to prevent complications and improve the quality of life for hypertensive patients. The purpose of this activity is to increase health cadre knowledge in assessing self-care in hypertensive patients. The method of activity is the training of health cadres in assessing self-care for hypertensive patients.  The target of this activity was 37 health cadres in the work area of Pasundan Health Center in Bandung City. The outcome of activities is an increase in cadre knowledge in assessing self-care in hypertensive patients. Evaluation is seen from the knowledge of health cadres before and after training. The result of the activity was that there were differences in knowledge of health cadres (α 0.000) after attending the training. Health cadre training in assessing hypertension self-care is effective in increasing health cadres’ knowledge about hypertension and hypertension self-care. Keywords: Health Cadres, Hypertension, Self-Care
PEMBERDAYAAN KADER KESEHATAN DALAM PENERAPAN SELF-CARE MANAGEMENT DIABETEST MELITUS DI DESA CILELES KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG Eka Afrima Sari; Titis Kurniawan; Sri Hartati Pratiwi
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 3 Nomor 1 April 2020
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v3i1.2558

Abstract

Diabetes mellitus merupakan masalah yang serius dan mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan diikuti peningkatan komplikasi, baik akut maupun kronis. Sehingga diperlukan pengendalian yang baik guna mencegah komplikasi akut dan mengurangi risiko komplikasi dalam jangka panjang. Salah satu upaya pengendalian yang dilakukan adalah self-care management yang bertujuan untuk mencapai pengontrolan gula darah secara optimal serta mencegah terjadinya komplikasi sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien. Untuk mencapai kerberhasilan dalam pengendalian penyakit diabetes mellitus ini, diperlukan keterlibatan dari berbagai unsur masyarakat salah satunya kader kesehatan. Kader kesehatan dapat berperan serta dalam mendampingi dan men-support pasien dengan diabetes mellitus dan keluarga dalam self-care management diabetes mellitus. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan mengenai self-care management diabetes melitus dan meningkatkan kemampuan kader kesehatan dalam melakukan skrining risiko diabetes melitus pada masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berupa pelatihan mengenai self-care management diabetes melitus dan risiko diabetes melitus. Metode yang digunakan adalah ceramah, simulasi, dan diskusi dengan menggunakan media berupa modul pelatihan. Setelah dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, terdapat peningkatan pengetahuan kader kesehatan setelah dilakukan kegiatan pelatihan dan sebagian besar kader kesehatan mampu mengisi formulir pengkajian risiko diabetes melitus dengan benar. Dengan demikian kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader kesehatan mengenai self-management dan skrining risiko diabetes melitus. Sehingga diharapkan kegiatan pelatihan ini perlu dilanjutkan secara berkesinambungan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan kader kesehatan mengenai self-care diabetes melitus serta perlu adanya monitoring yang dilakukan oleh perawat/tim kesehatan mengenai self-care management diabetes melitus.